Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Ingin Yang Terbaik


__ADS_3

"Sudah dimakan belum? Kok masih utuh, tadi katanya laper," tanya Keisha datang ke kamarnya.


Olivia yang sedang main HP malah menyengir lebar pada Mamanya itu, ketahuan juga Ia berbohong. Keisha yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, lalu duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan putrinya itu dalam.


"Besok kamu mau sekolah?" tanya Keisha.


"Enggak dulu, takut sakit lagi. Paling lusanya baru bisa," Jawab Olivia.


"Ya sudah gak papa, memang harus sehat dulu. Dilon sudah pulang ya, tadi Mama sempat ketemu dia lagi di bawah," ucap Mamanya dengan raut wajah tidak nyamannya.


"Iya sudah pulang," sahut Olivia.


"Mama penasaran kenapa wajahnya ada lebam begitu, apa dia cerita sama kamu?"


Olivia yang tadinya sedang main HP langsung berhenti saat mendengar pertanyaan seperti itu, perlahan perasaan cemas pun hinggap di dadanya. Olivia kira Mamanya sudah lupa dan tidak akan menanyakan ini, tapi sepertinya Keisha terus penasaran dari tadi.


"Apa dia berantem saman temannya? Mama gak nyangka, Mama kira Dilon anak baik-baik dan gak suka buat masalah gitu," tanya Keisha menduga.


"Dia gak berantem, tapi dipukulin Papanya," jawab Olivia yang terpaksa cerita.


"Hah serius? Kok bisa?!" pekik Keisha merasa penasaran.


Sebenarnya Olivia agak ragu untuk menjelaskan lebih detail, tapi jika curhat dengan Mamanya tidak apa, mungkin saja wanita itu malah bisa membantunya juga.


Olivia pun cerita awal mulai kenapa Papa Dilon bisa sampai marah, yaitu yang mendengar jika anaknya membuat masalah di sekolah dengan memukul siswa lain sampai masuk ke rumah sakit.


"Dilon mukul siapa? Kok gitu?" tanya Keisha menyela.


"Namanya Septian, dan hubungan Dilon sama Septian ini gak terlalu akur. Sebenarnya aku cuman temenan sama Septian, tapi Dilon itu selalu cemburu dan salah paham lihat kita lagi bareng jadi--"


"Jadi Dilon yang cemburu mukul Septian, begitu?" tanya Keisha langsung bisa menyimpulkan.


Melihat putrinya itu mengangguk, membuat Keisha menghela nafas berat. Percintaan remaja menurutnya ternyata merepotkan juga. Kenapa juga anaknya ini malah ikutan? Keisha kan jadi tidak enak.

__ADS_1


"Menurut Mama kamu yang salah," celetuk Keisha sambil menunjuk Olivia.


"Aku?"


"Iya kamu, kalau aja kamu jaga jarak sama cowok lain, mungkin Dilon juga gak akan sampai marah begitu. Mama tebak, pasti ini bukan pertama kalinya kan Dilon nemuin kalian lagi bareng?" tanya Keisha dengan tatapan memicing.


"Em itu.. I-iya, tapi--"


Keisha pun kembali menyela, "Nah kan bener, ya gimana Dilon gak curiga coba? Masih untung dia mau maafin kamu dan ngasih kamu kesempatan!"


Olivia langsung mengerucutkan bibirnya mendapat nasihat yang seperti omelan itu untuknya. Memang sih Olivia juga sadar jika dirinya salah, tapi kan sudah minta maaf juga dan berjanji tidak akan begitu lagi.


Tetapi Olivia malah jadi semakin bersalah, karena kini Dilon berkonflik dengan Papanya, hanya karena dirinya. Sepertinya nanti Olivia harus minta maaf pada Om Aiden dan bicara dengannya, sekalian juga meluruskan sesuatu.


"Kamu sudah minta maafkan sama Dilon? Ya Mama akui dia juga salah karena sampai pukul orang, tapi namanya juga lagi cemburu, " kata Keisha.


"Sudah kok minta maaf, kalau belum mana mau juga dia rawat aku yang lagi sakit," jawab Olivia.


"Kamu kan sudah punya pacar, hargai pacar kamu itu. Kalau misal posisi kalian ditukar gimana? Kamu juga pasti gak suka lihat Dilon deket sama cewek lain," sindir Keisha menakut-nakuti.


Hanya saja pria itu masih bisa menjaga batasan dengan Vanessa, kalau dipikir sepertinya Olivia lebih parah karena sampai berbohong pada Dilon. Ya semoga saja pria itu tidak melakukan hal yang sepertinya.


"Kamu mau makan sendiri atau mau disuapin? Harus makan, kan harus minum obat, terus langsung tidur," tanya Keisha sambil membawa semangkuk bubur di meja samping.


"Suapin ah, aku masih lemes," pinta Olivia manja.


"Dasar anak kecil!"


***


Besoknya keadaan Olivia sudah benar-benar pulih, perempuan itu bahkan sudah bisa keluar kamar dan main seharian di halaman belakang. Olivia tidak mau sakit lagi, karena sangat membosankan di rumah terus.


Saat Olivia sedang melihat-lihat bunga, pandangannya ada yang menutupi. Ia memegang tangan besar yang menutupi matanya itu. Memcium wangi parfume nya saja sudah bisa Ia duga jika itu adalah Dilon.

__ADS_1


"Dilon, kamu sudah pulang lagi? Tumben cepet," tanya Olivia memanggil.


Dilon yang merasa ketahuan pun menurunkan tangannya, lalu membalikan tubuh Olivia. Melihat perempuan itu sudah sehat dan tidak pucat lagi, membuat Dilon merasa semakin senang.


"Hari ini gurunya ada rapat di sekolah lain, jadi semua murid di bebaskan. Dari pada bosen diem di sekolah, mending gue ke rumah lo aja," jawab Dilon.


"Oh gitu ya, pantesan aja," gumam Olivia.


Perempuan itu lalu menarik tangan Dilon menuju gazebo yang ada di dekat kolam ikan. Olivia memanggil salah satu pembantunya, meminta diambilkan kotak obat. Setelah mendapatkan, Olivia pun mengeluarkan beberapa obat yang dibutuhkannya.


"Sini duduknya ngehadap aku," perintah Olivia tanpa menatap karena sedang memilih-milih.


"Mau apa?" tanya Dilon bingung.


"Obatin luka kamu, masih basah begitu, pasti kamu biarin ya?"


Dilon berdehem pelan dan menurut saja, menerima perhatian kekasihnya ini tentu saja sangat Ia terima. Memang sih Dilon tidak sempat mengobati, terlalu malas saja dan berpikir nanti juga akan sembuh sendiri.


Selama perempuan itu mengobati luka di wajahnya, Dilon tidak meringis kesakitan, malahan Olivia yang terlihat menahan linu, melihatnya membuat Dilon jadi terhibur. Padahal Ia yang sakit, tapi Olivia yang rempong sendiri.


"Dilon, apa Papa kamu ini sering mukul kamu begini kalau kamu nakal?" tanya Olivia masih tetap mengobati.


"Iya sih, kalau buat masalah dan malu-malu in dia pasti marah. Tapi dulu pas Nyokap masih ada enggak begini, biasa saja," jawab Dilon cerita.


"Soalnya dulu kan kamu anak baik-baik, iyakan?" tanya Olivia menohok.


Dilon hanya diam karena bingung juga harus menjelaskan apa, merasa perkataan Olivia memang benar. Dulu saat Mamanya masih ada, Dilon ini termasuk anak baik dan berprestasi. Tetapi karena terlalu merasa kehilangan, Ia mulai berulah dan membuat Papanya pusing.


"Aku tahu kamu pasti sedih dipukul begini, tapi aku juga gak terlalu mau menyalahkan Papa kamu karena mungkin dia cuman mau bikin jera kamu. Kalau semisal kamu gak mau begini lagi, apa salahnya kamu kaya dulu?" tanya Olivia meminta.


"Maksud lo jadi anak baik-baik lagi?" Rasanya agak menggelikan jika itu terjadi, dan Dilon harus culun seperti dulu.


"Iya lah, apa salahnya kan?"

__ADS_1


***



__ADS_2