Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Telah Melanggar Janji


__ADS_3

Olivia terduduk kasar di atas ranjang, sedang Dilon berdiri di depannya dengan tatapan tidak ramah. Apakah pria itu akan memarahinya karena tadi tidak sengaja menguping?


"Dilon aku minta maaf, aku--"


"Gue kan udah bilang tunggu di sini, kenapa malah nyari-nyari ke bawah?" tanya Dilon mengeyela.


"Kamu kan tahu sendiri aku sama Vanessa gak akrab, malah ditinggal berdua di sini. Tadi kita sempet ribut, terus aku milih pergi aja nyari kamu ke bawah," jelas Olivia membela diri.


"Jadi bener tadi lo sempet nguping?"


"Em itu.. Aku gak sengaja aja lewat ruangan itu, terus denger suara kamu. Aku beneran gak ada maksud apapun kok. Maafin aku Dilon." Olivia menggapai tangan Dilon berusaha meluluhkan.


"Ck untung aja tadi Papa gak marah sama lo, kalau marah beda lagi ceritanya!" gerutu Dilon.


Tadi Dilon berdebar sekali, khawatir Papanya memarahi Olivia karena dirinya pun akan kena. Bukan takut dirinya ikut dimarahi, tapi bagaimana jika Papanya malah mengatakan sesuatu yang buruk dan berdampak pada hubungan mereka?


"Tapi Dilon, aku penasaran banget apa yang kamu bicarain sama Papa kamu. Mata-mata sama motor kamu yang dijadiin tebusan, maksudnya gimana sih?" Kini giliran Olivia yang bertanya, merasa penasaran dari tadi.


Bukannya menjawab, Dilon malah pergi dari sana dan sibuk sendiri seperti mencari sesuatu. Olivia pun berdiri mengikuti, menunggu jawaban dari pacarnya itu. Bahkan setelah Dilon duduk di sofa, Ia pun terus mengikuti.


"Dilon kenapa malah main game? Jawab dulu pertanyaan aku," desak Olivia sambil menarik pelan tangan Dilon.


"Pertanyaan apa?" Dilon malah terlihat pura-pura tidak ingat, bahkan sok sibuk dengan game nya.


"Tadi kan aku tanya apa aja yang kamu sama Papa kamu bicarain di sana," ucap Olivia dengan sabar mengulang.


"Bukan apa-apa, gak usah tahu," jawab Dilon berusaha mengelak.


Kalau sampai pacarnya itu tahu dirinya semalam sempat ikut balap liar, bisa gawat. Olivia kan sudah memperingati dirinya untuk jangan pergi, tapi Dilon masih saja melanggar.


"Kok gitu sih? Aku kan penasaran. Papa kamu nyuruh seseorang mata-matain kamu ya?"

__ADS_1


Akhirnya Dilon pun mematikan ponselnya, merasa sudah tidak bisa fokus lagi terganggu dengan suara Olivia. Jika tidak Ia jawab, perempuan itu akan semakin cerewet.


"Dia dari dulu juga emang begitu, padahal gue sempet bilang gak suka diikutin begitu," jawab Dilon dengan helaan nafas berat.


"Memangnya kenapa Papa kamu sampai nyuruh seseorang ikutin kamu? Apa dia khawatir kamu kenapa-napa? Wah Om Aiden berarti sayang banget ya sama kamu," kata Olivia terlalu berpikir positif.


Dilon berusaha menahan tawanya mendengar itu, memang dasar pacarnya ini polos sekali pemikirannya. Papanya mengirim mata-mata tentu saja tahu dirinya selalu bertingkah, tapi Dilon akan menjaga nama baiknya di depan Olivia.


"Ya mungkin? Tapi gue bisa kok jaga diri sendiri," jawab Dilon berbohong.


"Tunggu, berarti semalam juga ada suruhan Papa kamu yang ikutin kita pas nge date? Ya ampun kok aku malu ya? Apa dia laporin apa aja yang kita lakuin di Kafe?" tanya Olivia dramatis sambil memegang pipinya yang perlahan memerah.


Dilon menatap pacarnya itu aneh, "Emangnya apa aja yang kita lakuin di Kafe? Lo lebay banget!" ledek nya.


"Ya kita emang gak aneh-aneh, tapi kan kalau suruhan Papa kamu laporin dengan jelas apa aja yang kita lakuin tetep aja malu," ucap Olivia lalu mengerucutkan bibirnya.


Dilon hanya menggelengkan kepalanya melihat Olivia yang terlalu dramatis begitu, padahal dirinya biasa saja dan tidak terlalu peduli juga. Menurut Dilon untuk hal itu tidak akan sampai dilaporkan pada Papanya, suruhannya itu hanya melaporkan jika Ia melakukan masalah.


"Terus soal motor kamu yang dijadiin tebusan, itu maksudnya gimana?" tanya Olivia membahas topik lain.


Pria itu pikir Olivia akan melupakan topik yang ini, tapi tetap membahas. Padahal yang satu ini cukup berbahaya, karena Dilon pasti akan ketahuan. Dilon pun berusaha berpikir menata kata-kata mencari alasan.


"Memangnya tadi malam kamu kemana? Bukannya cuman kencan kan sama aku? Terus pergi ke rumah temen kamu," tanya Olivia.


"Em iya udah gitu aja," jawab Dilon terlihat tidak meyakinkan.


Tatapan Olivia memicing mulai curiga. Ia pun menarik wajah pria itu untuk kembali bertatapan dengannya, Olivia pun berusaha membaca pikiran Dilon lewat tatapan matanya itu yang terlihat gugup.


"Dilon jawab jujur, aku gak mau kamu bohong," kata Olivia serius.


Bukannya menurut, Dilon malah tiba-tiba mencondongkan wajahnya untuk mengecup bibir Olivia. Senyuman jahil langsung terukir di bibir pria itu, berbeda dengan ekspresi datar Olivia sekarang.

__ADS_1


"Gue udah nahan dari tadi, akhirnya kesampain juga hehe," ucap Dilon sambil tertawa kecil.


"Ck sudahkan? Sekarang jawab pertanyaan aku, kamu tadi malam kemana lagi?"


"Gak ke mana-mana sayang, kamu gak percaya sama aku?"


"Kamu masih bohong, aku bisa baca dari tatapan kamu Dilon. Apa aku telepon aja temen kamu buat nanya dia semalam kamu kemana lagi?"


"Eh jangan dong!" cegah Dilon cepat, tapi segera mengatupkan bibir karena merasa memberikan kode.


"Tuh kan lihat, kamu ketakutan," kata Olivia dengan suara kerasnya, perempuan itu lalu berdiri di hadapan Dilon, "Apa semalam kamu ikut balap liar?"


Melihat Dilon yang lagi-lagi berusaha mengalihkan matanya seperti berusaha mengelak, membuat Olivia menghembuskan nafasnya kasar karena hanya gerak itu saja sudah dapat Ia simpulkan jika tuduhannya benar.


"Aku kan sudah minta kamu jangan pergi, kenapa masih pergi juga? Kamu kayanya emang gak peduli ya sama aku?" tanya Olivia.


Dilon pun ikut berdiri, "Lo ngomong apasih? Masa gue gak peduli sama lo!"


"Itu buktinya, kamu gak dengerin perintah dari aku. Kalau kamu hargai aku, kamu seharusnya bisa turutin perintah aku. Lagian ini juga yang terbaik untuk kamu, bukan untuk aku!"


Nafas Olivia langsung naik turun setelah mengatakan itu dengan suara agak kerasnya. Olivia hanya merasa kesal saja karena ternyata Dilon diam-diam tetap pergi balap liar.


Saat pria itu membawa tangannya, Olivia melepas kasar dan menjauh. Ia membawa tasnya yang di simpan di ranjang, lalu berencana keluar dari sana untuk pulang. Tetapi di ambang pintu, Dilon langsung menghalanginya.


"Olivia denger dulu dong, jangan ngambek dulu," ucap Dilon memohon.


Mendengar itu malah membuat Olivia merasa semakin kesal, "Denger apalagi? Emang bener kan kamu tadi malam pergi ke sana? Kamu juga pasti ikut balapan, dan motor kamu yang jadiin tebusan. Sekarang aku sudah ngerti," katanya.


Dilon terlihat memejamkan mata sejenak, merasa terpojok kan karena memang seperti itu yang sebenarnya terjadi. Olivia ini memang pintar sekali, Dilon kan jadi tidak bisa mengelak lagi.


"Minggir, aku mau pulang!" ucap Olivia.

__ADS_1


"Gue anter ya?" tanya Dilon.


"Mau pakai apa? Bukannya motor kamu itu sudah gak ada sekarang?" Olivia mengatakannya dengan santai sambil tersenyum sinis meledek.


__ADS_2