Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Tidak Seindah Itu


__ADS_3

Olivia berbalik lalu menunjukkan pigura di tangannya, "Sorry aku lihat-lihat," ucapnya sambil tersenyum kikuk.


Kirana hanya tersenyum tipis sepertinya tidak masalah dengan sikap lancang Olivia. Terlebih dahulu perempuan itu menyimpan dua botol minuman dan beberapa snack di meja, lalu mendekati temannya itu yang masih berdiri di tempatnya.


"Menurut kamu di foto itu siapa?" tanya Kirana.


"Sudah pasti kamu sih, ternyata dari kecil udah cantik," jawab Olivia.


Kirana tertawa kecil merasa salah tingkah dipuji begitu, "Ah kamu bisa saja Olivia, aku yakin kamu juga gak kalah cantik pas kecil. "


Kembali Olivia melihat foto di pigura itu, lebih tepatnya memperhatikan anak laki-laki di foto itu yang wajahnya terasa familiar di ingatannya. Hanya saja Ia masih menerka-nerka wajah ini, belum menemukan orang yang tepat.


"Terus yang laki-laki ini siapa? Katanya kamu gak punya saudara," tanyanya penasaran.


"Dia sepupu aku, dulu pas kecil kita hampir setiap hari main terus." Kirana lalu mengambil alih pigura itu, "Kenapa Olivia, apa ada yang mau kamu tanyakan?"


Tetapi Olivia menggeleng karena bingung sendiri mau menanyakan apa, keduanya pun kembali ke sofa untuk mulai mengerjakan tugas. Membuka laptop masing-masing agar pekerjaan juga lebih cepat.


Seharusnya di sini ada Dian juga, tapi mungkin nanti harus ambil tugas lain karena hari ini tidak ikut kerja kelompok karena sakit. Olivia pun membagi tugasnya dengan Kirana, terkadang saling meminta saran dan masukan.


"Oh iya Olivia, tadi kamu di dalam ngobrol apa sama Dilon? Lama banget," tanya Kirana yang menghentikan pekerjaan nya, memfokuskan pandangan pada Olivia. Kebetulan posisi duduk mereka saling berhadapan.


Ketikan Olivia di laptop nya pun terhenti, "Bukan apa-apa, dia cuman nyemangatin aku aja. Kamu tahu kan perusahaan Papa aku lagi ada masalah, ternyata dia juga tahu," Jawabnya.


Ya beberapa waktu lalu Olivia juga sudah curhat perihal ini pada Kirana, tidak apa karena mereka kan teman dekat sekarang. Terkadang Kirana juga selalu memberikan masukan dan menghiburnya juga.


Kirana terlihat menganggukkan kepalanya, "Dia perhatian banget ya sama kamu, aku yakin sebenarnya dia masih ada perasaan sama kamu. Kamu juga pasti ngerasain itu kan?"

__ADS_1


"Hm, tapi sayangnya kita gak bisa bersama, cuman bisa jadi teman saja," sahut Olivia dengan tatapan sendu nya.


"Kenapa kalian gak bisa bersama? Kalau kamu gak cinta sama tunangan kamu itu, lebih baik putus dari sekarang saja sebelum semakin jauh dan terikat." Kirana lalu mengusap tangan Olivia lembut, "Jangan sampai akan ada lebih banyak dan lebih dalam orang yang tersakiti, Olivia."


Bola mata Olivia terlihat melebar sebentar, merasa tertohok mendengar perkataan Kirana tadi. Benar juga, Ia saja bingung dengan hubungannya sekarang ini. Jika terus di lanjutkan, akan ada banyak hati yang terluka.


Termasuk dirinya juga!


Sebuah harapan perlahan tumbuh di hatinya, pikirannya pun mulai terbuka. Olivia pikir harus menyelesaikan ini dengan baik-baik, sebelum dirinya semakin terjebak dan bingung sendiri mencari jalan keluar.


"Makasih ya Kirana, kamu benar aku seharusnya bisa selesain ini secepetnya," ucap Olivia dengan senyuman tipis.


Kirana membalas senyumannya tidak kalah manis, "Aku cuman gak mau kamu terjebak terus dan buat kamu jadi kepikiran. Kamu harus bahagia Olivia, jangan pura-pura kuat," katanya.


Setelah itu keduanya memilih rehat sejenak dengan makan-makanan snack di sana juga minum soda. Obrolan pun lebih santai, terkadang mereka tertawa membahas suatu topik.


Waktu pun tidak terasa berjalan cepat, di pukul empat sore nya tugas mereka pun akhirnya selesai juga. Olivia dan Kirana langsung bertos ria merasa senang dan lega sudah menyelesaikannya juga.


"Iya bener, setiap hari selalu ngerjain tugas. Yang satu belum selesai, satunya datang lagi," sahut Olivia.


Kirana lalu berdiri dari duduknya, "Aku pengen buang air besar, Tiba-tiba sakit perut. Tunggu ya!"


Olivia memperhatikan temannya itu yang berlari kecil ke kamar mandi yang masih terhubung di sana, membuatnya tertawa sendiri merasa lucu. Ia membawa minumannya yang tinggal sedikit lagi, menegaknya sampai habis.


Kepalanya menoleh melihat ponsel Kirana yang berada di karpet berbunyi. Awalnya Ia merasa tidak tertarik, tapi nama si penelepone yang menghubungi membuatnya terdiam beberapa saat. Entah keberanian dari mana, Ia membawa ponsel itu.


Sebelum panggilan berakhir, segera Olivia pun menggeser tombol hijau itu. Ia menempelkan ponselnya di telinga, diam tidak berkata dan hanya ingin mendengar suara dari sana saja untuk memastikan sesuatu.

__ADS_1


["Jadi apa saja yang Olivia lakukan hari ini? Apa dia masih dekat dengan Dilon dan belum jera juga?"]


Deg!


Betapa terkejutnya Olivia karena namanya disebutkan, suara familiar ini pun sangat Ia kenali. Benar ini Septian, tunangannya. Tangannya yang memegang ponsel sampai bergetar, merasa tidak menyangka bisa kebetulan seperti ini.


["Kenapa diam saja? Kirana, kamu di sana kan?"]


Setelah memenangkan diri, Olivia pun memberanikan diri membuka suara, "Apa maksudnya semua ini? Kamu.. Apa hubungan kamu dengan Kirana? Apa dia orang suruhan kamu buat mata-matain aku?"


["Olivia, itu kamu?"] suara Septian terkihat panik di sana.


"Jawab dulu pertanyaan aku, apa hubungan kamu dengan Kirana? Apa maksudnya semua ini?!" jerit Olivia dengan suara kerasnya.


Sungguh Ia sangat frustasi dengan yang dilakukan tunangan gila nya itu, ada saja tingkahnya yang tidak Ia duga. Kembali ingatannya kembali ke pigura itu, kedua matanya perlahan terbelak baru menyadari.


Pantas saja wajah anak laki-laki itu terlihat familiar, ternyata itu adalah Septian. Ya Olivia yakin sekali. Bibir bawahnya Ia gigit sekuat tenaga, dadanya panas sekali sekarang, rasanya campur aduk.


["Olivia dengar aku dulu, aku cuman gak mau kehilangan kamu. Aku--"]


"Tutup mulut kamu Septian, kamu ini gila ya sampai segitunya? Sekarang aku tahu, kamu dan Kirana itu sepupu kan?" Olivia lalu tertawa sinis, "Jadi kamu suruh dia deketin aku dan jadi temen aku supaya dia bisa terus tahu informasi tentang aku dan laporin ke kamu?"


Entah kebetulan atau bagaimana, orang yang sedang dibicarakan pun akhirnya keluar juga dari toilet. Olivia langsung melirik sinis temannya itu. Tunggu, teman? Cih Ia rasanya tidak sudi lagi mengakui itu.


Olivia lalu berdiri dari duduknya sambil merapihkan semua barang-barang nya dengan kasar. Ia belum mematikan panggilan itu, biar Ia tunjukkan nanti pada Kirana.


"Olivia, kamu mau kemana? Kok ponsel aku.. "

__ADS_1


Belum sempat Kirana menyelesaikan perkataannya dari kebingungan, Olivia sudah menghampirinya lalu menyimpan ponsel itu kasar di telapak tangan kanannya.


"Aku bener-bener gak nyangka kamu se munafik itu Kirana," desis Olivia dengan tatapan kecewanya, lalu melewatinya dan pergi dari sana.


__ADS_2