Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Ada Saja Kejadian


__ADS_3

Karena hotel yang mereka tempati adalah salah satu yang terbaik, jadi makanan yang di hidangkan pun sangat memuaskan apalagi bisa mengambil sepuasnya. Suasana malam ini pun di sana lumayan ramai.


Di sela makannya, Olivia baru teringat sesuatu dan langsung mengungkapkan kepada pacarnya. "Dilon, tadi pas kamu lagi pakai baju Papa sempat nelepon."


"Oh ya? Terus apa katanya, apa Papa kamu nanyain aku juga?" tanya Dilon dengan senyuman lebarnya penuh harap.


"Hm sayangnya enggak, kita cuman nelepon sebentar. Katanya Papa cuman mau mastiin aku sama kamu baik-baik aja," jawab Olivia.


Dilon mengangguk pelan mengerti, Ia tahu kedua orang tua Olivia khawatir dengan keadaannya karena pergi jauh dan berduaan dengan lelaki lain. Tetapi karena Dilon sudah diberikan sebuah kepercayaan, tentu Ia harus menggunakannya dengan baik.


Tidak sengaja Dilon melihat noda saus di sudut bibir Olivia, dengan jari tangannya sendiri Ia bersihkan membuat perempuan itu menatapnya bingung. Dengan santainya Dilon pun menunjukkan noda itu.


"Besok kita mau langsung ke pantai itu? Kalau kaya gitu sayang juga ya kita pesan hotel di sini, nanti di sana juga pasti pesen hotel lagi," kata Olivia di sela kunyahannya.


"Soalnya kalau ke sana agak jauh lagi, kalau maksain takut kelelahan juga di jalan. Gak papa lah, kita nikmatin waktu aja," sahut Dilon yang tidak mempermasalahkan soal biaya. Namanya juga anak orang kaya.


"Malam ini jangan dulu balik ke hotel, kita jalan-jalan dulu yuk," ajak Olivia sambil mencondongkan tubuhnya, ekspresi wajahnya terlihat berbinar.


"Terserah sih," kata Dilon yang memang setuju-setuju saja.


Sambil makan Olivia memperhatikan sekitar, kebanyakan sih di sini yang makan para keluarga. Padahal belum juga satu hari berjauhan dengan keluarganya, tapi Olivia sudah merasakan rindu.


Selesai makan malam, keduanya pun langsung keluar dari hotel dan akan jalan-jalan sebentar menelusuri di sekitar sana. Tidak jauh dari hotel banyak ruko berjejer, entah yang berjualan aksesoris maupun makanan.


"Kamu mau beli sesuatu di sini?" tanya Dilon menawari.


"Beli apa? Gak terlalu tertarik sih kalau aksesoris gitu," Jawab Olivia tanpa menatap, fokus memperhatikan setiap barang-barang.


"Masa, bukannya biasanya cewek tertarik beli aksesoris yang lucu-lucu gitu ya?"

__ADS_1


Olivia lalu melirik Dilon dengan tatapan memicing nya, "Kenapa? Pernah pengalaman ya masa lalu suka yang begituan, setiap orang kan beda-beda!" ketusnya.


Dilon dibuat melongo melihat perubahan sikap perempuan itu dalam sekejap, kenapa juga berpikir terlalu jauh sampai ke sana? Ia hanya menduga, toh sepertinya semua perempuan kan seperti itu.


Melihat Olivia yang melenggang pergi meninggalkannya, membuat Dilon pun segera berlari untuk mengejarnya. Saat Ia coba genggam tangannya, malah dihempaskan kasar membuat Dilon percaya jika pacarnya itu sedang bad mood.


"Sayang kamu kenapa sih?" tanya Dilon bingung.


"Gak papa," jawab Olivia dengan suara masih ketusnya tanda belum baik-baik saja.


Baru saja Dilon akan bertanya lagi, perempuan itu malah tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang di belokan. Untungnya Dilon segera menangkap tubuh Olivia hingga tidak sampai jatuh ke tanah.


Setelah berdiri dengan tegak lagi, Olivia pun menatap tajam ke arah orang itu, "Heh kalau jalan itu pakai mata dong!" kesalnya.


"Iya-iya maaf," katanya dengan kepala menunduk menyembunyikan wajah di balik topi nya, pakaiannya pun terlihat compang-camping.


"Eh kok tas aku ke buka sih, tunggu-tunggu!" pekik Olivia yang baru sadar melihat tas selempang nya.


Setelah Ia lihat-lihat ke dalam tas nya dan memastikan lagi, ada satu barang yang hilang yaitu dompet nya. Mengetahui itu tanpa basa-basi Ia pun berlari ke arah orang tadi pergi, membuat Dilon bingung dan malah mengejarnya.


"Olivia kamu mau kemana? Kenapa lari?" teriak Dilon berusaha mengejarnya.


"Dompet aku hilang, kayanya yang tadi nabrak aku itu copet!" sahutnya dengan suara tidak kalah keras karena sedang berlari.


"Apa?!"


Dilon tentu saja syok mendengar itu, Ia pun mempercepat larinya bahkan sampai berhasil menyusul Olivia dan mencari orang yang ciri-ciri nya seperti yang tadi menabrak Olivia tadi. Ia bahkan sampai meninggalkan kekasihnya itu di belakang.


Hebat juga pikirnya orang tadi berlari ke dalam gang kecil yang memiliki banyak cabang ini, Dilon pun mengikuti naluri nya saja dan memilih jalan kiri. Lari nya lalu memelan melihat ada seseorang di kejauhan yang pakaiannya mirip seperti orang tadi.

__ADS_1


Sepertinya orang itu tidak sadar karena posisinya membelakangi, dengan pelan Dilon pun mendekat dan menepuk bahunya. Saat orang itu menoleh, Ia pun langsung mendorong nya ke depan sampai terhimpit dan menahannya dengan menekan lehernya agar tidak kabur.


"Arrrggghhh tolong!"


Kernyitan terlihat di kening Dilon mendengar suara teriakan orang di depannya ini sangat cempreng, itu berarti perempuan. Ia pun membuka topi orang itu, lalu rambutnya yang panjang pun tergerai.


"Heh diam lo, jangan merasa dijahati ya. Lo itu yang copet, bawa dompet pacar gue!" cerca Dilon mengatai.


"Aduh gue minta maaf deh, tapi tolong lepasin. Sakit nih, susah nafas!" ucap perempuan itu dengan suara tertahannya.


Merasa kasihan dan tidak tega takut menyakiti, Dilon pun memilih tidak lagi menekan tubuh perempuan itu, tapi berganti memegang sebelah tangannya dan tidak akan membiarkan lolos.


Setelah si copet itu menghadap ke depan, benar dugaannya jika perempuan. Dilon benar-benar tidak habis pikir, Ia juga tidak menduga ini karena menurutnya copet ini cukup pintar juga berkamuplase.


"Diam lo, sekarang mana dompet cewek gue? Dasar copet, mau gue laporin ke polisi hah?!" tanya Dilon galak, tidak sok baik walau pada perempuan karena orang ini penjahat.


Dengan sebelah tangannya yang lain tidak dipegangi, perempuan itu pun mengeluarkan dompet warna pink itu dan memberikannya. Menggerutu di dalam hati, padahal tadi sempat di cek di dalam nya banyak uang sampai ada kartu juga.


Perhatian Dilon teralih melihat Olivia berlari menghampirinya, Ia pun melambaikan tangan meminta kekasihnya itu mendekat lalu memberikan dompet nya.


"Coba cek lagi takut ada yang hilang, sebelum dia pergi," perintah Dilon dan langsung Olivia lakukan.


Melihat perempuan itu yang bernafas lega sepertinya tidak ada yang hilang. Dilon pun kembali menatap perempuan itu tajam, "Ayo sekarang ikut ke kantor polisi, pasti banyak korban yang sudah jadi korban lo!"


"Eh jangan dong, gue kan udah minta maaf dan balikin, gak ada yang gue ambil juga dong. Tolong, kalau gue ditangkap adik-adik gue gimana? Kasihan mereka di gubuk, masih pada kecil," katanya memohon dengan wajah memelas.


Dilon dan Olivia yang mendengar itu merasa tidak tega, tapi tidak mau terlalu percaya. Saat si copet menunjukkan sebuah foto kecil dirinya dengan dua anak kecil, baru lah mereka pun percaya.


"Huh karena gak ada yang hilang aku lepasin kamu, tapi kayanya kamu jangan gini terus. Kasihan adik-adik kamu makan uang haram, masih banyak kerjaan baik. Cepet pergi dari sini!" usir Olivia galak.

__ADS_1


__ADS_2