
Besok paginya jenazah Ayana langsung dimakamkan keluarga. Suasana duka menyelimuti rumah Kai, banyak para pelayat yang datang untuk sekedar memberikan bela sungkawa. Mereka juga tidak menyangka jika Ayana akan secepat ini pergi meninggalkan semua orang.
Satu persatu orang yang mengantar almarhum ke peristirahatan terakhir nya mulai beranjak pergi. Matahari pun mulai naik menyinari bumi, hari ini terlihat cerah. Seperti alam pun menyambut Ayana dengan baik.
"Kai, ayo pulang," ajak Mamanya sambil mengusap bahu nya.
Kai terlihat menghembuskan nafasnya berat lalu berkata. "Kalian duluan saja, tolong tinggalin aku sendiri di sini. Aku butuh waktu," pinta nya.
Seluruh keluarga pun saling bertatapan, mereka lalu mengangguk setuju untuk pulang terlebih dahulu. Saat ini Kai pasti ingin sendiri bersama Ayana, tidak mau mengganggu.
Setelah merasa hanya dirinya seorang di sana, Kai pun tidak akan menahan diri lagi. Percayalah Ia tadi tidak menangis sedikit pun, ingin terlihat kuat dan tegar, padahal hatinya hancur sekali karena harus kehilangan pasangan hidup.
"Ayana, terima kasih banyak untuk semuanya. Aku belum sempat mengatakan ini kepada kamu di saat terakhir, sungguh saat itu aku sedang panik tidak tahu harus bagaimana, rasanya tidak bisa berpikir jernih," ucap Kai sambil mengusap nisan dengan nama istrinya itu.
Kembali Ia teringat detik-detik Ayana menghembuskan nafas terakhir, hanya menjelang satu jam setelah Kenzo lahir. Tetapi Ia sedikit lega, karena istrinya itu sempat memeluk Kenzo dan melihat wajahnya, walau tidak sempat di berikan asi.
"Aku janji akan menjaga Kenzo dengan baik, memenuhi semua rencana yang kita susun juga untuk masa depan Kenzo. Kamu doakan aku dan anak kita dari sana ya, semoga aku juga bisa kuat menjaga dia," lanjut Kai sambil tersenyum tipis.
Trak!
Mendengar seperti dahan kayu patah di belakang nya, membuat Kai menoleh dan langsung terdiam melihat Daniella. Sejak kapan gadis itu di sini, apa mendengar semua pembicaraannya juga?
"Maaf Om, aku.. Aku gak ada maksud untuk ganggu Om," ucap Daniella sambil meringis pelan merasa malu. Ia jadi takut akan dimarahin.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Kai tetap menolehkan kepalanya ke belakang.
"Em dari tadi sih," jawab Daniella pelan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sebenarnya Ia tidak pergi bersama keluarganya, merasa tidak tega saja meninggalkan Kai sendiri.
__ADS_1
Jujur saja hati Daniella dibuat sesak mendengar semua perkataan Kai kepada Ayana. Bukan perasaan cemburu, hanya perasaan tidak tega karena pasti Kai itu sedang ada dalam masa titik terendah hidup.
Dari semua perkataan Kai tadi, Daniella pun bisa menyimpulkan sebesar apa cinta Kai untuk Ayana. Walaupun sudah mengelak bersikap baik-baik saja, tapi entah kenapa Daniella masih merasa sedikit cemburu.
Apa itu berarti Ia belumlah move on sepenuhnya?
"Aku ikut sedih karena setelah sekian lama kita tidak saling menghubungi, kabar yang kembali aku dengar dari Om adalah kabar buruk seperti ini," ucap Daniella setelah berjongkok di sebelah Kai.
"Hm kemana saja kamu, sengaja ya blokir nomor Om?" tanya Kai menatap nya dalam.
Daniella tertawa kecil lalu segera menjelaskan. "Aku kan susah bilang waktu itu mau move on dan lupain Om, makanya aku mencoba menjauh dan gak berhubungan lagi dengan Om."
"Terus sekarang gimana setelah empat tahun, apa kamu berhasil lupain Om?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, membuat Daniella pun menoleh dan membalas tatapan Kai. Untuk beberapa saat keduanya terdiam menyelami keindahan wajah masing-masing, entah kenapa suasana pun perlahan berubah.
"Mungkin? Jawaban yang membingungkan. Apa jangan-jangan kamu belum berhasil ya?" tanya Kai yang tidak bisa menahan senyumannya.
Tetapi Daniella hanya mengedikkan bahu tanpa menanggapi lagi, Ia malu jika berterus terang kalau sebenarnya Ia belum lah move on sempurna dari Kai. Sulit sekali, sepertinya semua orang yang mencintai terlalu dalam akan merasakan hal yang sama sepertinya.
Daniella lalu menyentuh banyak bunga yang ditaburkan di atas makam Ayana. "Om pasti sedih banget kehilangan orang yang dicintai untuk selama-lamanya," gumam nya pelan tapi masih bisa terdengar.
"Hm, Om juga mikirin bagaimana nasib Kenzo. Om takut tidak bisa menjaga dia sendiri, kasihan juga dia masih kecil sudah kehilangan sosok Ibu," jawab Kai dengan suara serak nya seperti menahan tangis.
Daniella pun kembali melirik lelaki itu, tatapannya terlihat sendu tanda sedang sedih. Ia seolah bisa merasakan kebimbangan di hati Kai, juga pusingnya mengurus anak kandung hanya seorang diri.
Ia lalu menggenggam sebelah tangan Kai, membuat mereka kembali bertatapan. "Om tenang saja, banyak kok yang sayang sama Kenzo. Dia mungkin memang kehilangan Ibu kandung nya, tapi akan banyak orang yang bisa menggantikan perannya itu," ucap nya sambil tersenyum.
__ADS_1
Kai pun jadi ikut tersenyum. "Apa salah satunya kamu?"
"Hm?"
Daniella malah dibuat berdebar saat mendengar itu, apalagi melihat Kai tersenyum penuh arti. Padahal pasti pertanyaan Kai juga tidak mengarah ke arah situ, pikirannya ini terlalu jauh.
Jangan sampai deh Ia baper, akan repot sendiri!
"Ekhem bisa kok, nanti aku kalau sudah pindah dari Singapura pasti bisa bantu jagain Kenzo," dehem Daniella berusaha menutupi perasaan gugup nya.
"Memangnya kapan kamu benar-benar pulang? Bukannya sudah lulus ya?"
"Lulus skripsi sih sudah, tinggal wisuda saja. Huft benar-benar gak nyangka sih sudah sejauh ini, kaya baru kemarin aja pindah ke Singapura," gumam Daniella sambil menghembuskan nafasnya lega.
Daniella jadi memikirkan lagi kepindahannya dulu, salah satu alasannya pergi ya karena patah hati oleh Kai dan ingin menjauh untuk tidak terlalu patah hati. Sial nya sudah empat tahun berlalu, hatinya sepertinya masih pada orang yang sama.
"Bagus deh kalau kamu mau pulang ke Indonesia, jangan pergi jauh-jauh lagi," sahut Kai penuh makna.
Cukup lama ternyata mereka mengobrol bersama di sana. Ternyata kehadiran Daniella pun membuat Kai jadi sedikit terhibur dan tidak terlalu larut dalam kesedihan, untuk sejenak pun melupakan masalah nya.
Merasa matahari semakin panas, keduanya pun beranjak untuk pulang. Tidak lupa Kai sempat berpamitan kepada istrinya itu dan mengecup sekilas nisan nya. Daniella yang memperhatikan hanya tersenyum, tidak cemburu sama sekali karena mengerti waktu.
"Terus sekarang Kenzo dimana Om?" tanya Daniella saat mereka di perjalanan menuju mobil yang terparkir di depan TPU.
"Masih di rumah sakit, tapi kayanya Om akan bawa pulang dia hari ini, kemarin juga sudah dibicarakan dengan dokter nya," jawab Kai.
"Ya sudah mending langsung saja, aku juga mau ikut ya," usul Daniella dan langsung diangguki Kai. Sungguh Daniella penasaran sekali bagaimana wajah bayi itu, pasti sangat menggemaskan.
__ADS_1