
Selesai bermain kini perut keduanya keroncongan, sebelum pulang akan makan dulu di restoran ramen. Hari ini benar-benar menyenangkan, mereka seperti sedang kencan saja.
"Sebentar ya Dilon aku ke toilet dulu," pamit Olivia sambil berdiri dari duduknya, tadi sudah sempat memesan tinggal menunggu.
"Mau di anter gak?" tanya Dilon sambil menaik turunkan alisnya menggoda.
Tetapi Olivia malah mengacungkan jari tengah pada Dilon, membuatnya tertawa terpingkal karena memang perempuan itu tidak ada jaim nya saat bersamanya. Baguslah, itu berarti Olivia memang nyaman bersamanya.
Sambil menunggu, Dilon membawa ponselnya untuk melihat beberapa gambar Olivia yang diam-diam Ia ambil tadi. Ingin sekali Ia upload di sosial media pribadinya, tapi pasti akan membuat kehebohan. Olivia juga pasti akan protes.
Drttt!
Mendengar deringan ponsel di depannya, membuat Dilon membawa benda pipih itu untuk melihat. Tatapannya terlihat langsung datar pada nama si penelepon, Septian. Ia pun menggeser tombol hijau dan malah mengangkat nya.
["Kamu kemana saja sih? Susah banget di hubungin, kebiasaan dari dulu. Mulai sekarang jangan abaikan aku lagi, kamu harus jadi pacar yang penurut!"]
Kernyitan tidak suka terlihat di kening Dilon mendengar nada suara tinggi dari sebrang sana, membuatnya pun tanpa sadar mengeratkan pegangan pada ponsel itu. Jangan bilang sikap Septian selama ini kasar begini pada Olivia?
"Hahaha kasihan ya, kayanya Olivia emang gak sudi deh jadi pacar lo, makanya dia gak suka peduliin lo. Gak usah atur-atur dia juga, dia berhak dengan kebahgiaan sendiri," sahutnya dengan nada mengejek.
["Ini.. Dilon? Kenapa lo yang angkat, mana Olivia?"]
Sebelah sudut bibir Dilon naik, Ia akan pamerkan kegiatannya hari ini pada lelaki itu. Pasti Septian akan cemburu, biarlah toh Ia malah senang. Seharusnya pria itu pun bisa sadar diri, tidak bisa egois seperti ini terus.
"Dia lagi ke toilet, lo penasaran apa yang udah kita habisin hari ini? Ets jangan salah paham dulu, kita cuman jalan-jalan berdua di Mall kok. Belanjain dia boneka kesukaannya, terus main di Timezone dan sekarang mau makan di restoran. Gimana-gimana, lo pernah begini gak dulu sama Olivia?" tanya Dilon songong, yakin sekali pasti Septian belum pernah.
__ADS_1
["Sialan lo Dilon, dia itu tunangan gue sekarang!"] desis Septian terdengar marah.
Dilon malah tertawa keras, merasa senang sendiri dan puas sudah memancing emosi Septian yang menyedihkan itu. Apalah daya Septian jauh di sana, tidak bisa berbuat apapun. Dilon malah jadi semakin senang menggodanya.
"Heh sialan, lo maksa Olivia buat jadi pacar lo kan? Ckck dasar menjijikan, lo itu gak punya harga diri ya sampai lakuin hal kotor gitu supaya bisa dapetin Olivia!" maki Dilon. Kini ekspresi wajahnya terlihat serius.
["Oh dia sudah cerita ya? Wah jadi penasaran seberapa jauh hubungan kalian, jangan bilang kalian sudah balikan lagi? Mau selingkuh ya?"]
"Ya sebentar lagi, gue pastiin kita bakal balik kaya dulu lagi. Lagian dia itu gak cinta sama lo, Septian. Sadar diri dong, jangan maksain!" Setelah mengatakan itu, Dilon pun mematikan panggilan sambil menggerutu.
Saat Ia menyimpan ponsel Olivia di meja dengan posisi sama tadi, tepat saat itu perempuan itu pun kembali. Dilon bersikap seperti tidak terjadi apapun, berusaha tersenyum walau hatinya sedang panas sekarang.
Rasanya Ia memang puas sudah memancing emosi Septian dan membuatnya cemburu, tapi Dilon merasa itu saja belum cukup. Tadi seharusnya Ia maki-maki lagi si Septian itu, karena alasan dulu Ia dan Olivia putus adalah lelaki itu.
Dua orang itu tidak lupa mengucapkan terima kasih, lalu mulai menyantap hidangan masing-masing. Mereka terlihat lahap sekali makan karena sama-sama kelaparan. Untung saja memesan pun bukan hanya ramen, tapi ada tambahan lain.
Setengah jam kemudian semua pesanan pun habis juga, Dilon dan Olivia menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengusap perut merasa kenyang. Saat pandangan bertemu, mereka melempar senyuman masing-masing.
"Sekarang mau pulang?" Tanya Dilon memastikan. Kalau misal ingin lanjut main pun tidak masalah, yang pentingkan dengan Olivia.
"Iya pulang sekarang, sudah sore juga," jawab Olivia.
Dilon pun mengangguk pasrah saja, tidak apalah karena baginya masih banyak waktu mereka bisa menghabiskan waktu bersama lagi. Mereka pun beranjak untuk keluar, tidak lupa sebelumnya juga membayar makanan.
Selama di perjalanan pulang suasana terlihat lebih nyaman, Olivia sudah tidak terlalu dingin lagi seperti biasa, ya perempuan itu hanya gengsian. Mereka bahkan bernyanyi lagu bersama, benar-benar kompak sekali.
__ADS_1
Mobil pun berhenti di depan gerbang rumahnya, Olivia segera membuka seatbelt, "Beneran gak mau masuk dulu ketemu Kai?" tanyanya sekali lagi.
"Enggak, nanti saja deh, sekarang sudah terlalu sore. Masih banyak waktu main sama Kai, titip salam aja ya," jawab Dilon dengan senyumannya.
"Oke nanti aku salamin," angguk Olivia.
Sebelum benar-benar turun Ia sempat melambaikan tangan pada Dilon dan tidak lupa juga mengucapkan terima kasih untuk hari ini karena sudah membuat moodnya naik dan senang. Olivia tidak malu mengungkapkan itu.
Melihat mobil yang dikendarai Dilon menjauh, membuat Olivia pun berbalik untuk masuk ke gerbang rumahnya. Langkah kakinya terlihat ringan, senyuman di bibirnya pun terus terukir. Di sebelah tangannya menenteng paperbag, boneka yang dibeli Dilon tadi.
Saat memasuki rumah tidak lupa Olivia mengucapkan salam dengan keras, tapi selalu tidak ada sambutan karena rumahnya yang terlalu besar. Ia pun memutuskan langsung ke kamarnya, ingin mandi merasa gerah.
Selesai membersihkan diri dan sekarang sedang memakai body lotion, perhatian Olivia teralih melihat ponselnya berdering. Tadinya Ia kira itu panggilan dari Dilon, tapi ternyata dari Septian. Dengan ogah-ogahan Ia pun mengangkat nya.
"Hm ada apa Septian?" tanyanya dengan suara malas.
["Sudah selesai jalan-jalan nya bareng selingkuhan kamu itu?"] tanya Septian sinis menyambut.
Deg!
Olivia tanpa sadar menelan ludahnya susah payah mendengar itu. Tunggu, jangan bilang Septian tahu Ia sudah menghabiskan waktu bersama Dilon tadi? Bagaimana bisa? Apa mata-matanya itu lagi yang memberitahu?
["Olivia-Olivia, aku kira kamu beneran bakal nepatin janji kamu untuk jauhin dia, tapi kenapa lagi-lagi kamu luluh? Kamu bener-bener mainin perasaan aku, kamu pikir aku gak sakit hati? Di sini aku cuman belajar, tapi di sana kamu malah selingkuh sama si Dilon sialan itu!"] cerca Septian dengan suara kerasnya.
Membuat Olivia menjauhkan sedikit ponselnya sanking terkejut, kedua matanya pun sempat terpejam mendapat omelan seperti itu. Sekarang alasan apalagi yang harus Ia berikan?
__ADS_1