
Besok harinya Olivia tetap menjalani hari biasanya, yaitu berangkat sekolah. Biasanya jika Ia sedang ngambek selalu berangkat lebih dulu, tapi kali ini entah kenapa ingin menunggu jemputan Dilon. Mereka harus bicara, kemarin benar-benar tidak saling menghubungi sedikit pun.
Olivia melirik jam tangannya entah sudah ke berapa kali, "Ck Dilon mana sih? Biasanya jam segini dia sudah jemput," tanyanya seorang diri.
Apakah pria itu sudah bisa menebak jika Ia akan berangkat lebih dulu seperti biasanya? Makanya hari ini tidak akan menjemputnya. Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Olivia, sepertinya begitu. Dengan terpaksa Ia pun nanti harus nebeng bersama Papanya.
Sepanjang perjalanan Olivia dan Papanya itu tidak mengobrol, hanya tidak mau saja membahas tentang Dilon lagi dan akhirnya malah menjelekkan nya. Kai sendiri sedang tidak enak badan, jadi adiknya itu tidak masuk sekolah. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Olivia pun bisa bernafas lega.
Tetapi sebelum turun, Papa nya malah memanggil namanya, "Olivia, kamu sama Dilon masih pacaran?" tanyanya.
"Iya, memangnya kenapa?" Kenapa Papanya menanyakan itu?
"Ingat ya perkataan Papa kemarin, Papa cuman mau kamu punya pasangan baik-baik dan menyayangi kamu. Jangan sampai terlalu cinta, kamu tetap bertahan dalam hubungan yang tidak baik." Entah apa maksud perkataan Papanya itu, tapi Olivia merasa Papanya tidak merestui mereka lagi?
Dengan raut wajah sedihnya, Olivia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah bersama murid lain. Beberapa kali Ia tidak sengaja menabrak orang lain, sanking terus melamun dan tidak fokus sendiri. Yang Olivia pikirkan sekarang adalah kelanjutan hubungannya dengan Dilon.
Saat masuk ke dalam kelas, sayangnya orang yang dicarinya tidak ada. Entah apa Dilon itu belum datang atau mungkin tidak akan sekolah. Olivia merasa khawatir, tapi merasa gengsi juga untuk menghubunginya. Ia pun terlebih dahulu duduk di kursinya.
Kedatangan kedua sahabatnya, membuat Olivia pun berusaha tersenyum, "Kenapa nih pagi-pagi udah lemes gini?" tanya Syifa.
"Hm gak papa kok, nanti pelajaran tambahan matematika bukan sih? Takut salah bawa buku." Olivia menanyakan itu untuk mengalihkan obrolan, rasanya tidak nyaman jika mereka terus menanyakan perasaannya. Bisa-bisa Olivia akan menangis.
__ADS_1
Untungnya dua sahabatnya itu tidak menanyakan keadaannya lagi dan mereka malah bergosip akan sesuatu. Olivia hanya mendengar saja kali ini, tidak heboh seperti biasanya. Obrolan mereka pun baru terhenti melihat kedatangan guru, dan pelajaran pun dimulai.
Sesekali Olivia selalu melirik ke arah bangku Dilon di belakangnya, pria itu sampai saat ini belum datang juga. Haruskah Olivia telepon nanti? Sepertinya begitu, Ia jangan sama-sama meninggikan ego karena ini untuk kelanjutan hubungan mereka juga.
"Olivia silahkan maju isi nomor sepuluh!" perintah guru wanita itu dengan suara kerasnya.
Tetapi karena tidak mendapat sahutan, membuat guru dan semua murid pun menatap ke arah Olivia. Mereka dibuat bingung melihat Olivia yang sepertinya sedang melamun. Guru itu memggelengkan kepala, berjalan untuk menghampiri muridnya itu.
Saat Ia gebrak mejanya pelan beberapa kali, barulah Olivia pun menatap dirinya, "Olivia, kalau lagi belajar itu di dengarkan dong, jangan malah melamun. Sebentar lagi kamu ujian, gak mau kan ketinggalan sama temen-temen yang lain?" tegur nya.
Olivia meringis pelan, merasa malu karena ketahuan, "I-iya Bu, maaf ya Bu." Saat Ia tatap balik teman-temannya, merasa semakin malu karena diperhatikan juga.
Tidak bisa seperti ini terus, Olivia harus benar-benar menghubungi Dilon nanti dari pada terus kepikiran. Dari kemarin, bukan hari ini saja. Sepertinya Olivia merindukan nya, Ia juga harus minta maaf pada kekasihnya itu dan mengakui kesalahan. Dilon saja bisa, kenapa Ia tidak?
"Olivia, tadi kenapa? Pasti lagi mikirin Dilon ya?" tanya Syifa memulai obrolan, mulutnya terlihat penuh karena sedang mengunyah bakso.
"Iya, kenapa? Kalian ada masalah lagi ya?" sahut Tasya yang ikut penasaran. Mereka jadi sudah bisa peka jika Olivia sudah jadi pendiam begitu pasti sedang ada masalah dengan pacarnya.
Olivia menghembuskan nafasnya berat, "Iya, capek banget ribut terus sama dia," jawabnya.
"Kenapa lagi?"
__ADS_1
Olivia pun memilih menceritakan semua saja pada dua sahabatnya itu, dimulai saat Dilon yang mengantarnya pulang dan Septian malah ada di depan rumahnya. Pria itu mau mengantar dompetnya yang tertinggal, setelah itu bisa ditebak sendiri Dilon marah dan kembali memukuli Septian.
"Parahnya Bokap sama Nyokap gue tahu, dan sekarang mereka kayanya gak terlalu suka lagi sama Dilon. Apalagi Bokap, dia emang gak bilang langsung untuk putus, tapi kata-katanya emang ngarah ke situ," jelas Olivia panjang lebar.
Tasya dan Syifa merasa ikut kepikiran dan bingung harus menanggapi bagaimana, tapi sepertinya kejadian kemarin cukup heboh dan menegangkan. Kasihan sekali Olivia, harus terjebak di antara dua lelaki itu. Begitulah namanya orang cantik, diperebutkan.
Syifa lalu kembali membuka suara, "Sudah hubungin Dilon belum? Atau dia hubungin kamu duluan?"
"Belum, kita sama-sama saling diam, gak biasanya juga Dilon ikutan diemin aku begini," jawab Olivia pelan. Mungkin kali ini pria itu terlanjur kecewa, makanya mendiami nya.
"Ya sudah nanti pulang sekolah langsung ke rumahnya aja, ketemu sama dia dan kalian bicara berdua, selesain masalahnya," ucap Tasya memberikan masukan.
Olivia mengangguk dan akan melakukan itu juga, sudah memikirkannya dari tadi, dari pada Ia menelepon Dilon. Rasanya Ia tidak sabar sekali pulang sekolah nanti, walau agak gugup juga akan bertemu lagi. Semoga saja Dilon tidak menghindarinya.
Merasakan ingin buang air kecil, Olivia pun pamit pada teman-temannya untuk ke toilet terlebih dahulu. Tetapi baru saja membuka pintu, Ia malah melihat Vanessa di dalam yang sedang ber teleponan. Olivia pun menghampiri hanya untuk sekedar menyapa.
"Iya tenang aja, aku gak akan bilang Olivia," ucap Vanessa dengan suara gemasnya.
Mendengar namanya disebutkan, membuat Olivia terkejut dan tidak jadi menyapa Vanessa, "Vanessa, kenapa sebut nama aku? Kamu lagi teleponan sama siapa?" tanyanya penasaran.
Vanessa terlihat terpekik pelan melihat Olivia yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya. Sanking terlalu fokus ber teleponan sampai tidak sadar. Panggilan dari sana pun langsung dimatikan, membuat Vanessa langsung tersenyum kikuk pada Olivia.
__ADS_1
"Vanessa, apa kamu lagi teleponan sama Dilon? Dia bilang apa sama kamu?" tanya Olivia menduga. Lalu maksud perempuan itu tidak akan memberitahu nya apa?