
Olivia tidak berhenti mengumpati Septian di dalam hati karena berani menawarkan persyaratan konyol itu kepadanya. Padahal Ia datang ke sana baik-baik, tapi Septian itu malah seperti sedang mempermainkan nya. Dengan menawarkan akan membebaskan Dilon jika Ia mau menjadi pacarnya.
"Ck kenapa juga aku harus jadi pacar dia? Aku yakin sebentar lagi Dilon juga akan bebas, dia kan punya banyak uang, tinggal tebus saja," ucap Olivia seorang diri.
Sekarang Ia sedang diperjalanan menuju kantor polisi tempat Dilon ditahan. Untungnya Tante Erika memberikan alamat lengkap, jadi Olivia bisa langsung ke sana. Rasanya berdebar sekali hatinya ini akan bertemu kekasihnya itu.
Sesampainya di sana, Olivia langsung bertanya pada seorang polisi yang kebetulan berjaga. Ia ditanyai beberapa hal, dan tujuan utamanya untuk bertemu Dilon. Untungnya diberikan, dan Olivia diminta menunggu di ruangan khusus penerima tamu.
Melihat Dilon yang digiring polisi tadi dengan kedua tangan di borgol dan memakai baju tahanan, membuat dada Olivia sakit. Setelah Dilon duduk di depannya, ekspresi terkejutnya terlihat kentara sekali. Apakah terkejut karena Ia tahu ini?
"Olivia, gimana bisa--"
"Kakek kamu yang ngasih tahu aku, kayanya kalau gak ada yang mau jujur, sampai kapanpun aku gak akan tahu kalau kamu di sini," sela Olivia cepat, tatapannya terlihat getir pada pria itu. "Kenapa kamu bohong sama aku? Bilang kalau kamu pergi keluar kota lewat Vanessa."
Dilon terlihat menghela nafasnya, "Aku cuman gak mau kamu khawatir setelah tahu ini. Kamu juga pasti malu banget karena punya pacar narapidana kaya aku," jawabnya.
Olivia lalu mencondongkan tubuhnya, memegang tangan Dilon, "Dilon yang sabar ya, aku juga akan bantu supaya kamu bisa keluar dari sini dengan cepat. Aku yakin, kamu sebentar lagi juga akan bebas."
Melihat Dilon yang malah tersenyum tipis, membuat kedua mata Olivia berkaca-kaca. Kenapa pria itu masih terlihat baik-baik saja di saat seperti ini? Dilon kan sudah di sini sehari lebih, pasti suasananya sangat tidak nyaman.
__ADS_1
Olivia tidak bisa membayangkan sendiri, karena hatinya akan ikut sakit. Kenapa Dilon harus sampai masuk penjara sih? Tidak pernah terbayangkan kisah percintaan mereka menjadi rumit begini. Ada saja cobaannya itu.
"Maafin aku Dilon, gara-gara aku kamu jadi harus masuk penjara," Ucap Olivia sambil menghapus tetesan air matanya. Ya Ia sadar semua adalah kesalahannya, jika saja waktu itu tidak berhubungan lagi dengan Septian.
"Hei gak papa, ini bukan salah kamu, aku yang salah. Sudah jangan nangis, nanti aku jadi kepikiran lagi," kata Dilon berusaha menghibur, tapi ternyata Olivia malah semakin menangis.
Dilon pun berdiri dari duduknya untuk mendekati kekasihnya itu, mereka lalu saling berpelukan dengan erat dengan perasaan yang mengharukan. Sepertinya sekarang hubungan mereka benar-benar diuji, apalagi tidak akan sering bertemu lagi karena hal ini.
Padahal beberapa hari lalu mereka sedang marahan, tapi saat salah satu terkena musibah merasa tidak tega dan ingin membantunya keluar dari masalah itu. Ya itulah namanya cinta, tidak perlu meninggikan gengsi untuk menunjukkan kasih sayang.
Dilon meregangkan pelukan, "Sudah hei jangan nangis terus, jadi jelek nih wajahnya," ucapnya menggoda.
"Ihh Dilon!" kesal Olivia lalu memukul pelan tangan pria itu. Padahal Ia menangisi Dilon, tapi sepertinya pacarnya itu tidak mau Ia sedih.
Setelah berusaha menenangkan diri dan tidak menangis lagi, Olivia memutuskan pergi dari sana. Ia tidak akan pulang dulu, akan berkunjung ke rumah Dilon untuk bicara dengan kedua orang tuanya. Membicarakan hal ini, bagaimana cara agar Dilon bisa cepat bebas.
"Nona anda sudah minta izin Tuan Kevin kan? Sebaiknya anda beritahu Tuan Kevin dulu, takut beliau khawatir karena anda belum pulang dan ini sudah pukul delapan malam," ucap supirnya perhatian.
Olivia pun baru mengingat itu, Ia terlalu sibuk ke sana kemari sampai tidak ingat waktu, "Iya Pak makasih sudah ingetin, sekarang aku mau hubungin mereka."
__ADS_1
Olivia bahkan belum makan malam, lagi pula tidak nafsu karena pikirannya hanya tertuju pada Dilon. Apakah kekasihnya itu juga makan dengan baik di dalam sel? Katanya kan makanan penjara itu tidak enak, tidak bisa pilih-pilih juga.
Sesampainya di rumah orang tua Dilon, Olivia pun segera turun dan meminta supirnya menunggu lagi. Butuh beberapa waktu baginya menyalakan bel, sampai akhirnya terbuka juga dan muncullah Erika. Mereka lalu berpelukan, lalu pindah duduk ke ruang tamu.
Melihat penampilan Olivia yang masih memakai seragam, membuat Erika yakin jika perempuan itu belum pulang ke rumahnya, "Olivia kamu pasti capek ya? Mau minum apa?" tawarnya terlebih dahulu.
"Enggak usah Tante, aku gak papa kok. Aku kesini mau bicarain tentang Dilon, aku gak tega lihat dia tadi di kantor polisi. Apa Tante dan Om Aiden sudah menemukan jalan keluarnya?" Olivia memutuskan langsung menanyakan ini, karena tidak mau bertele-tele juga.
Erika lalu mengusap punggung gadis itu, "Tenang ya Olivia, kami sedang berusaha kok. Papanya Dilon juga sedang mencari pengacara terbaik, kami akan berusaha semaksimal mungkin supaya Dilon itu bisa bebas. Tante juga gak tega, bahkan gak nyangka dia ditangkap polisi," katanya.
Mendengar itu membuat Olivia dapat sejenak bernafas lega, ya Ia sudah duga jika keluarga Dilon akan membantunya juga. Tetapi Olivia tidak yakin apakah Papanya Dilon itu kecewa atau tidak, tapi yang pasti semoga saja hubungan antara anak dan orang tua itu tidak merenggang lagi hanya karena ini. Ini kan bukan salah Dilon sepenuhnya.
"Terus Om Aiden dimana ya Tante?" tanya Olivia sambil memperhatikan sekitar.
"Dia belum pulang, katanya sibuk di kantor sekalian bicara dengan asistennya tentang hukum begitu," jawab Erika.
Melihat Olivia yang terlihat tertekan begitu, membuat Erika jadi tidak tega sendiri. Apalagi Dilon sempat mengatakan pada dirinya untuk tidak ada yang boleh memberitahu Olivia jika ditangkap polisi. Tetapi ternyata gadis itu mengetahui sendiri, memang kekuatan dari hati.
Erika lalu mengusap bahunya lagi, "Sudah jangan terlalu dipikirkan, semua pasti akan baik-baik saja. Mending kamu makan dulu yuk? Kamu pasti belum makan kan?" tawarnya.
__ADS_1
"Em enggak usah Tante, aku mau makan di rumah aja, setelah ini juga mau pulang. Maaf ya Tante aku datang malam-malam begini, takut ganggu," ucap Olivia tidak enak hati.
"Tidak apa, Tante mengerti kok. Tapi kamu juga harus jaga kesehatan ya, kalau sakit kan Dilon juga pasti khawatir di sana," nasihat Erika dan langsung diangguki Olivia.