
"Ekhem ini Mama buatin minuman sama kue, dimakan ya," ucap Keisha yang datang, membuat perhatian mereka teralih.
Olivia dan Septian pun duduk, tapi tidak di satu tempat dan menjaga jarak. Setelah menyiapkan makanan dan minuman di meja, Keisha tidak langsung pergi karena merasa penasaran dengan laki-laki muda itu. Ia belum sempat bertanya, karena lelaki itu hanya bilang jika dirinya adalah teman sekolahnya Olivia.
"Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" tanya Keisha yang berdiri di dekat meja, menghadap lelaki itu.
"Oh iya maaf Tante sebelumnya saya belum sempat kenalan, nama saya Septian," jawabnya berusaha seramah mungkin.
Kedua mata Keisha terlihat berkedip pelan, merasa tidak asing dengan nama itu, "Ya sudah kalau begitu, kalian ngobrol aja ya, Tante mau ke kamar dulu." Sempat Ia melirik Olivia, tapi setelah itu benar pergi dari sana.
Septian mencondongkan tubuhnya membawa segelas jus, meminumnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Tetapi matanya tidak lepas sedikit pun dari Olivia yang duduk di depannya.
Perempuan itu jadi pendiam sambil memainkan bunga di buket yang dipegangnya dari tadi. Septian tahu Olivia bukan sedang mengagumi keindahan bunga itu, melainkan sedang memikirkan seseorang. Sepertinya Septian harus bisa mengalihkan perhatian.
"Kamu gak bosen di rumah terus? Mau jalan-jalan gak?" tawar Septian.
"Gak bosen, lagian aku juga pengen di rumah." Olivia langsung menolak karena sudah bisa menebak isi pikiran Septian.
"Kalau lagi sedih itu ya jangan sendirian dong, kalau bisa jalan aja keluar nikmatin waktu. Biar pikiran sama hati lebih nyaman. Ayo jalan-jalan sama aku!" ajaknya.
Tetapi Olivia malas sekali, sedang tidak mood apa-apa karena sedang sedih. Hanya saja Septian itu tidak menyerah, terus membujuknya untuk mau pergi jalan bersama. Setelah Olivia pikirkan lagi, sepertinya tawarannya tidak buruk juga. Ia memang butuh hiburan sedikit.
Olivia pun meminta izin untuk bersiap terlebih dahulu, Ia pun ke kamarnya untuk bersiap-siap. Biarlah Septian itu menunggunya dandan lama, kalau sabar dan setia kan tidak akan masalah. Satu jam lebih kemudian, akhirnya Olivia pun selesai berdandan juga.
__ADS_1
"Lama ya?" tanya Olivia setelah berdiri di hadapan pria itu. Ia tidak repot-repot meminta maaf karena gengsi.
"Gak papa, kalau hasilnya cantik begini sih gak masalah. Dari pada tadi, kelihatan kumal banget karena belum mandi," jawab Septian sambil sedikit menggoda.
Olivia hanya mendengus pelan lalu melangkah lebih dulu, dan Septian pun segera menyusulnya di belakang. Saat di depan teras, langkah perempuan itu terhenti melihat sebuah mobil Lamborghini Aventador warna merah terparkir di depan. Sudah bisa Ia duga jika itu milik Septian.
"Kita pakai mobil ya, lain kali aku ajak kamu jalan-jalan nya pakai motor. Ayo naik," kata Septian yang dengan gentle nya membukakan pintu untuk Olivia.
Olivia pun masuk dan duduk dengan nyaman, matanya pun memperhatikan sekitar dengan kagum. Ia baru pertama kali naik mobil mewah begini, ternyata keren sekali. Ia tiba-tiba jadi ingat Dilon, kekasihnya itu juga punya mobil yang keren, tapi bukan merek yang sama.
Septian baru masuk dan langsung menyalakan mesin mobilnya, suara mobilnya yang khas itu membuat kendaraannya terasa semakin keren. Tetapi sebelum menjalankan mobilnya, perhatian Septian malah tertuju pada Olivia. Ia pun mencondongkan tubuhnya.
"Hei Septian, mau apa kamu?!" pekik Olivia terkejut karena pria itu tiba-tiba mendekatinya. Kedua tangannya pun repleks bersilang di dadanya.
Olivia yang mendengar itu jadi malu sendiri, "Apaan sih? Orang aku gak tahu, tadi juga mau dipakai sendiri kok," belanya sendiri.
Setelah seatbelt itu terpasang dengan baik di tubuh Olivia, Septian pun mulai menjalankan mobilnya pergi dari sana. Karena jalanan di kompleks perumahan itu lumayan kenggang, Septian sempat mempercepat laju kendaraannya membuat Olivia bergidik merasa takut.
Tetapi Olivia tidak protes, entah kenapa merasa menyenangkan dan menjadi hiburan tersendiri untuknya. Kepalanya lalu terangkat dan bisa melihat bagian atas mobil perlahan terbuka, cahaya matahari pun langsung masuk dan kini mereka bisa melihat pemandangan sekitar lebih jelas.
"Gak papa kan dibuka? Gak usah malu, jangan peduliin sekitar," kata Septian sambil menoleh dan tersenyum tipis.
"Ya terserah sih, ini juga kan mobil kamu," jawab Olivia dengan suara masih ketus, Ia ingin menunjukkan pada Septian jika dirinya tidaklah mudah didekati.
__ADS_1
Beberapa kali pria itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi saat jalanan lenggang. Olivia yang tadinya berkekspresi datar pun mulai mencair, bahkan tidak bisa menahan tawanya lagi saat kendaraan mereka melaju dengan cepat.
Septian yang melihat perempuan itu sampai menikmati merasa senang sendiri, hanya ini saja ternyata bisa sedikit menghibur Olivia. Percayalah, senyuman Olivia itu selalu membuat Septian semakin jatuh cinta, apalagi yang membuatnya adalah dirinya sendiri.
"Aduh aku capek banget ketawa dari tadi, perut aku sampai sakit haha!" ucap Olivia sambil merapihkan rambutnya yang dari tadi berterbangan.
"Tapi seru kan? Kamu gak salah terima ajakan jalan-jalan dari aku, lihat sekarang kamu jadi gak murung terus," tanya Septian percaya diri.
Tawa Olivia pun terhenti karena kembali diingatkan. Tetapi memang benar saat jalan dengan Septian, Ia memang sempat melupakan kegalauan nya yang memikirkan Dilon terus. Olivia malah tiba-tiba merasa bersalah pada pria itu, karena sekarang dirinya malah jalan dengan lelaki lain.
Mobil lalu berhenti di sebuah Mini market, Septian bilang akan membeli minuman dingin dan cemilan untuk mereka. Sempat menawarkan Olivia juga untuk masuk, tapi Ia tolak karena malas. Jadinya Olivia tetap duduk di mobil, dengan keadaan atap yang masih terbuka.
Tiba-tiba seseorang menyapanya, "Olivia, itu kamu bukan?"
Olivia pun langsung mengangkat kepala melihat seseorang yang berdiri di samping mobil. Kedua matanya perlahan terbelak mengetahui jika itu adalah Refan, salah satu teman dekatnya Dilon. Tentu mereka saling kenal.
"Loh bener ternyata, kirain tadi bukan. Kamu lagi sama siapa? Wah keren ya naik mobil Lambho!" Kata Refan yang tidak bisa menahan kekaguman. Bukankah setiap lelaki berkeinginan memiliki kendaraan mewah ini?
Olivia lalu tertawa canggung, "Lagi jalan-jalan sih," jawabnya.
"Sama siapa? Apa sama Dilon? Tapi perasaan dia gak punya mobil begini deh, atau jangan-jangan dia beli mobil baru ya?" tanya Refan bergumam sendiri sambil memikirkan dengan baik.
Sekarang Olivia sedang dilanda perasaan cemas dan khawatir, takut Septian cepat kembali sedangkan Refan masih ada di sini. Kalau sampai Refan lihat Ia jalannya bersama Septian, pasti akan melaporkan pada Dilon. Sekarang Ia harus bagaimana?
__ADS_1