
"Dasi?" tanya Dilon saat perempuan itu mengajaknya ke tempat dimana banyak dasi dengan berbagai macam warna tergantung.
Olivia mengangguk cepat, "Walaupun hadiahnya biasa dan kecil, tapi aku pikir akan tetap jadi kenangan untuk Om Aiden. Kalau misal saat kerja dia pakai, pasti akan selalu inget kalau itu adalah hadiah dari kamu," ujarnya.
Dilon pun memikirkannya lagi, dan perkataan Olivia sepertinya ada benarnya juga. Ia pun satu langkah maju untuk melihat lebih jelas koleksi dasi yang terpajang itu, ada banyak dan membuatnya pusing sendiri.
Untungnya Olivia pun membantu memilihkan untuk dirinya, seperti biasa selera para perempuan selalu lebih bagus dan Dilon pun setuju-setuju saja saat Olivia memilih satu yang paling bagus dengan warna kalemnya yang bisa di cocokkan dengan berbagai warna jas.
"Terus apalagi?" tanya Dilon setelah membawa dasi itu.
"Hm memangnya kamu mau ngasih banyak untuk Papa kamu? Aku pikir satu saja cukup, Om Aiden juga akan tetap hargain," ucap Olivia memberi masukkan, kalau terlalu banyak kan malah jadi terlalu aneh.
Dilon pun kembali melirik dasi di tangannya, mengusapnya lembut beberapa kali sambil berpikir. Dasi ini memang bagus, bahkan harganya pun sampai satu digit. Kalau memang bagusnya seperti ini saja, ya sudahlah Dilon pun menurut saja.
Mereka pun menuju kasir untuk membayar. Sambil menunggu, Olivia memperhatikan sekitar toko itu. Merasa tertarik pada sesuatu, Ia pun mendekat ke sana untuk melihat lebih jelas. Olivia membawa sebuah sepatu Nike dengan warna yang cerah, terlihat cantik dan keren menurutnya.
"Kenapa? Lo mau beli itu?" tanya Dilon menghampiri.
Olivia menoleh sekilas, "Bukan, cuman ngebayangin aja kalau cowok pakai ini pasti keren," jawabnya dengan senyuman tipis.
"Siapa yang lagi lo bayangin? Pacar lo, oh maksudnya tunangan lo ya? Ya sudah beli aja, terus kirim ke Amerika pakai paket," celetuk Dilon dengan suara ketusnya.
"Ish apaan sih? Kenapa jadi bawa-bawa dia?" tanya Olivia kesal, Ia pun kembali menyimpan sepatu itu kasar di rak lalu pergi dari sana.
Padahal yang sedang Olivia bayangkan itu ya Dilon, apalagi pria itu kan pakai baju apapun selalu terlihat keren. Moodnya pun langsung berantakan, jika sudah membahas Septian pasti selalu kesal sendiri. Olivia pun memutuskan menunggunya di luar.
Tidak lama Dilon kembali sambil menenteng paperbag kecil di tangannya yang sudah pasti berisi dasi. Keduanya pun pergi dari sana dengan memberi jarak dan tanpa mengobrol sedikit pun. Sepertinya Dilon salah sudah membahas itu, mau bagaimana lagi, Ia kan merasa cemburu.
__ADS_1
"Hei mau makan dulu? Jangan salah paham, gue masih punya rasa terima kasih karena lo udah bantuin gue beli kado buat Bokap," kata Dilon menegurnya dengan suara agak keras.
Olivia pun menghentikan langkah kaki, lalu menoleh pada pria itu yang berada beberapa langkah di belakangnya, "Makan dimana?"
"Ya terserah lo mau dimana," ucap Dilon sambil mengedikkan bahu.
Kebetulan tepat di sebelah mereka adalah restoran khusus makanan Jepang, memutuskan makan di sana saja. Olivia juga merasa lapar, apalagi tadi sempat jalan-jalan kesana kemari. Jadi menerima saja tawaran itu.
Mereka pesan berbeda menu, tapi sama-sama makanan berat. Suasana restoran tidak terlalu ramai, malah membuat suasana semakin canggung karena dari awal makan pun tidak mengobrol lagi.
Pluk!
Olivia langsung menatap bertanya pada Dilon yang duduk di depannya, selembar tisu di lemparkan ke depannya, "Apa?"
"Lo ini kelaparan ya? Makan buru-buru banget, sampai belepotan kuah ramen tuh bibir lo. Bener-bener gak ada malunya," kata Dilon dengan nada mengejek.
Dilon dibuat tersenyum tipis mendengar itu, karena berarti Olivia bisa menjadi dirinya sendiri saat bersamanya. Mungkin karena mereka dulu pernah menjalin hubungan juga, sudah tahu kepribadian masing-masing. Jadi untuk apa menjaga image lagi?
Tadinya Dilon sempat terpikirkan untuk menghapuskan saus di bibir Olivia, tapi tahu jika tindakannya itu gila dan malah akan mempermalukan dirinya sendiri. Saat berdua begini, Dilon hampir lupa jika mereka sudah tidak bersama.
Mendengar deringan ponsel di atas meja, membuat Dilon pun repleks melihat ke layar ponsel Olivia. Melihat nama Septian di sana, membuat senyuman di bibirnya pun menghilang. Dilon pun melanjutkan makan seolah tidak peduli.
"Hallo, ada apa?" tanya Olivia pelan sambil melirik Dilon di depannya.
["Aku kangen sama kamu, hari ini kita baru teleponan. Kamu sekarang lagi apa?"] tanya Septian dengan suara beratnya.
"Lagi makan di luar," jawabnya singkat.
__ADS_1
["Sama siapa? Keluarga kamu atau temen kamu?"]
"Temen."
Dilon menarik sebelah sudut bibir nya malah merasa lucu dengan tingkah Olivia saat ber teleponan dengan tunangannya itu, sikap perempuan itu terlihat dingin bahkan tidak mau berterus terang siapa temannya yang sedang menemaninya makan.
Tetapi entah kenapa, perasaannya sedikit membaik mengetahui itu. Dilon pun kembali memperhatikan Olivia yang masih mengobrol dengan Septian. Ia bisa mendengar sedikit percakapan mereka. Sekarang Dilon ingin memastikan sesuatu.
"Hm sudah dulu ya, aku mau lanjut makan lagi." Setelah mengatakan itu, Olivia pun mematikan panggilan mereka.
Saat Olivia mengangkat kepala dan menyadari masih di perhatikan Dilon, membuatnya jadi malu sendiri. Ia pun meminum jusnya untuk membasahi tenggorokannya yang tercekat. Yakin sebentar lagi pria di depannya ini akan mengatakan sesuatu yang menyinggung hati.
"Serius lo ngobrol sama tunangan lo kaya gitu? Bener-bener boring," kata Dilon dengan nada mengejek nya, senyuman sinis pun terukir di bibir nya dan pasti akan membuat tersinggung.
"Ck dasar gak sopan nguping percakapan orang!" dengus Olivia.
"Hei gue serius, tadi lo teleponan sama si Septian kan? Bukannya kalian tunangan, kenapa kaya orang asing gitu?"
Olivia menghembuskan nafasnya kasar lalu menyimpan sumpitnya kasar di atas meja, "Emangnya kenapa? Bukan urusan kamu!" ketusnya. Kesal saja diledeki dari tadi.
"Ya gak papa sih, cuman kaya gak normal aja," sahut Dilon sambil mengedikkan bahunya, tapi seringai di bibir nya masih terukir.
Entah kenapa Dilon merasa semakin penasaran bagaimana hubungan Olivia dengan si Septian itu yang sebenarnya. Ia memang tidak bisa menyimpulkan begitu saja jika kedua orang itu punya hubungan buruk, mungkin saja sekarang mereka sedang marahan. Maka dari itu, Dilon berencana akan melihat ke depannya lagi.
"Aku sudah selesai makannya, ayo pulang," ajak Olivia tanpa menatap karena masih malu. Kenapa juga tadi Septian harus telepon sih? Jadi kan Dilon tahu.
"Oke bentar bayar dulu." Dilon pun memanggil pelayan lagi untuk membayar makanan mereka berdua.
__ADS_1