
"Pagi sayang!" sapa Dilon ceria melihat Olivia keluar dari gerbang rumahnya.
Olivia hanya membalas dengan senyuman tipis, "Aku kira kamu gak akan jemput, tadinya aku mau berangkat naik taxi," ucapnya.
"Masa aku gak jemput, kan biasanya juga setiap hari kita berangkat pulang bareng," kata Dilon. Pria itu turun sebentar dari motornya untuk memakaikan helm pada kekasihnya. Perhatian manisnya tentu membuat Olivia merasa terharu.
Setelah siap mereka lalu naik motor untuk berangkat. Dilon sempat menanyakan kedua orang tua Olivia, tapi Ia bilang saja kalau mereka masih di dalam dan segera mengajaknya berangkat karena khawatir terlambat sekolah.
Untuk sementara ini Olivia akan menghindarkan Dilon dengan kedua orang tuanya. Kemarin kan mereka yang bilang sendiri sudah tidak merestui hubungannya. Olivia hanya khawatir jika Dilon bertemu kedua orang tuanya, malah mendapat sambutan yang kurang enak.
"Kamu sudah sarapan kan? Nanti kalau belum ngantuk lagi pas ujian," tanya Dilon sambil tetap fokus menyetir.
"Sudah kok, roti sama susu," jawab Olivia.
"Iya bagus, jangan lupain sarapan pokoknya." Tumben sekali Dilon mengingat kan hal kecil begini, entah kenapa sikapnya setelah keluar dari penjara terasa semakin manis.
Olivia memeluk pinggang kekasihnya itu erat, menyenderkan kepalanya di bahunya. Ia pasti akan merindukan suasana ini, apalagi wangi parfume Dilon. Seharusnya Olivia sudah harus bersikap dingin, tapi kenapa terasa sulit ya?
Padahal kemarin sudah memikirkan berbagai rencana, tapi melihat Dilon yang bersikap romantis begitu membuatnya nyaman dan rasanya ingin sekali merasakan nostalgia seperti dulu lagi. Tidak apalah, untuk sekarang biarkan mereka bahagia sebentar lagi.
Sesampainya di sekolah, mereka labgsung turun dan menuju kelas bersama. Kebetulan keduanya pun satu ruangan ujian. Suasana sekolah agak sepi karena yang datang hanya kelas akhir, kelas sepuluh dan sebelas di liburkan agar tidak mengganggu.
__ADS_1
"Hei itu kan Dilon, dia udah keluar dari penjara ya?"
"Kenapa dia bisa bebas cepet? Pasti beli hukum, orang tuanya kan orang kaya. "
"Tapi dia keren ya, masih punya muka dan gak malu nunjukkin diri di sekolah lagi."
Banyak bisikan yang terdengar di telinga Olivia saat melewati koridor, tanpa sadar Ia pun mengeratkan genggaman tangan mereka. Ia lalu menoleh menatap Dilon, entahlah apa pacarnya ini mendengar juga atau tidak, tapi berharap tidak karena pasti akan sakit hati.
Langkah mereka lalu terhenti melihat beberapa murid lelaki berlari menghampiri. Tanpa malu ke lima orang itu berhambur memeluk Dilon, terlihat senyuman lebar di bibir mereka. Olivia pun sedikit menjauh memberikan waktu pada para lelaki itu untuk melepas rindu.
"Akhirnya bro lo bebas juga, kita ikut seneng. Sorry ya Dilon kita gak bisa bantu banyak, tapi kita juga selalu usaha kok buat bebasin lo," ucap Refan dengan raut wajah muramnya.
"Iya gak papa, kalian juga selalu jengukin gue di lapas. Gue juga seneng bisa bebas lagi," kata Dilon dengan senyuman lebarnya.
Dilon pikir ini urusan pribadi di antara dirinya dengan Septian. Kalau teman-teman nya sampai ikut campur, takutnya geng Septian pun malah membalas dan terjadilah bentrokan. Apalagi hubungan di antara geng mereka sangat tidak akur, sedikit disenggol saja pasti langsung ribut.
"Kita seneng lihat lo bisa ikut ujian juga Lon," sahut Ian yang baru membuka suara. Matanya terlihat berkaca-kaca, tapi tidak mau menangis karena pasti akan diledeki yang lain. Merasa terharu saja sahabatnya itu bisa bebas juga.
Perhatian Dilon lalu teralih melihat seseorang yang berjalan jauh melewatinya. Itu Septian, sepertinya Ia harus bicara dengan pria yang satu itu. Dilon lalu menyuruh teman-teman nya terlebih dahulu untuk pergi, mereka pun tanpa curiga menurut saja dan nanti akan bertemu lagi.
Dilon lalu memfokuskan pandangan pada Olivia, "Sayang kamu juga duluan ya ke kelas, aku tiba-tiba sakit perut," ucapnya berbohong. Ia hanya ingin bicara empat mata dengan Septian, kalau Olivia ikut takutnya malah suasana kembali panas.
__ADS_1
"Ya sudah aku duluan ya, nanti kalau sudah selesai langsung ke kelas takut keburu ujiannya dimulai," ujar Olivia yang percaya saja.
Setelah memastikan pacarnya itu pergi menjauh, Dilon pun berbalik ke arah lain menuju arah kemana Septian pergi tadi. Masih ada sekitar sepuluh menitan waktu sebelum bel berbunyi, mungkin dengan waktu singkat itu mereka bisa ada waktu bicara.
Butuh beberapa lama Dilon mencari Septian, sampai akhirnya menemukan juga pria yang satu itu sedang berdiri bersandar di sebuah dinding yang di depannya ada papan pengumuman. Kebetulan nya lagi keadaan di Koridor itu sedang sepi. Dilon pun melangkah dengan pasti mendekati.
Septian yang tadinya sedang memainkan ponselnya memutuskan berhenti, tersenyum menyeringai melihat Dilon berdiri di sebelahnya dengan jarak beberapa meter. Bukannya langsung membuka suara, kedua pria itu malah terdiam dengan tatapan yang sama lurus ke depan.
"Kenapa lo cabut laporan lo ke gue? Kalau enggak kan hari ini sidang pertama di mulai. Gue juga yakin lo udah siapin beberapa bukti buat beratin hukuman gue di pengadilan," tanya Dilon yang lebih dulu membuka suara.
Terdengar tawa kecil dari Septian, "Untuk alasannya ada sih, tapi gue gak akan bilang. Cuman kayanya lo emang harus terima kasih sama gue, karena lo gak makin lama jadi tahanan di lapas," katanya sombong.
"Jelasin dulu alasannya, gue pengen denger," desak Dilon. Jika tiba-tiba memutuskan rasanya tidak mungkin sekali, pasti ada sesuatu.
"Gue udah bilang ada satu alasan yang buat gue bebasin lo, tapi kayanya ini cukup rahasia dan gue gak akan bilang sama lo. Tapi jangan salah paham, gue bebasin lo bukan berarti gue iba atau kasihan, sama sekali enggak!" jawabnya menohok.
Kedua tangan Dilon terkepal, merasa tidak puas dengan jawaban Septian yang membingungkan itu. Tinggal apa susahnya bilang alasan sebenarnya kenapa mencabut laporan atas dirinya, setelah itu kan Dilon pun akan lebih tenang.
Tetapi karena Dilon merasa malas berlama-lama mengobrol dengan Septian, juga merasa gengsi tidak mau dianggap kepo, Ia pun memutuskan memendam sendiri saja. Yang penting kan sekarang Dilon sudah bebas, tidak mendekam di penjara yang membosankan itu lagi.
"Gue terpaksa bilang ini, sebenarnya gue ogah banget karena lo juga salah. Tapi ya mau gimana lagi." Dilon terlihat menghembuskan nafasnya kasar, "Thanks." Setelah mengatakan itu, Ia pun pergi dari sana.
__ADS_1
Septian menatap kepergian Dilon dengan seringai nya, "Gak usah bilang makasih Dilon, karena harusnya gue yang bilang makasih karena Olivia bakal jadi milik gue," desis nya.