Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 17


__ADS_3

Daniella pun kembali berdiri tegak dengan memegang bahu Andra. "Huft untung aja kamu pas lewat jadi gak jatuh, makasih ya Andra," ujar nya.


"Iya sama-sama," angguk Andra sambil tersenyum lebar. Tadi wajah mereka cukup dekat, membuat detak jantung nya menjadi cepat.


Laki-laki itu sempat menawarkan akan membantu membawakan barang-barang nya, tapi Daniella tolak dan menyuruh nya kembali ke kelompok saja. Untungnya menurut.


Saat Daniella lihat ke dalam bagasi bus, ternyata barang-barang sudah kosong dan sepertinya teman kelas nya yang membawakan. Ia pun memutuskan cepat ke sana, tidak enak kalau lama datang dan tidak membantu.


"Nah itu Daniella, itu barang-barang kamu tadi kita bawain," kata seorang perempuan berambut pendek.


"Ah iya makasih, sorry ngerepotin," ucap nya.


Terlebih dahulu Daniella menyimpan tas ransel berat nya bersama yang lain di satu tempat. Ia melihat Mia sedang membangun tenda, dan segera menghampiri nya.


"Apa tugas aku?" tanyanya setelah jongkok di sebelah nya.


"Bantu buat tenda aja bareng aku, kamu yang sebelah sana," jawab Mia sambil menunjuk bagian sisi lain.


Dengan senang hati Ia melakukan nya, lumayan pintar juga buat tenda karena sering buat dari kecil pun jika kemah di halaman rumah. Sesekali Daniella melirik Mia, yang terlihat fokus sekali saat bekerja.


Apa temannya itu sudah tidak ngambek lagi ya? Kalau dari nada suaranya tadi sih terlihat biasa, tidak pernah ketus juga dari dalam bus juga. Tidak terbayang kalau tadi Mia lihat Ia dibantu Andra lagi, apa akan ngambek lagi?


"Siapa yang mau ikut aku ambil air?" tanya Tessa, terlihat di kedua tangannya memegang kompan putih tempat air.


Mia lalu melirik Daniella. "Ella kamu temenin Tessa sana, biar aku yang selesain ini," perintah nya.


"Oke." Daniella tidak masalah, Ia pun beranjak dan segera menghampiri Tessa.


Keduanya berjalan dengan riang sambil membawa satu wadah air di tangan masing-masing. Jarak dari tenda mereka ke pusat air lumayan jauh, bahkan katanya nanti tanah nya agak menurun karena di sungai.

__ADS_1


"Wah indah banget ya ternyata di sini," pekik Daniella melihat pemandangan di sekitar. Terlihat di bawah memang ada sungai lebar, sedang di sebrang nya sawah yang besar.


"Iya bener, kita beneran bukan lagi di Jakarta," sahut Tessa membuat keduanya pun tertawa.


Mereka pun dengan hati-hati turun, untung nya tanah di sana kering dan dibuat seperti tangga walau kecil-kecil. Tidak terbayang kalau semisal licin, takut terjatuh. Setelah sampai di bawah, terlihat ada beberapa murid lain juga sedang mengambil air.


Pluk!


Merasakan tepukan pelan di bahu nya, membuat Daniella berbalik dan langsung tersenyum pada orang itu. "Ck kenapa kita sering ketemu gak terduga sih?" tanyanya bingung sendiri.


Andra pun menanggapi nya dengan tawa kecil. "Haha iya bener, suka kebetulan ya. Apa mungkin kita--"


"Loh Andra kamu bawa air juga ya, cuman sendirian?" tanya Daniella memotong.


"Oh iya aku sendirian aja bawa nya, kan kuat," jawab Andra sambil mengangkat sedikit kompan air di kedua tangan nya.


Daniella pun memberikannya jempol tangan sebagai pujian, setelahnya ijin karena harus cepat membawa air lalu kembali ke tenda, pekerjaan masih banyak. Padahal alasan sebenarnya ya tidak mau lama-lama mengobrol dengan Andra.


"Hah? Apaan sih, enggak juga," bantah Daniella.


"Aku kira kamu sudah luluh, habisnya kan dia ngejar kamu dari kelas sepuluh. Hebat juga si Andra itu, sabar banget luluhin kamu," kata Tessa. Berpikir kapan dirinya juga akan di crush in seperti itu.


Daniella hanya tersenyum tidak menanggapi lagi. Tetapi menurut nya Andra itu bodoh, padahal Ia pun sudah tolak beberapa kali dan tidak meminta ditunggu. Masih banyak perempuan lain.


Pasti di luar sana banyak yang mengatainya bodoh atau hanya memanfaatkan Andra. Tetapi perasaan seseorang kan tidak bisa dipaksakan, karena di hati Daniella hanya ada Kai seorang.


"Eh air nya sudah penuh, yuk kita balik," ajak Tessa sambil beranjak dari duduk nya.


Ternyata bersantai di tengah sungai, duduk di atas batu besar sangat menyejukkan. Di Jakarta sangat sulit mencari tempat yang masih menyatu dengan alam seperti ini.

__ADS_1


Saat mereka kembali ke tenda, terlihat ada dua tenda yang sudah berdiri dengan kokoh. Padahal mereka tidak lama pergi. Katanya sekarang mau mempersiapkan untuk makan malam nanti.


"Di sini ada yang bisa masak nasi di tempat begini gak?" tanya Mia pada teman-teman nya. Mereka duduk mengeliling di atas matras.


Untungnya ada dua orang yang tahu, membuat mereka bernafas lega karena tidak akan kerepotan. Tetapi tidak akan masak sekarang karena belum terlalu sore. Mereka akan siap-siap untuk dua perlombaan sebentar lagi.


"Mia, kamu sudah gak ngambek lagi kan?" tanya Daniella menghampiri sahabat nya itu.


Mia yang tadinya sedang melamun menoleh. "Ck siapa juga yang ngambek?" tanyanya ketus.


"Terus kenapa tadi di bus pas berangkat diem mulu?"


"Ya gak papa, cuman lagi gak mood aja. Huft sebel banget, pas malam malah datang haid padahal mau camping. Bener-bener ngerepotin," keluh Mia.


Sekarang Daniella tahu kenapa Mia jadi bad mood, mungkin bukan karena cemburu dirinya dekat dengan Andra, tapi ya di hari pertama datang bulan itu rasanya memang campur aduk.


Ia pun merangkul bahu Mia dan berkata akan menemani nya nanti jika ingin membersihkan pembalut. Mia pun tersenyum dan berterima kasih. Daniella juga memberikan coklat kecil di saku celana nya.


"Aku kira tadi kamu cemberut terus karena lagi cemburu sama Andra," celetuk Daniella di sela kunyahan memakan coklat nya.


"Enggak kok, kenapa juga aku cemburu? Dia kan emang suka sama kamu, jadi pasti senang kalau bantuin kamu," sahut Mia yang jika di perhatikan sorot mata nya menjadi sendu. Berat sekali untuk mengatakan ini.


Daniella lalu kembali menyenggol bahu sahabat nya itu. "Makanya kamu juga usaha dong, deketin dia dan cari perhatian. Jangan terlalu acuh, dia juga gak akan peka kalau kamu selalu ketus," usul nya.


Mia yang dibilang begitu menjadi gelagapan, memang Daniella itu sepertinya tahu sekali jika dirinya memang ada perasaan pada Andra. Tidak terbayang kalau Ia menjadi sok manis saat di dekat Andra.


Tetapi bukankah sikap perempuan pada laki-laki yang disukai memang agak dingin? Agar si laki-laki tidak sadar.


"Sudah ah lupakan itu, mending kita ke lapang yuk lombanya sebentar lagi mau dimulai," ajak Mia lalu melangkah pergi lebih dahulu.

__ADS_1


"Hm pasti lagi salah tingkah," Batin Daniella hanya tersenyum-senyum.


__ADS_2