Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Akan Melindunginya


__ADS_3

Bu Rita tersentak terkejut melihat Dilon yang muncul tiba-tiba di pintu ruang kerjanya. Saat Ia tanyakan ada apa? Muridnya itu katanya ingin bicara dengannya. Rita pun mempersilahkan masuk.


"Kamu bolos lagi? Ibu kira kamu sudah berubah jadi anak rajin Dilon," celetuk Bu Rita menyindir.


"Hehe sekarangkan sudah jarang bolos nya, kalau dulu kan parah banget," ucap Dilon lalu tertawa kecil.


"Jadi kamu mau bicara apa? Apa tentang Olivia dan Vanessa?" Bu Rita bisa dengan mudah membaca situasi.


"Iya, ini tentang Olivia," angguk Dilon, "Ibu akan memberi tahu orang tuanya kalau dia berkelahi di sekolah?"


"Tentu saja, nanti sepulang sekolah akan Ibu langsung beritahu. Ibu juga akan menghadap Kepala sekolah untuk membicarakan kasus ini," jawab Bu Rita.


Dilon terlihat menghela nafas berat, mendengar Olivia akan di laporkan ke orang tuanya tentang kejadian ini entah kenapa Ia jadi ikut panik. Kasihan pacarnya itu, pasti takut sekali.


Jikapun semisal Dilon yang disalahkan dan membawa Olivia menjadi buruk tidak masalah, Ia hanya khawatir hubungan mereka setelah itu menjadi terancam. Dilon rasa dirinya pun akan ikut terseret.


"Bisa gak Bu jangan kasih tahu orang tuanya? Aku akan lakuin apapun agar Ibu gak ngabarin orang tua Olivia," pinta Dilon memohon.


"Kalian pacaran ya?" Bu Rita malah menanyakan ini.


"Em iya," jawab Dilon agak malu-malu.


"Ibu gak nyangka kamu pacaran sama Olivia, kalian kaya dua orang yang saling bertolak belakang." Entahlah apa Bu Rita itu memuji atau meledek.


"Tapi karena dia juga aku gak se bandel dulu Bu, karena Olivia aku banyak berubah. Bukannya Ibu juga senang aku sekarang jadi murid baik?"


Bu Rita tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Kalaupun benar Olivia yang merubah Dilon, cukup Ia kagumi kesabarannya menghadapi Dilon ini. Padahal anak asuhannya yang satu ini dulu berandalan sekali dan selalu seenaknya.


"Jadi gimana Bu, Ibu jangan kasih tahu orang tuanya ya?" pinta Dilon mengulang.


"Kamu bilang tadi akan lakuin apa aja kan?"

__ADS_1


"Iya, tapi selama saya mampu," jawab Dilon.


"Gimana kalau saat Ujian Nasional nanti kamu serius ngerjain supaya dapat nilai besar? Ini bukan untuk Ibu, tapi untuk kamu juga. Nilai Ujian itu dipakai seumur hidup loh, yang akan menjadi penentu masa depan kamu," kata Bu Rita.


Dilon terlihat terdiam, merasa tidak menyangka saja itulah syarat yang harus dilakukannya. Dilon kira apa, tapi jika hanya itu sepertinya bisa Ia lakukan. Akhirnya Ia pun menerima perjanjian itu.


"Terus Olivia kira-kira akan dihukum apa? Kalau sampai di skorsing sama saja dong, orang tuanya tetap akan tahu," tanya Dilon.


"Nah untuk yang ini semua ada di tangan Pak Kepala Sekolah, Kakek kamu. Kamu nanti bisa bicara sama beliau," ujar Bu Rita.


"Oh baiklah, kalau yang ini sih kayanya gampang," ucap Dilon sambil menjentikkan jari tangannya.


Bu Rita yang melihat Dilon benar-benar bersungguh-sungguh membela Olivia hanya dibuat tersenyum merasa terhibur. Terlihat sekali Dilon ini sangat mencintai Olivia, sampai mengorbankan apapun.


Tidak menyangka dalam hal percintaan Dilon ini cukup serius, kalau saja dalam belajarnya pun sama dan seperti dulu. Ya semoga saja Dilon bisa berubah lagi, dan Olivia selalu sabar menghadapinya.


"Makasih ya Bu," ucap Dilon sambil berdiri dari duduknya. Cukup lama mereka mengobrol, baru berhenti saat bel pulang berbunyi.


"Sama-sama, tapi bilang sama pacar kamu itu untuk tidak mengulangi. Kamu juga bantu mereka berbaikan!" pinta Bu Rita tegas.


Keluar dari ruang guru itu, Dilon pun langsung menuju kelasnya dengan berjalan riang. Terkadang Ia membalas senyuman para siswi, dan mereka langsung menjerit merasa senang karena kali ini Ia balas.


Saat masuk ke kelas, terlihat suasana kelas sudah lumayan kosong. Hanya saja Dilon tidak menemukan Olivia, kemana pacarnya itu? Dilon pun akhirnya memutuskan menghampiri Vanessa dulu.


"Dilon, ada apa?" tanya Vanessa sambil mengangkat kepalanya.


"Apa kamu sudah minta maaf pada Olivia?" tanya Dilon balik langsung ke inti.


Olivia terlihat membuang muka, "Ngapain aku minta maaf sama dia?" tanyanya ketus.


"Ya karena kamu salah, jadi kamu harus minta maaf Vanessa. "

__ADS_1


"Gak mau!" tolak Vanessa sambil melipat tangan di dada.


Dilon berdecak pelan mendengar penolakan itu, Vanessa ini memang agak keras kepala dan Dilon harus bersabar menghadapinya. Apalagi untuk masalah yang satu ini, pasti tidak mudah menyatukan dua perempuan itu.


"Pokoknya nanti kamu harus tetap minta maaf sama Olivia, minta maaf atau aku bakal abain kamu sampai kamu lakuin tugas itu," perintah Dilon mutlak.


Vanessa berdiri dengan kasar dari duduknya, "Kamu kenapa sih belain dia banget? Padahal dia juga yang duluan kasar sama aku!" tanyanya keras.


"Karena dia pacar aku, tentu aku harus belain dia. Lagian Olivia gak akan jambak kamu kalau kamunya gak ngeyel Vanessa," jawabnya tetap tenang.


"Kamu berubah Dilon, semenjak Olivia jadi pacar kamu, kamu jadi berubah sama aku. Kamu juga malah lebih belain dia, kamu sudah gak mau ya temenan sama aku?" tanya Olivia lirih.


"Bukan begitu Vanessa, aku--"


"Sudahlah, aku rasa persahabatan kita memang tidak akan sama seperti dulu lagi karena ada Olivia. Kamu pergi saja dengan dia, tidak usah urusi aku lagi!" Setelah mengatakan itu, Vanessa pergi dari sana sambil menahan tangis.


Dilon yang melihatnya menghela nafas panjang, merasa bingung harus bagaimana menanggapi Vanessa. Apakah Dilon keterlaluan? Tetapi merasa yang dilakukannya memang benar.


Dilon tentu tidak mau persahabatannya dengan Vanessa berakhir, tapi bukan berarti juga Ia mempertahankan perempuan itu karena ada sesuatu. Dilon hanya merasa kasihan, karena sekarang Vanessa tidak punya siapa-siapa lagi.


"Ekhem, jangan ngelamun. Nanti kemasukan setan katanya," tegur seseorang yang baru masuk.


Saat Dilon menoleh ke ambang pintu, terlihat ada Olivia di sana yang sedang tersenyum padanya. Tanpa bisa ditahan Dilon pun ikut tersenyum. Ia mengulurkan tangannya pada Olivia, dan perempuan itu pun dengan peka mendekat lalu menggapai tangannya.


"Lo dari mana? Kirain udah pulang duluan," tanya Dilon sambil mengusap pinggang Olivia.


"Enggak, aku habis pipis di toilet. Aku juga nyariin kamu, pas pelajaran terakhir kamu kemana?" tanya Olivia balik.


Tetapi Dilon tidak akan jujur berterus terang jika dirinya habis bicara dengan Bu Rita, "Gue ngantuk, tidur sebentar di rooftop," jawabnya.


"Dasar, padahal kan jam terakhir cuman berapa menit lagi. Terus sekarang masih ngantuk gak?"

__ADS_1


"Enggak, kita pulang sekarang yuk," ajak Dilon.


Olivia mengangguk semangat lalu membawa tasnya dan pergi dari sana dengan Dilon sambil berpegangan tangan. Tatapan perempuan itu terlihat dalam, Olivia merasa senang dan terharu saat tadi menguping Dilon yang membelanya di depan Vanessa.


__ADS_2