Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Tingkahnya Tidak Habis


__ADS_3

Saat sedang sarapan, Olivia bisa merasakan jika kedua orang tuanya dari tadi memperhatikannya. Ia pun baru mengangkat kepala dan membalas tatapan mereka. Ada apalagi?


"Ekhem Olivia, nanti Mama titip sesuatu ya ke kamu untuk Dilon," ucap Keisha baru membuka suara.


"Titip apa?" tanya Olivia bingung.


Perempuan itu memperhatikan Mamanya yang beranjak dari duduknya, lalu membuka lemari makanan dan membawa sebuah bingkisan. Saat di simpan di depannya, Ia pun melihat ke dalam dan ternyata sebuah kotak makanan.


"Apa ini?" tanyanya bingung.


"Kemarin malam Mama sempat buat brownies coklat, kamu kasih ya Dilon hari ini, bilang saja sebagai ucapan terima kasih kemarin," Jawab Keisha dengan senyumannya.


Tatapan Olivia memicing, merasa mengganjal melihat sikap kedua orang tuanya yang sekarang mulai luluh lagi pada Dilon. Hanya karena pria itu menolong Kai, membuat pandangan kedua orang tuanya yang sempat jelek pun berubah.


Bukankah sudah terlambat?


"Untuk apa? Aku pikir kalau sampai seperti ini, Mama bisa saja buat semua orang salah paham," celetuk Olivia ingin menyindir lagi.


"Salah paham bagaimana? Enggak kok, Mama buat brownies cuman sebagai tanda terima kasih aja," bela Keisha cepat.


Sebelah sudut bibir Olivia terangkat, "Terus gimana kalau misal dia menganggap diberikan harapan lagi dan mendekati aku?"


Keisha dan Kevin terlihat saling bertatapan, sepertinya sedang memikirkan dugaan dari putrinya itu. Olivia yang melihatnya hanya menghembuskan nafas kasar, tahu jika kedua orang tuanya bingung. Memang plin-plan sekali.


Olivia lalu berdiri dari duduknya dan membawa paperbag itu, "Ya sudahlah aku bawa saja, sayang juga kalau di makan gitu aja," ujarnya.


Tidak mau dianggap anak tidak sopan, Olivia pun sempat menyalami tangan kedua orang tuanya lalu pergi dari sana. Ia juga jadi memikirkan perkataannya sendiri, tapi tidak mau berharap banyak karena hubungannya dengan Dilon sangat rumit.


Olivia sampai di Kampusnya setengah jam lebih kemudian. Ia langsung menuju kelasnya, yakin jika Dilon pun sudah datang, pria itu sekarang jadi anak rajin. Baru saja masuk kelas, perhatian Olivia langsung tertuju pada satu kumpulan di sebuah meja.

__ADS_1


Tentu saja Ia sangat mengenali daerah di meja itu, milik Dilon. Pria itu memang tidak terlihat karena tertutupi banyak perempuan kelas lain yang mengidolakan nya. Olivia hanya memutar bola mata malas, sudah biasa melihat ini.


"Wih wangi apa nih? Kaya kue, kamu bawa apa Olivia?" tanya Kirana yang kebetulan duduknya di depannya.


Olivia menunjuk paperbag itu dengan dagunya, "Brownies coklat," jawabnya singkat.


"Mau buat nyemil sendiri ya? Gak mau bagi-bagi nih?" Tanya Kirana mengkode.


"Kalau aku yang punya pasti dikasih, tapi itu bukan punya aku," jawab Olivia acuh tak acuh.


Untuk mengalihkan perhatian, Olivia memilih membuka laptopnya dan pura-pura sibuk dengan urusannya sendiri. Sebenarnya Ia tidak terlalu dekat dengan perempuan di kelasnya, lebih tepatnya dirinya yang menjaga jarak.


Kenapa?


Apa mungkin karena Ia selalu cemburu jika Dilon dekat dengan mereka dan kadang menggombali nya juga? Mungkin begitu. Olivia tidak bisa membohongi hatinya jika Ia memang masih ada perasaan pada mantan kekasihnya itu.


"Hei ada apa ini? Ayo silahkan duduk di kursinya masing-masing, kita akan mulai belajar nya!" tegur seorang dosen laki-laki yang baru datang.


Olivia sempat melirik ke arah Dilon, pria itu terlihat tersenyum-senyum sendiri. Apa senang karena dipuja banyak perempuan? Dasar playboy, batinnya mendengus.


Selesai pelajaran pertama berakhir, suasana kelas terasa lebih rileks. Ada yang beranjak keluar untuk merilekskan diri sebelum dimulainya jam selanjutnya, ada juga beberapa yang memilih diam di kelas.


Setelah mengumpulkan keberanian, Olivia beranjak lalu mendekati meja Dilon. Ia menyimpan paperbag itu agak kasar di atas meja, hingga membuat perhatian Dilon pun tertuju padanya.


"Itu dari Mama, dia buat brownies sendiri untuk kamu. Katanya sebagai tanda terima kasih untuk kemarin," ucap Olivia dengan ekspresi datarnya.


Dilon menaikan sebelah alisnya merasa speechless mendengar itu. Ia memilih menyimpan ponselnya dan membuka paperbag itu, saat isinya di keluarkan langsung menelan ludah kasar. Bagian atasnya memang terlihat karena transparan, brownies nya terlihat cantik.


"Serius Tante Keisha yang buat sendiri?" tanya Dilon bersemangat begitu saja.

__ADS_1


"Katanya dia buatnya pas malam, dan pagi ini pengen langsung ngasihin buat kamu," jawab Olivia.


Dilon memegang dadanya, entah kenapa menjadi terharu, "Ya ampun, sebegitunya ya? Ya sudah deh gue hargain, nanti bilangin sama Nyokap lo makasih dari gue ya."


"Hm."


Olivia tidak langsung pergi, malah memperhatikan Dilon yang sedang membuka penutup kotak makanannya dan memotong brownies panjang itu menjadi beberapa bagian.


Baru saja pria itu akan menyuapkan satu brownies nya, kedatangan dua orang perempuan dari kelas lain menghentikan kegiatannya. Kernyitan tidak suka terlihat di kening Olivia, melihat wanita-wanita centil itu datang lagi.


"Wah apa itu Dilon? Brownies ya, kelihatan enak," tanya perempuan yang mewarnai rambutnya menjadi blonde, tidak cocok sekali.


"Iya nih brownies, ada yang ngasih," jawab Dilon lalu menyuap kue itu dengan potongan besar. Kedua matanya sempat terpejam beberapa saat menikmati rasanya.


Perhatian dua perempuan itu langsung tertuju pada Olivia, yakin jika perempuan itulah yang memberi Dilon kue nya. Apakah fans nya juga? Semakin banyak saingan saja yang ingin merebut hati Dilon, pikir mereka.


"Kalian mau gak? Tapi gue suapin ya biar rasanya makin enak hehe," tawar Dilon sekalian modus.


Tentu saja kedua perempuan itu langsung berjingkrak kesenangan. Dilon lalu membawa satu potongan kecil dan menyuapkan pada dua perempuan itu bergantian. Ia yakin sekali kalau mereka pasti baper, memang hebat sekali dirinya ini mempermainkan perasaan.


Tidak sengaja Dilon melirik Olivia, menarik sebelah sudut bibirnya karena perempuan itu belum pergi, "Kenapa? Mau disuapin juga ya?" tanyanya.


"Cih ogah!" tolak Olivia mentah-mentah.


Olivia berbalik dan memutuskan keluar kelas, merasa muak jika harus menonton si playboy Dilon yang tidak ada habisnya menggombali para perempuan, pantas saja mereka sampai mengejar-ngejar begitu.


Hembusan nafas kasar langsung keluar dari hidungnya setelah di luar kelas, sekarang hatinya merasa lebih baik. Entah sengaja atau tidak, tapi Olivia merasa tindakan Dilon yang menunjukkan kemesraan di depannya terlihat kurang ajar.


Pria itu tidak ada maksud membuatnya cemburu dengan menyuapi perempuan tadi kan? Sialnya lagi malah pakai makanan yang diberikannya.

__ADS_1


"Huh ngasih kue nya jadi gak ikhlas, semoga mereka sakit perut!" gerutunya jahat.


__ADS_2