
Dengan susah payah Olivia membuka pintu dengan kakinya karena kedua tangannya memegang nampan berisi dua gelas jus dan beberapa cemilan. Ia yang tidak mengetuk pintu dahulu, tentu saja tidak tahu di dalam sedang apa.
"Aaa!!"
Olivia hampir menjatuhkan nampannya mendengar teriakan keras itu, repleks Ia pun melihat ke depan dan kedua matanya langsung melotot. Dilon terlihat menutupi bagian bawahnya dengan kain seadanya, dari paha sampai ke bawah Ia bisa melihat jelas kulitnya.
"Astaga Olivia kalau masuk itu ketuk pintu dulu dong, gue kan mau pakai celana," gerutu Dilon.
"Hehe maaf-maaf, lagian kenapa gak dipakai di dalam kamar mandi sih?" Olivia merasa dirinya juga tidak salah.
"Soalnya buru-buru, jadi pas masuk kamar langsung buka celana. Jadi gimana nih? Lo mau lihat burung gue?" tanya Dilon sambil menyeringai.
"Ih enggak deh makasih, ya udah deh aku balik badan aja ya." Olivia pun berbalik memberikan ruang.
Dilon dibuat tersenyum sendiri melihat tingkah menggemaskan pacarnya itu. Ia pun segera memakai ****** ******** dan celana panjang. Tetapi Dilon tidak memberitahu sudah selesai, Ia malah mendekati Olivia dengan langkah pelan.
Hap!
"Eh Dilon, apa nih? Kamu sudah selesai belum pakai celananya?!" tanya Olivia panik sendiri karena pria itu malah memeluknya dari belakang.
"Hehe belum, pakain dong celananya," ucap Dilon berbohong.
"Ihh Dilon jorok, cepetan sana pakai celana sendiri. Emang kamu anak kecil apa?!" Olivia mengata-ngatai dengan keras, tanda sedang panik.
"Yeh emang gue anak kecil, lo kan Mommy nya. Mommy sekarang pakain celana aku dong, terus aku mau minum cucu hehe." Dilon malah semakin menjadi-jadi menggoda kekasihnya itu.
Tentu saja Olivia semakin panik mendengar itu, pergerakannya sekarang benar-benar terbatas karena tangannya juga memegang nampan. Sedangkan Dilon di belakang memeluknya erat, bahkan mengendus-ngendus lehernya membuatnya geli.
"Aduh Dilon lepasin ih, nanti minumannya tumpah!" kesal Olivia.
"Habisnya lo ngegemesin banget. Gue lepasin tapi lo pakain gue celana ya?" goda Dilon belum menyerah.
"Ck enggak, nanti aku bilang Papa kamu," ancam Olivia, Ia bisa berteriak dari sini.
Senyuman di bibir Dilon pun langsung menghilang, "Emangnya dia ada di rumah? " tanyanya.
__ADS_1
"Iya tadi aku ketemu Om di dapur, kami juga sempet ngobrol makanya aku lumayan lama di dapur," jawab Olivia.
Olivia lalu merasakan Dilon melepaskannya, membuatnya bernafas lega. Tetapi Olivia tidak berani berbalik dan terus menyuruh pria itu segera memakai celananya. Rasanya akan sangat canggung bila Ia melihat alat vital Dilon.
"Gue bohong, dari tadi juga udah pakai celana kok," Kata Dilon.
"Masa ah? Aku takut pas balik kamu malah belum," ucap Olivia belum percaya.
"Lihat aja sendiri kalau gak percaya!" tantang Dilon.
Kedua mata Olivia lalu terpejam, dan perlahan kepalanya menoleh ke belakang. Ia lalu membuka matanya sedikit untuk mengintip ke bagian bawah Dilon, merasa pria itu memang sudah memakai celana membuat Olivia langsung membuka mata.
"Nah gitu dong, kamu ngerjain aku ya?!" kesal Olivia sambil mengerucutkan bibir.
"Hehe habisnya gue suka aja ngerjain lo, lo orangnya panik kan gitu," ledek Dilon.
Olivia mendengus kasar lalu mendekat ke arah sofa, menyimpan nampan itu di meja. Dengan santainya juga Olivia menyalakan televisi, mencari channel yang seru. Dilon pun mengikutinya dan duduk di sebelahnya.
Pria itu langsung membawa salah satu snack dan memakannya. Melihat ada tayangan bola, Dilon pun langsung meminta Olivia menghentikan. Olivia menghela nafas, padahal Ia tidak terlalu suka bola.
"Lo tahu dari siapa? Perhatian juga ya lo sampai tahu ulang tahun gue, padahal gak gue kasih tahu," kata Dilon lalu terkekeh kecil.
"Papa kamu ngasih tahu."
Dilon pun repleks menoleh, "Ngapain dia ngasih tahu lo? Emangnya tadi kalian di bawah ngobrolon apa aja?" tanyanya penasaran.
"Enggak ada sih, cuman ngobrolin itu aja. Kalau misal Papa kamu gak ngasih tahu, kayanya aku juga gak akan tahu," jawab Olivia.
Dilon lalu merangkul bahu Olivia, menariknya mendekat, "Kok gitu sih? Gue aja tahu ulang tahun lo."
"Kapan?"
"Dua puluh tujuh Juni, ya kan?"
Kedua mata Olivia berkedip pelan mendengar itu, sedikit terkejut karena Dilon menjawab dengan benar. Pria itu pun terlihat puas karena mengetahuinya, lalu mengecup pipinya cepat begitu saja.
__ADS_1
"Kamu mau minta kado apa dari aku?" tanya Olivia. Mungkin ada yang sedang Dilon inginkan, jadi Olivia akan berusaha belikan.
"Gak usah, gue udah besar," tolak Dilon lalu kembali fokus menonton TV.
"Gak papa lah, kamu aja waktu itu ngasih airpods untuk aku. Sepatu mungkin? Atau jaket?"
"Gue gak mau apa-apa, udah punya juga. Gue cuman pengen lo aja, udah gitu aja," jawab Dilon tegas.
Olivia yang mendengar itu tentu saja dibuat tersenyum, tanpa bisa ditahan detak jantungnya pun menjadi cepat. Siapa juga yang tidak baper mendengar itu, jadi merasa orang paling dibutuhkan Dilon saja.
"Ya sudah deh biar aku siapin aja sendiri, tapi kalau misal gak sesuai selera kamu jangan protes ya?"
Dilon lalu mencubit gemas pipi Olivia, kekasihnya ini keras kepala sekali. Padahal Ia serius tidak menginginkan apapun, karena baginya memiliki Olivia saja sudah cukup. Tetapi jika pun memaksa, ya tidak masalah juga.
"Lo mau ngasih gue pensil doang juga gue pasti seneng," kata Dilon.
"Haha masa pulpen doang? Enggak lah, aku tahu yang lagi ngetrend disukain cowok-cowok sekarang. Pokoknya tunggu aja."
Keduanya pun melanjutkan menonton sambil nyemil, sesekali mengomentari tayangan sepak bola itu. Saat bersama begini, selalu membuat nyaman sampai tidak terasa waktu terus berjalan.
Dilon lalu melirik jam dinding, sudah pukul enam sore lagi. Sepertinya Ia harus mengantarkan Olivia pulang sekarang, kalau terlalu malam tidak enak juga pada orang tua Olivia. Apalagi kan Ia yang mengajak.
"Lo makan di rumah lo aja ya," ucap Dilon. Masalahnya kalau makan di sini, pasti akan bersama Papanya dan bisa saja mereka semakin dekat.
"Iya gak papa lagian aku juga belum terlalu laper, kan habis nyemil," jawab Olivia sambil mengusap perutnya.
Untung saja di bawah tidak bertemu Papanya, karena memang itu yang Dilon inginkan. Kalau Olivia bertemu lagi Papanya, pasti mereka akan mengobrol dan topiknya pasti dirinya.
Dilon memutuskan mengantar Olivia pulang dengan motor agar lebih cepat sampai. Ia memang masih ingin berlama-lama dengan pacarnya itu, tapi besok juga di sekolah bertemu lagi. Mereka harus bisa mengatur waktu.
"Kamu langsung pulangkan?" tanya Olivia saat turun dari motor. Ia sudah sampai di depan gerbang rumahnya.
"Kayanya mau ketemu temen dulu," jawab Dilon.
"Jangan lama nongkrongnya, besok kan sekolah. Kamu juga belum makan, harus makan dulu," perintah Olivia perhatian.
__ADS_1
"Iya sayang, sana masuk."