Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal Ku 7


__ADS_3

Besok pagi aktifitas kembali seperti biasa, Daniella sudah bersiap akan berangkat sekolah. Sekarang dirinya sudah kelas dua SMA, masih bisa bersantai karena belum di akhir kelas. Walau begitu, bukan berarti bisa malas-malasan.


"Pagi Mah Pah!" sapanya sambil mengecup pipi orang tuanya bergantian.


Mereka pun membalas sapaannya, setelah itu Ia duduk di kursi yang kosong untuk ikut sarapan. Sambil memperhatikan kedua orang tuanya juga yang sedang makan dengan lahap nya.


"Rumah sepi lagi ya soalnya si kembar udah pulang ke rumahnya masing-masing," ujar Erika dengan helaan nafas berat.


"Iya, mereka cuman nginep di sini sehari soalnya Dilon juga sibuk kerja," sahut Aiden.


Sebenarnya dulu mereka sempat membujuk Olivia dan Dilon itu untuk tinggal di rumah ini saja, itu karena mereka akan merasa kesepian dan terbukti lah benar. Rasanya berbeda saja suasananya jika ada kehadiran si kembar.


Tetapi mereka sebagai orang tua pun bisa mengerti kalau anak-anak mereka butuh privasi dan tidak mau bergantung. Untung nya jarak rumah mereka tidak terlalu jauh juga, jadi bisa sesekali main.


"Daniella nanti sore kamu bakal ada les lagi?" tanya Erika mengalihkan obrolan, tidak mau terlalu galau.


Daniella terlihat memelankan kunyahannya. "Em ada kelas tambahan, jadi kayanya aku bakal pulang agak sore, " jawabnya bohong.


Sebenarnya tidak ada, tapi Daniella ingin pergi mengunjungi Kai dahulu di perusahaannya yang kebetulan tidak terlalu jauh dari sekolah nya. Ia mungkin sering sekali ke sana, karyawan di sana pun sudah mengenal nya.


"Ya sudah nanti kamu telepon Papa saja ya kalau mau pulang," ucap Aiden lalu menyeruput kopinya. Aiden sudah pensiun dari beberapa bulan lalu, dan kini perusahaan diberikan sepenuhnya kepada Dilon-putranya.


Aiden tidak pernah menyangka putranya itu bisa meng-handle tanggung jawab nya itu yang sangat besar. Melihat putranya yang bekerja dengan giat semenjak balikan dengan Olivia dulu, membuat nya perlahan yakin.


Kalau dipikir Olivia itu sepertinya memang jodoh Dilon, buktinya bisa membawa putranya pada kebaikan. Untung saja mereka balikan setelah putus, dan sekarang melanjutkan hubungan serius.


Sudah belasan tahun, dan rumah tangganya tetap adem.

__ADS_1


"Mah Pah aku berangkat sekarang ya, gak usah Papa anter soalnya aku bakalan pergi bareng teman," ucap Daniella berpamitan.


Saat menyalami tangan Mama nya, tangannya malah di tahan. "Temen atau pacar kamu? Kapan kenalin sama kami," tanyanya menggoda.


"Ih temen kok beneran, nanti kalau aku sudah punya pacar juga pasti ngenalin sama kalian kok," jawab Daniella sambil mengerucutkan bibir nya merajuk.


Kedua orang tuanya terlihat tertawa kecil melihat putri bungsu mereka yang malu-malu begitu. Sampai saat ini, Daniella memang belum pernah mengenalkan pria kepada mereka sebagai 'Pacar'.


Padahal putrinya ini cantik sekali, perpaduan antara Aiden dan Erika tidak kalah luar biasa. Tetapi mereka yakin, pasti banyak yang menyukai Daniella, hanya saja putrinya itu mungkin cukup pemilih orang nya.


"Nanti aku telepon Papa kalau sudah mau pulang!" teriak Daniella sambil berjalan cepat menjauh dari sana.


Di dalam hati Ia bertekad laki-laki yang hanya dikenalkan pada kedua orang tuanya adalah Kai. Ia masih usaha untuk meluluhkan lelaki itu, tunggu saja nanti pasti juga dapat.


Saat keluar dari gerbang rumah nya, perhatiannya langsung tertuju pada seorang pria yang duduk di atas motor Ninja dengan gagah nya. Pria itu yang melihat kedatangannya langsung tersenyum, sambil memberikan helem padanya.


"Haha makasih ya Andra, kamu juga ganteng," balas Daniella sambil memakai helem nya.


Jika diperhatikan Andra terlihat tersenyum-senyum merasa salah tingkah walau hanya mendapat pujian seperti itu. Membuat detak jantungnya menjadi cepat. Ya bagaimana Ia tidak semakin jatuh hati pada Daniella?


"Ayo naik, kita berangkat sekarang takut telat. Hari ini upacara senin," ajak Andra sambil mengulurkan tangan membantu Daniella naik ke motor tinggi nya.


Tidak setiap hari Andra bisa menjemput Daniella, kadang sekali itupun jika Ia berhasil menggoda nya. Perjuangan Andra mendapatkan hati Daniella tidak lah mudah, padahal di luar sana banyak yang mengejar nya, tapi Ia tertarik pada satu orang saja.


Saat lampu merah menyala, Andra membuka kaca helem nya sambil melirik perempuan itu lewat spion. Ada sesuatu yang ingin Ia tanyakan, dari beberapa hari lalu dipendam dan malah semakin dibuat penasaran.


"Daniella, aku boleh tanya sesuatu?" tanyanya memutuskan mengungkapkan.

__ADS_1


"Boleh, mau tanya apa?" Daniella membalas tatapan pria itu lewat kaca spion di sebelah.


"Ekhem pas pesta ulang tahun kamu itu, ada laki-laki dewasa sama kamu terus. Kamu juga sampai nyuapin kue ke dia, kalau boleh tahu dia siapa?"


Daniella tidak langsung menjawab, sedang menyiapkan kata-kata di hatinya. Ternyata waktu itu ada yang diam-diam memperhatikan, apalagi Andra ini orangnya agak kepo jika dirinya dekat dengan lelaki lain.


Dengan malas Ia pun harus menjelaskan. "Om aku, namanya Om Kai. Kita emang deket banget, dia semalam agak telat dateng karena sibuk di kantor nya."


"Oh Om kamu ya, pantesan memang kelihatan sudah agak dewasa sih, " sahut Andra.


Tetapi baru saja dibuat menghela nafas lega, penjelasan Daniella selanjutnya membuat pria itu merasa minder dan malu sendiri.


"Tapi dia hebat loh, di umur belum tiga puluh tahun sudah bisa mimpin perusahaan keluarga. Itu kan gak gampang, jarang juga ada yang bisa sesukses itu di usia muda begitu," sahut Daniella.


Andra hanya tersenyum kikuk sambil mengangguk pelan, memang Ia akui jika Om Daniella itu hebat kalau soal masalah itu. Untungnya ternyata mereka keluarga, bukan seperti dugaannya waktu itu yang menganggap mereka ada hubungan.


Melihat lampu kembali berwarna hijau, Andra pun kembali menjalankan motor nya. Sebentar lagi juga mereka sampai di sekolah, untungnya masih ada waktu dan tidak akan terlambat karena naik kendaraan roda dua.


Sesampainya di sekolah, Andra langsung mencari tempat parkir yang nyaman. Setelah mesin motor dimatikan, Daniella pun turun terlebih dahulu dan memberikan helem pada pria itu.


"Makasih ya Andra setiap hari senin selalu jemput aku, jadi aku gak suka telat lagi," ucapnya sambil tersenyum berusaha ramah.


"Iya sama-sama, gak masalah aku malah senang bisa jemput kamu. Terus nanti pulangnya bareng lagi, kan? Em gimana kalau kita mampir ke Kafe dulu, ngopi gitu?"


"Mulai deh," Batin Daniella malas berusaha menahan diri tidak memutar bola mata.


"Sorry kayanya gak bisa, aku ada les di tempat lain," tolak nya tetap tersenyum walau tidak ikhlas.

__ADS_1


Andra pun akhirnya pasrah dan tidak memaksa karena berpikir waktu perempuan itu nanti lebih penting. Tetapi Ia tentu akan terus berusaha mencari kesempatan mengajak Daniella jalan.


__ADS_2