
Makan malam itu ada yang tidak hadir, yaitu Aiden karena sedang menghadiri acara di rumah teman nya. Erika tidak ikut, karena di sana hanya kumpulan laki-laki saja. Sudah tua pun masih memiliki perkumpulan.
"Kai makan yang banyak ya, biar kamu makin semangat kerja nya dan gak gampang capek. Kamu masih muda, tapi sudah sibuk banget karena gantiin tugas besar Papa kamu," ujar Erika sambil menyimpan sepotong ayam goreng besar di piring nya.
Kai pun tersenyum melihat itu. "Makasih Tante, nanti saya pasti habiskan kok," sahut nya. Kebetulan Ia memang belum makan malam, jadi lapar.
Sebelum mulai makan, Kai pun yang memimpin doa, setelah selesai ketiga nya pun mulai menyantap hidangan. Walaupun Kai tidak terbilang keluarga inti di keluarga ini, tapi Ia tetap dekat dengan mereka, apalagi dengan Daniella.
Selama makan itu pun Kai lebih banyak mengobrol dengan Erika, di banding Daniella yang hanya mendengarkan saja. Tidak apalah, nanti selesai makan baru dirinya bisa banyak waktu dengan pria itu.
"Oh iya Kai, kapan kamu ajak kami makan bareng lagi dengan Ayana? Sudah lama Tante gak ketemu dia, gimana kabar nya?" tanya Erika membahas hal lain yang lebih menarik bagi nya.
"Ayana kabarnya baik kok Tante, dia juga masih kerja di kantor sebagai sekretaris saya. Nanti deh kapan-kapan saya ajak ke acara keluarga lagi," jawab Kai.
Ukhuk!
Mendengar suara batuk berulang kali di sebelah nya, membuat Kai pun langsung memberikan segelas air putih pada Daniella. Sepertinya tersedak, Ia pun dengan perhatiannya membantu menepuk-nepuk punggung, tapi tangannya malah ditepis dengan tatapan tajam Daniella.
Kalau sudah seperti itu, pasti sedang cemburu.
"Terus kapan kamu mau lanjutin hubungan serius dengan Ayana? Kalian sudah mau tiga tahun kan pacaran, usia kalian juga sudah matang," tanya Erika lagi.
Kai terlihat mengusap tengkuk nya, selalu gugup jika ditanyai hal seperti ini. "Saya belum terpikirkan ini dalam waktu dekat Tante, karena pekerjaan saya pun masih banyak."
Daniella yang dari tadi diam pun menyahut. "Iya, terserah Om Kai dong Mah mau nikah kapan aja, kan dia yang jalanin pernikahan!"
__ADS_1
Erika terlihat menaikkan alis nya mendengar nada ketus putrinya sendiri, kenapa seperti orang yang tidak suka? Padahal Ia hanya menanyakan hal normal, memang aneh putrinya itu.
"Ya sudah terserah kamu kapan saja mau menikah, memang harus siap dulu sih biar gak kerepotan setelah menikah nanti. Tante doa kan yang terbaik saja," kata Erika dengan senyuman menenangkan nya.
Daniella terlihat mencebikkan bibir mengejek Mama nya sendiri, dadanya terasa panas karena bisa-bisa nya Erika itu malah lebih mendukung Kai dengan Ayana, di banding putrinya sendiri. Memang sih Erika tidak tahu Ia menyukai Kai, tapi tidak perlu mendukung seperti itu di depan nya.
Ia kan cemburu!
Selesai makan malam, Kai sempat akan membantu membereskan bekas makannya, tapi segera Erika cegah karena ada pembantu juga. Memang idaman sekali laki-laki itu, sepertinya sudah terbiasa juga.
"Cie yang dapat dukungan dari Mama, pasti seneng ya?"
Suara bernada sinis di belakang nya, membuat perhatian Kai dari ponsel teralih. Bibir nya terlihat melengkungkan senyuman melihat kedatangan Daniella, Ia pun meminta gadis remaja itu duduk di bangku kosong sebelah nya. Untungnya menurut.
"Cih enggak tuh, biasa saja. Aku sudah kebal ya dengar begituan, gak akan terpengaruh!" jawab Daniella masih dengan suara ketus nya.
Kai terlihat mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman tertahan. "Terus tadi pas di kantor kamu lihat Om lagi pelukan sama Ayana, kenapa langsung pergi sambil nahan tangis gitu?"
Kedua mata Daniella terlihat terbelak sebentar, Ia pun menatap nyalang pria di sebelah nya itu. "Enak aja, siapa yang bilang aku nangis? Masa aku nangis, lebay banget!" bela nya.
Melihat Kai yang malah tertawa kecil seperti memang tidak percaya, membuat Daniella mengerucutkan bibir kesal karena ketahuan jika Ia sampai menangis. Habisnya hatinya selalu sakit kalau pria itu sudah bermesraan dengan pacar nya.
Tubuh Daniella terlihat tersentak saat bahu nya dirangkul, perlahan kepalanya menoleh dan langsung bertatapan dengan Kai. Jarak wajah mereka kini terbilang cukup dekat, Daniella sampai dibuat gugup bisa mencium wangi parfume maskulin Kai.
"Makanya lain kali kalau mau masuk ke ruangan itu ketuk pintu dulu, kebiasaan kamu itu suka masuk seenak nya. Mentang-mentang kita saling kenal," ucap Kai.
__ADS_1
Daniella terdengar berdecak pelan lalu melepaskan rangkulan tangan pria itu dan bergeser duduk agak menjauh. Menyebalkan sekali pikir nya, Ia kira pria itu akan memberi penjelasan untuk meminta maaf.
Tidak ada inisiatif sedikit pun.
"Jadi tadi sore kamu ke kantor Om mau apa? Pasti ada tujuan tertentu, gak mungkin datang dengan tangan kosong," tanya Kai mengalihkan topik obrolan, tidak mau keponakannya itu semakin cemberut.
"Aku tuh cuman mau ngasih tahu Om kalau besok aku ada camping di sekolah. Kayanya tiga hari ke depan kita gak akan ketemu, sudah itu saja," jawab Daniella tanpa menatap, memilih memainkan jari tangan nya.
Selain itu, Daniella juga ingin sekali menghilangkan perasaan lelah karena telah diomelin guru les nya. Beranggapan jika mungkin dengan hanya bersama Kai saja perasaan capek nya itu akan menghilang.
Sayangnya Kai sudah dapat seseorang yang menjadi sandaran sebagai penghilang capek nya, yaitu Ayana.
"Oh jadi kamu mau camping ya, semangat deh. Jangan terlalu capek nanti di sana, makan juga jangan ketinggalan biar gak sakit," nasihat Kai sambil mengusap-usap puncak kepala nya.
Daniella lalu kembali menoleh menatap pria itu. "Sudah itu saja, gak ada yang lain lagi Om mau kasih untuk aku gitu?"
"Hm apa, mau minta bekel juga dari Om?" tanya Kai polos.
Kembali suara decakan pelan terdengar dari Daniella, menghembuska nafasnya kasar karena Kai itu adalah orang yang tidak peka. Tidak tahu juga apa mungkin pura-pura karena tidak mau melampaui batas.
Sayang nya obrolan mereka berdua harus terhenti melihat kedatangan Aiden, Papa nya itu yang jadi mengobrol dengan Kai dan seperti biasa selalu membicarakan perihal pekerjaan. Daniella pun memutuskan ke kamar nya saja.
"Mah bantuin aku kemas-kemas dong, besok kan mau berangkat camping," pinta Daniella agak merengek pada Erika yang sedang membaca majalah nya.
Erika yang mendengar itu tidak keberatan. Terlebih dahulu mencopot kaca mata khusus membaca, lalu beranjak dan pergi bersama putrinya itu ke kamar di lantai dua. Terdengar suara obrolan laki-laki dari depan, sepertinya suaminya bersama Kai.
__ADS_1