
Acara prom night pun berakhir, itu berarti kemungkinan kelas akhir pun benar-benar akan berpisah setelah ini dan memulai hidup masing-masing. Setelah acara itu pun Olivia terus mengurung diri di dalam rumah, malas melakukan apapun.
Tidur nyaman Olivia terganggu merasakan usapan lembut di kepalanya. Perlahan kedua matanya terbuka untuk melihat, sempat meringis pelan merasakan silau cahaya matahari. Saat pandangannya sudah jelas, baru lah Ia tahu jika itu adalah Mamanya.
"Kamu ini mentang-mentang sudah bebas kerjanya ngurung diri aja di kamar. Kalau gak tidur ya nonton film, sudah itu saja. Gak mau jalan-jalan keluar gitu?" tanya Keisha yang ikut khawatir sendiri melihat keadaan anaknya ini.
"Enggak bosen kok, malahan aku pengennya begini," jawab Olivia dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tapi kayanya sekarang kamu harus bangun karena di bawah ada Septian. Ayo temui dia, kasihan loh hampir setiap hari datang tapi kamu selalu aja suruh dia pulang. Hargai dia Olivia," kata Mamanya menasehati.
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Olivia mengetahui Septian datang lagi ke rumahnya. Pria itu seperti semakin terang-terangan ingin membuktikan jika sekarang mereka adalah pasangan kekasih.
Acara prom night itu sudah berakhir satu minggu yang lalu, dan dari semenjak itu Olivia belum pernah bertemu Septian lagi. Hampir setiap hari pria itu selalu datang ke rumahnya, tapi selalu Ia suruh pulang karena ingin menyendiri dulu.
"Sayang sudah dong, jangan terlalu larut dalam masa lalu. Kamu juga berhak bahagia dengan orang baru. Kasihan loh Septian, dia pasti sedih kalau tahu kamu masih belum move on dari masa lalu kamu," ucap Keisha.
Benarkah Olivia keterlaluan pada Septian? Tetapi seharusnya pria itu pun berpikir, karena Septian lah yang memaksanya untuk menjadi pacarnya. Apalagi perpisahannya dengan Dilon karena paksaan dan dibawah tekanan, tentu saja Olivia tidak bisa move on.
"Sudah ah ayo bangun, jangan begini terus dong. Kamu gak kasihan sama Papa dan Mama? Kami juga kan ikut kepikiran." tanya Keisha meminta belas kasihan.
Olivia tentu saja jadi tidak tega mendengar itu, "Iya-iya ini aku bangun sekarang," desahnya setengah tidak ikhlas.
__ADS_1
"Nah gitu dong, keluar kamar. Kamu temuin Septian juga ya di bawah, kasihan dia. Awas saja kalau enggak!" Keisha pun beranjak dan pergi dari sana dengan senyuman lebarnya.
Setelah nyawanya terkumpul sempurna, Olivia pun bangun dari berbaring nya dan masuk ke kamar mandi akan membersihkan tubuh terlebih dahulu. Tidak apalah kalau Septian menunggu lama, kalau bosan dan pulang pun Ia tidak peduli.
Hampir setengah jam lamanya, Olivia pun baru keluar dari kamar dan turun dari lantai dua. Tadinya Ia akan ke dapur, tapi melihat seseorang duduk sendirian di ruang utama membuatnya pun pergi ke sana untuk mengecek. Ternyata Septian masih ada, Ia kira sudah pulang.
"Septian, aku kira kamu sudah pulang," ucap Olivia menghampiri.
Pria itu yang tadinya menundukkan kepala langsung mengangkat kepala, bibirnya melengkungkan senyuman merasa senang melihat pacarnya lagi. Septian pun beranjak dari duduknya dan berhambur memeluk Olivia.
Olivia tentu saja terkejut mendapatkan itu, Ia pun segera mendorong dada Septian menjauh, "Septian ish kamu apa-apaan sih? Kalau orang tua aku lihat kan gak enak," protesnya.
"Maaf, aku sanking senangnya karena kamu mau juga nemuin aku lagi." Septian lalu beralih memegang bahu perempuan itu, "Kamu kenapa sih Olivia sulit banget dihubungi? Kamu marah ya sama aku?"
Tetapi sepertinta sikapnya itu sudah membuat Septian sedih, mengorbankan perasaannya yang bahkan tidak tahu apapun. Walaupun begitu, Olivia sama sekali tidak merasa bersalah. Lagi pula Ia belum bisa menerima orang baru di hatinya.
"Aku gak papa, cuman memang butuh waktu. Kamu setiap hari selalu kesini, mau apa sih?" tanya Olivia sambil menurunkan tangan pria itu di bahunya.
"Aku kangen sama kamu, aku juga khawatir takut kamu kenapa-napa karena sulit di hubungi," jawab Septian dengan lesunya.
Kalau dipikir sih kasihan juga Septian itu karena setiap kesini pasti selalu Ia suruh pulang lagi tanpa mau bertemu sedikit pun. Tetapi sekali lagi, Olivia tidak mau terlalu memikirkan karena dirinya pun sedang mengobati hatinya.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah lihat aku kan? Kamu bisa pulang, aku juga mau tidur lagi," kata Olivia tidak punya hati.
Tatapan sendu pun terlihat di mata Septian, "Sebegitu gak sukanya kamu sama aku? Sampai kapan Olivia? Sampai kapan kamu bisa nerima aku sebagai pacar kamu?" tanyanya.
"Aduh Septian sudah deh jangan bahas itu, kepala aku pusing!" dengus Olivia.
Tetapi kali ini Septian merasa dirinya memang butuh kejelasan, karena ini menyangkut tentang hubungan mereka ke depannya. Septian merasa dipermainkan, Ia tidak suka Olivia yang menghindar begitu. Ia pun sudah memberikannya waktu hampir satu minggu.
"Gak bisa Olivia, aku mau kamu gak begini lagi. Ingat ya perjanjian waktu itu, kita sekarang sudah pacaran dan kamu seharusnya bersikap sebagai pasangan pada umum nya. Oke aku gak papa kalau kamu masih belum bisa cinta sama aku juga, tapi jangan permainkan aku begini!" kata Septian tegas.
Olivia menghembuskan nafasnya kasar, sempat melirik sekitar khawatir ada yang mendengar, "Aku emang sulit nerima kamu Septian, apalagi hubungan kita dimulai karena keterpaksaan," ucapnya.
"Tapi kalau kamu bisa melepaskan Dilon dari hati dan pikiran kamu, aku juga yakin kamu bisa nerima aku. Apa kurang aku Olivia? Selama ini aku selalu berusaha jadi yang terbaik untuk kamu. Tapi kamu gak pernah melihat itu, karena yang kamu pikirkan itu Dilon dan Dilon lagi!" Nafas Septian sampai memburu setelah uneg-uneg nya Ia keluarkan.
Septian memejamkan matanya sebentar sambil mengusap wajahnya kasar. Ia terlalu emosional, merasa kesal saja dengan sikap Olivia. Selain itu Septian merasa kasihan pada dirinya sendiri, ya walau begitu tidak membuatnya akan sampai melepaskan Olivia juga.
Melihat Olivia yang hanya diam di depannya dengan ekspresi yang masih sama, membuat Septian hanya tersenyum kecut. Ya Ia tahu perempuan itu tidak akan peduli dengan perasaannya, Septian merasa dirinya akan semakin sulit saja masuk ke hati Olivia.
"Besok malam aku akan datang kesini sama keluarga aku," ucap Septian setelah lebih tenang.
"Mau apa?" tanya Olivia bingung.
__ADS_1
"Kita akan tunangan, sebelum aku pergi ke US kita akan bertunangan dulu." sebelum Olivia membantah, Septian kembali membuka suara, "Gak ada penolakan, pokoknya besok malam kita akan tunangan!" Setelah mengatakan itu, Ia pun pergi dari sana.