Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Ingin Di Spesial kan


__ADS_3

Ternyata benar, besoknya Septian terlihat masuk sekolah lagi. Pria itu pun masih menjadi idola beberapa murid perempuan karena ketampanan nya, bisa merubah penampilan dari yang culun menjadi keren dalam sekejap. Tetapi sepertinya kembalinya pria itu, ada seseorang yang tidak menyukai nya.


Olivia yang merasa dirinya dari tadi diperhatikan, membuatnya mengangkat kepala. "Ada apa Dilon? Kamu gak makan?"


"Gak papa, cuman seneng aja lihatin lo," jawab Dilon singkat, lalu Ia pun kembali melanjutkan memakan bakso bakarnya.


"Ayo bilang aja, aku tahu ada yang lagi ganggu pikiran kamu kan?" Olivia menatap dalam pacarnya itu. Mereka sudah bersama lumayan lama, jadi bisa mengerti satu sama lain.


Dilon terlihat menghela nafas berat. "Lo harus tepatin janji ya, jangan lagi deket-deket sama dia. Kalau misal ketahuan lagi berduaan sama dia, gue bakalan buat perhitungan lagi sama dia!" desisnya.


Dia di sini sudah pasti Septian, Olivia bisa langsung menyimpulkan. Ternyata masih ada keraguan di hati Dilon kepadanya, tapi Olivia mengerti, mungkin pria itu takut kehilangannya. Olivia pun mengangguk mengiyakan, Ia juga sudah sadar dan tidak mau membuat masalah lagi.


Olivia jadi ingat lagi kejadian kemarin saat bertemu Septian di perpustakaan kota, juga melihatnya dengan teman-temannya itu. Apa mungkin Septian gabung geng motor itu ya? Olivia tahu sedikit tentang lambang macan tutul di belakang jaket mereka, dari Jakarta Barat.


"Hei kenapa sekarang lo yang diem? Jangan-jangan lo juga lagi mikirin sesuatu?" tanya Dilon sambil melambaikan tangannya tepat di depan wajah Olivia.


"Hah? Enggak kok, tapi aku mau minta sesuatu sama kamu," ujar Olivia dengan senyuman penuh artinya.


"Minta apa? Mau ditemenin shoping lagi?" Biasanya para perempuan suka begitu, kesukaannya ya belanja.


Kepala Olivia menggeleng, Ia lalu tanpa malu membawa sebelah tangan Dilon yang berada di atas meja ke genggamannya. Tatapannya yang dalam itu, membuat Dilon jadi agak gugup, tapi ekspresi nya dibuat tetap santai tidak mau terlihat salah tingkah.

__ADS_1


"Dilon, kita sudah pacaran beberapa bulan. Tapi aku sedih, kamu kaya nganggep aku bukan pacar," ucap Olivia dengan bibir tertekuk ke bawahnya.


Dilon yang mendengar itu tersentak, tanpa sadar mengeratkan genggaman tangan mereka. "Lo ngomong apa sih? Jangan mulai cari bahan berantem ya!" kesalnya.


"Bukan gitu Dilon, tapi panggilan kamu itu loh. Setidaknya harus lebih romantis kek, ini mah dari dulu manggil aku lo-gue, lebih kaya ke temen tahu gak?!" protes Olivia memutuskan mengungkapkan.


Jika sedang di tempat umum kadang Olivia agak malu, karena pasti yang mendengar menganggap mereka hanya berteman. Sikap Dilon selama ini memang romantis, tapi yang selalu membuat Olivia kepikiran adalah panggilannya itu untuknya.


Olivia lalu mengeluarkan satu uneg-uneg nya lagi. "Kamu ke Vanessa aja manggilnya kamu-aku, terus kenapa aku yang pacar kamu sama kaya ke teman-teman kamu?!"


Melihat wajah cemberut Olivia, malah membuat Dilon tersenyum karena merasa gemas. Tetapi Dilon tidak akan menggoda nya, takutnya Olivia malah semakin emosi. Ia lalu mencoba mencolek dagu perempuan itu, tapi Olivia malah menjauhkan diri.


Dilon terlihat menghela nafasnya berat, sepertinya kali ini Ia harus ekstra merayu kekasihnya ini yang sedang manja. Sayang sekali mereka masih di area sekolah, kantin juga sedang ramai jadi Dilon tidak bisa mengekspresikan perasaannya.


Bibir Olivia terlihat berkedut, seperti berusaha menahan senyuman. "Menurut kamu?!"


"Jadi maunya dipanggil sayang ya? Boleh sih, tapi kamu juga harus manggil sayang ya? Dimana pun!" tegas Dilon lalu menyeringai kecil. Ia sih tidak masalah dianggap lebay, apa salahnya saling menunjukkan kasih sayang.


Olivia lalu kembali menatap pria itu, "Pokoknya aku gak mau kamu manggil aku lo lagi, setidaknya kamu gitu. Satu lagi, kamu harus manggil Vanessa jadi lo, gak boleh ada yang sama kaya aku!"


Dilon terlihat agak keberatan melakukan nya, tapi bukan berarti juga Ia memikirkan perasaan Vanessa. Hanya saja Dilon merasa mereka seperti keluarga, dari dulu juga panggilannya sopan begitu. Walaupun begitu, mereka tetap saling menjaga batasan.

__ADS_1


Saat Dilon mengangguk mengiyakan, senyuman cerah langsung terukir di bibir Olivia. Melihat itu, membuat Dilon pun jadi ikut tersenyum. Ternyata mudah sekali membalikan mood perempuan, dan Dilon sebagai lelaki tentu harus bisa peka dan pengertian.


Mereka tidak bisa lama-lama di kantin karena setelah ini jam olahraga. Agak malas karena matahari sedang terik-teriknya, pasti akan gerah juga. Setelah semua murid mengganti pakaiannya dengan baju olahraga, mereka langsung menuju lapangan.


"Tumben si Dilon ikut pelajaran olahraga di luar, biasanya kan dia gak suka," kata Syifa memperhatikan jejeran para lelaki.


Olivia mengangguk pelan. "Aku sih yang nyuruh, habisnya kan sebentar lagi mau ujian, jadi nilai pelajaran harus bagus dan jangan bolos-bolos," ucapnya.


Tasya dan Syifa mengangguk mengerti, Olivia ini memang pawangnya Dilon, pria itu sangat penurut jika pada Olivia. Saat guru Penjas datang, langsung menyuruh mereka terlebih dahulu untuk melakukan pemanasan. Ada satu orang yang memimpin di depan.


Para murid terlihat mulai berkeringat, apalagi matahari sangat cerah dan terik di jam seperti ini. Olivia lalu melirik Dilon yang tidak jauh darinya, tapi Ia malah dibuat bingung melihat wajah pria itu yang jadi agak pucat, tidak seperti tadi.


"Oke selesai, silahkan duduk dulu semuanya, Bapak akan jelaskan dulu untuk pelajaran kita hari ini. Kita akan main voli, nanti akan dibagi menjadi beberapa tim campuran ya. Tapi sebelumnya di sini apa ada yang gak bisa main voli?" tanya guru itu sambil mengangkat sebelah tangannya, dan ada beberapa murid pun yang mengangkat tangan menandakan tidak bisa.


Guru itu pun kembali melanjutkan jika tidak masalah, karena Ia akan mencontohkan terlebih dahulu. Tim pertama akan dimainkan oleh beberapa orang yang memang cukup pandai bermain voli, dan salah satunya adalah Olivia. Dulu di sekolah lama Ia pun aktif di bidang olahraga ini.


Mereka lalu mulai bersiap untuk bermain, sedang para murid yang tidak bermain menonton dahulu di sisi lapangan sambil memperhatikan. Olivia lalu kembali melirik Dilon, pacarnya itu tidak ikut main dan hanya diam di sisi lapangan sambil bersender di tiang dan memejamkan mata.


"Dia gak papa kan?" tanyanya seorang diri. Olivia lalu melihat Dilon yang malah beranjak pergi dengan langkah gontainya, melihat itu membuat Olivia semakin khawatir.


Bug!

__ADS_1


"Aduh!" pekik Olivia terkejut karena bola yang melambung malah mengenai kepalanya. Tidak sakit, hanya membuatnya yang tadi sedang melamun terkejut.


Mendengar teman-temannya malah tertawa, membuat Olivia pun tersenyum kikuk merasa malu sendiri. Guru Penjas pun memerintahkan Olivia untuk fokus, dan Ia pun melakukannya, walau di dalam hati masih khawatir pada Dilon.


__ADS_2