
Hari berjalan seperti biasa, tidak terasa kini pun Daniella sudah kelas akhir dan sedang mempersiapkan Ujian kelulusan. Jika ada yang bertanya bagaimana kondisinya sekarang? Ya baik-baik saja.
Lalu bagaimana dengan Kai?
Hubungan Daniella dengan lelaki yang satu itu juga normal-normal saja, hanya memang tidak segila dulu. Sikapnya bisa lebih bisa di kontrol, tidak mau terlalu menunjukkan perasaan nya karena akan terlihat kekanakkan.
Hanya saja ketenangannya harus berakhir saat Daniella mendengar kabar dari kedua orang tuanya. "Kai dan Ayana sudah memutuskan akan menikah bulan depan, keluarga pun sudah membicarakan ini."
Ukhuk!
Daniella yang sedang makan sampai tersedak mendengar itu. Ia pun membawa segelas air di dekatnya dan menegak nya cepat, dada nya sampai sakit karena tersedak.
"Hm memang sudah saatnya mereka menikah, jarak dari pertunangan saja hampir dua tahun. Hubungan mereka benar-benar panjang," sahut Aiden menanggapi perkataan istrinya.
"Iya benar, Mama sih salut sama Ayana karena dia rela nunggu Kai siap untuk nikahin dia. Ya Mama juga paham sih posisi Kai saat ini sedang ribet, dia kan pemimpin perusahaan," gumam Erika.
Daniella tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, hatinya dihinggapi perasaan tidak nyaman setelah mendengar kabar ini. Hal yang ditakut-takut kannya akhirnya terjadi juga, yaitu Kai yang akan menikahi Ayana.
Sebenarnya jarak dari lamaran waktu itu lama sekali, mungkin ada satu tahun. Daniella awal-awal merasa tenang karena Kai tidak langsung menikah, tapi sepertinya banyak yang harus pria itu siapkan untuk menjalin rumah tangga.
"Mama tahu dari siapa, apa memang sudah pasti mereka akan menikah?" tanya Daniella memutuskan bertanya.
"Sudah pasti kok, kan kemarin Mama ketemu sama orang tuanya Kai, banyak yang kami bicarakan. Kayanya kita bakalan mulai sibuk untuk ikut siapin pernikahan mereka," jawab Erika.
Helaan nafas berat keluar lewat celah bibir Daniella, lagi-lagi dirinya terakhir yang diberi tahu. Merasa sudah tidak nafsu makan lagi, Ia pun memutuskan beranjak dari kursi makan dan pamit pergi.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, perlahan tubuhnya yang bersandar di pintu tertutup meluruh lalu terduduk. Bahunya mulai terguncang, dengan isakan tangis yang mulai terdengar.
Tidak bisa berbohong jika Daniella sangat sedih karena akan kehilangan orang yang paling di cintainya. Setelah Kai resmi menikah dengan Ayana, otomatis harapannya pun hancur dan Ia benar-benar tidak memiliki kesempatan.
"Hiks kenapa masih sakit?" tanyanya seorang diri di sela isakan tangis.
Daniella pikir Ia tidak akan terlalu patah hati saat mendengar kabar yang pasti akan terjadi ini, tapi ternyata hatinya masih sesak dan merasa tidak bisa menerima. Menandakan jika dirinya memang masihlah ada perasaan pada Kai.
Drrrtt!
Ponselnya yang berada di saku celana berdering, tangisannya langsung berhenti melihat si penelepon adalah Kai. Sial sekali kenapa bisa kebetulan seperti ini. Setelah menarik nafasnya dalam-dalam, Ia pun menggeser tombol hijau itu ke samping.
["Daniella kamu gak kemana-mana kan hari ini? Apa kamu mau pergi berdua dengan Om? Ada yang ingin Om bicarakan dengan kamu."]
Ingin sekali Daniella menolak dan mengata-ngatai lelaki itu karena sudah membuatnya kembali patah hati. Tetapi sepertinya jangan sekarang, lebih baik nanti saja Ia keluarkan semua saat mereka bertemu.
"Hm aku tunggu di depan gerbang," ucap Daniella pelan berusaha tidak terdengar habis menangis. Ia pun mematikan panggilan mereka.
Butuh waktu beberapa saat bagi Daniella untuk benar-benar menenangkan diri. Khawatir Kai sebentar lagi sampai, Ia pun beranjak berdiri dan harus segera siap-siap.
Daniella sengaja memakai make up agak tebal karena tidak mau terlihat habis menangis. Mungkin pria itu ingin pergi dengannya berdua karena ingin menyampaikan sesuatu, sepertinya tentang pernikahannya.
Sayangnya Daniella sudah lebih dulu tahu dari kedua orang tuanya, tapi pasti tetap saja akan sedih saat keluar dari mulut Kai.
"Kamu mau kemana Daniella?" tanya Erika melihat putrinya menuruni tangga, terlihat sudah cantik dengan dress bunga-bunga nya.
__ADS_1
"Mau pergi keluar sebentar," jawab Daniella singkat. Ia tidak akan jujur pergi dengan siapa, khawatir Mama nya berpikir aneh-aneh nanti saat Ia pulang dalam keadaan kacau.
Daniella pun berpamitan dahulu pada Mama nya itu, tidak tahu pasti pulang jam berapa tapi tidak akan sampai larut malam. Bertepatan saat Ia keluar gerbang rumah, Kai pun baru sampai dengan mobil Mercedes kesayangannya.
Tanpa menunggu pria itu turun, Ia pun masuk begitu saja dan duduk di kursi penumpang depan. "Kita langsung pergi aja ya Om," ucapnya.
"Hm ya sudah," dehem Kai. Padahal Ia ingin turun sebentar untuk sekedar menyapa orang tua Daniella sebentar.
Mobil pun kembali melaju dengan kecepatan sedang. Daniella memilih diam saja sambil menatap keluar kaca dengan pandangan yang kosong. Walau begitu, kepalanya sangat berisik karena banyak yang Ia pikirkan.
Ia pun tidak tahu dan tidak peduli juga kemana Kai itu akan membawanya. Biasanya lelaki itu memang selalu bersikap sok manis kalau sudah menyakiti hati nya. Bukankah sikap Kai memang membuat bingung?
Entah berapa lama mobil melaju, lamunan Daniella baru berhenti merasa mobil berhenti. Saat Ia menatap ke depan, langsung terdiam melihat lapangan yang luas di depannya.
"Yuk turun," ajak Kai sambil membuka seatbelt nya.
Saat Daniella turun, hembusan angin yang kencang langsung menerpa seluruh tubuhnya. Ia tidak tahu ini dimana, tapi tempatnya terlihat nyaman menyatu dengan alam sekali. Di sana bahkan sangat sepi, hanya ada mereka berdua.
"Om bawa aku kemana sih? Aku baru pertama kali ke tempat begini, kita masih di Jakarta kan?" tanya Daniella meminta penjelasan.
Kai terlihat tersenyum tipis lalu menjawab. "Iya kita masih di Jakarta kok, ya tempat ini memang agak rahasia dan gak sembarang orang juga sih yang bisa masuk. Soalnya kan tempat ini tanah nya milik Om."
Daniella menaikkan alis nya mendengar itu, kepalanya lalu mengangguk-angguk pelan percaya. Mungkin lahan kosong ini akan dijadikan bangunan tinggi, di sini sangat luas tanpa ada apapun, tapi tanah nya kelihatan bagus karena masih ditumbuhi rumput pendek.
Melihat Kai menepuk sisi kosong di sebelah nya, Daniella pun mendekat dan duduk bersama di atas kap depan mobil. Walaupun siang itu cuaca agak panas, tapi keduanya tidak merasakan itu karena mobil berada di bawah pohon rindang.
__ADS_1
"Om beli tanah ini dari hasil tabungan sendiri, rasanya senang banget dan gak nyangka, padahal harganya sangat tinggi, bahkan sampai rebutan sama banyak orang buat bisa beli tempat ini," cerita Kai dengan senyuman tipis nya.
Daniella lalu menoleh menatap lelaki itu dengan perasaan campur aduk nya. "Apa tempat ini akan Om jadikan rumah buat keluarga Om nanti?"