
4 tahun kemudian..
Terlihat seorang perempuan terus menggigiti kuku jarinya, menandakan perasaannya saat ini sedang gelisah. Ya bagaimana tidak takut, saat mendengar kabar tidak mengenakan salah satu keluarganya di Indonesia.
"Kondisi Ayana lemah setelah melahirkan, dokter bilang dia terus keluar darah membuat kondisinya semakin parah."
Hembusan nafas panjang keluar lewat celah bibir Daniella. Sungguh Ia sekarang khawatir sekali dan terus memikirkan keadaan Ayana, kenapa setelah lama tidak mendengar kabar nya malah langsung mendapat kabar buruk begini?
Pegangannya di sisi kursi mengerat saat merasakan pesawat akhirnya turun. Akhirnya Ia sampai juga di Jakarta setelah berjam-jam lamanya perjalanan. Setelah mendapat kabar dari Mamanya itu, Daniella memang memutuskan mempercepat kepulangannya.
Melihat ada Kakak laki-laki nya yang menjemput, Ia pun langsung mendekat dan memeluk nya. "Bagaimana kabar kamu Daniella? Akhirnya kamu pulang juga setelah setahun di sana," tanya Dilon.
"Aku baik Kak, maaf ya soalnya di sana sibuk sekali sedang mempersiapkan skripsi. Apalagi wisudanya bulan depan, jadi aku sedang sibuk-sibuk nya," ucap nya dengan raut tidak enak.
"Hm tidak apa-apa, kami mengerti kok. Yang penting kamu baik-baik saja," sahut Dilon sambil mengusap kepalanya sebentar.
Pria itu lalu berinisiatif membawakan koper milik nya, mereka terlihat berjalan cepat keluar dari bandara karena akan langsung ke rumah sakit. Angin malam terasa menusuk kulit, itu karena sekarang waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari.
"Apa jenis kelamin bayi Ayana?" tanyanya kembali membuka suara merasa penasaran.
"Laki-laki, tapi Kakak belum sempat lihat karena harus jemput kamu," jawab Dilon menoleh sekilas.
Tatapan Daniella menyendu. "Anaknya pasti ganteng, tapi.. Semoga Ayana juga baik-baik saja," sahut nya.
Waktu itu Daniella sempat mendengar kandungan Ayana memang sangat lemah. Dulu Ayana pernah hamil selang beberapa bulan setelah menikah, tapi sayangnya keguguran. Akhirnya dua tahun kemudian bisa hamil lagi, sayangnya kandungannya sangat lemah.
__ADS_1
Setelah itu Daniella tidak mendengar lagi kabar nya, menduga jika rumah tangga Kai dengan Ayana baik-baik saja. Ia sudah tidak berurusan lagi, memiliki kesibukan sendiri. Walau jujur saja, bayang-bayang lelaki itu masih sesekali terlintas di pikirannya.
Sesampainya di rumah sakit itu, keduanya pun langsung berjalan cepat masuk. Nafas mereka sampai tersenggal setelah sampai di lantai dua dan semakin dekat, tapi dibuat bingung melihat Erika yang menangis sambil ditenangkan Olivia.
"Pah?" panggil Dilon pada Aiden menatapnya bingung minta penjelasan.
Aiden terlihat menghembuskan nafasnya kasar lalu mendekat dan menepuk bahunya beberapa kali. "Dokter bilang Ayana.. Dia sudah meninggal dunia."
Daniella membelakan matanya lebar mendengar itu, bagai tersambar petir tidak menyangka sendiri. Ia bahkan hanya diam saja saat Mamanya itu nendekat dan memeluk nya, tangisan Erika malah semakin keras.
"Ella, Ayana hiks!"
Tanpa bisa ditahan lagi, air mata Daniella pun jatuh juga. Ia lalu membalas pelukan Mamanya dan menangis bersama. Mereka semua tentu sedih dan merasa kehilangan sosok Ayana yang seperti bidadari itu.
Sempat Daniella melirik Papa nya Ayana, pria paruh baya itu juga terlihat menangis, tapi berusaha tegar. Aiden di sebelahnya terus menemani dan saling menguatkan. Pasti Papanya itu sedih karena kehilangan lagi cinta nya, setelah istrinya beberapa tahun lalu.
Perhatian semua keluarga teralih melihat pintu ruang rawat di depan terbuka, dan keluar lah Kai yang terlihat menundukan kepala dan berjalan dengan lesu. Tidak lama, dua perawat mendorong brankar. Ada Ayana yang di tutupi kain putih.
"Ayana," panggil Erika lirih, hatinya terasa tersayat. Walaupun Ia adalah keluarga jauh, tapi hubungannya sangat dekat dengan wanita yang satu itu.
Orang tua Kai pun mendekat dan memberikan pelukan penyemangat pada putranya itu. Saat ini lelaki itu pasti sangat butuh senderan, siapa juga yang tidak sedih saat harus kehilangan pasangan hidup.
Daniella yang duduk di bangku panjang hanya diam memperhatikan Kai dengan bibir bawah digigit. Ingin sekali Ia beranjak dan memeluk nya, tapi tidak mau membuat canggung. Lagi pula hubungannya dengan Kai juga sudah tidak sedekat dulu.
Mereka bahkan sudah lost kontak beberapa tahun lalu, Daniella benar-benar ingin move on.
__ADS_1
"Sabar ya Kai, ini adalah ujian dari Tuhan. Dia sudah menakdirkan semuanya. Tidak apa-apa sedih, tapi kamu harus bisa bangkit lagi," ucap Papa Kai menyemangati putranya itu.
Kai pun mengangguk pelan sambil berdehem. Pria itu terlihat tegar sekali, tidak menangis juga di hadapan keluarganya. Ia sudah puas menangis di dalam tadi, sambil memeluk jasad istrinya untuk terakhir kali. Air matanya mungkin sekarang sudah habis.
Tidak sengaja Kai melirik ke arah seorang perempuan, sedikit terkejut melihat kepulangannya. Ia tidak tahu sama sekali Daniella ada di Indonesia, apa baru sampai? Saat pandangan mereka bertemu, Kai malah memutus kontak. Bukan apa-apa, Ia merasa malu jika Daniella melihat wajah sembab nya ini.
"Lalu dimana anak kamu? Kamu sudah memberikan dia nama kan?" tanya Erika menghampiri, sekarang wanita itu sudah tidak menangis lagi.
Kai mengangguk pelan. "Dia laki-laki, namanya Kenzo Reinaldo Pradipta. Marga nya aku ambil dari keluarga Ayana saja," jawab nya.
Nama anak mereka tentu Ia dan Ayana yang menentukan bersama, masih teringat mereka membuatnya di malam hari saat Ayana yang mengeluh tidak mengantuk. Mengingat itu, membuat Kai hanya tersenyum kecut.
Kai lalu menjelaskan jika Kenzo dibawa suster ke ruang khusus bayi, anaknya lahir prematur dengan berat badan kurang. Selain sedih karena istrinya harus meninggal dunia, Kai juga sedih karena anak nya itu juga harus berjuang supaya bisa bertahan hidup.
Tidak terbayang jika Ia kehilangan dua orang tercintanya di waktu hersamaan, mungkin Kai akan gila.
Pluk!
"Kami akan ke ruang jenazah dulu untuk melihat Ayana, kamu di sini saja ya tenangkan diri dulu. Kami juga akan minta dokter untuk urus semuanya, Ayana pasti harus segera dimakamkan," pamit Papa Kai.
Seluruh keluarganya lalu berjalan pergi menuju ruang jenazah, meninggalkan Kai. Tetapi ada satu orang yang tidak pergi, yaitu Daniella. Mereka kembali bertatapan. Dengan memberanikan diri, Daniella berdiri dari duduknya dan mendekati Kai.
"Om aku turut berduka cita, aku bahkan gak nyangka sendiri Ayana secepat itu pergi. Om yang sabar ya. Om juga harus kuat untuk jalanin ke depannya, untuk Kenzo," ucap Daniella sambil dari lubuk hati.
Bukannya mendapat sahutan, Daniella malah tersentak karena Kai mendekat dan memeluk nya. Tubuhnya terasa kaku, membuatnya pun hanya diam tapi membiarkan saja.
__ADS_1
Entah kenapa, pelukan ini terasa hangat dan nyaman. Mereka saling merindukan, sekarang rasa rindu itu sudah terobati.