Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 43


__ADS_3

Untuk beberapa saat keduanya saling bertatapan, tapi sepertinya Kai yang kalah karena memilih menundukan pandangan. Percayalah pria itu dari tadi sedang mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu.


"Daniella, sebenarnya Om--"


"Aku tahu, tadi saat sarapan Mama dan Papa bilang. Om katanya akan menikah dengan Ayana ya, tinggal sebulan lagi," sela Daniella lagi.


Setelah itu Kai terdiam, merasa bingung harus mengatakan apa. Dari nada suara Daniella terdengar agak ketus, apa gadis itu kesal karena terakhir Ia beri tahu? Atau cemburu kah?


Daniella terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan, berusaha mengurangi rasa sesak di dada. "Akhirnya ya Om resmi juga akan melepas masa lajang, selamat."


Bagi Daniella untuk mengatakan ini tentu sangat berat, mati-matian Ia menahan air matanya karena tidak mau dianggap lemah. Untungnya tadi di rumah sudah menangis, tapi saat bersama Kai tetap saja Ia merasa kalah.


Kepala Daniella menoleh saat merasakan tangannya digenggam dibawa Kai, lelaki itu juga mengusap-usap pelan. Sentuhannya itu jujur saja membuat badan Daniella merinding.


"Maafin Om ya Daniella, untuk semuanya. Om tidak mau beranggapan kalau kamu masih ada perasaan suka atau tidak, tapi Om tidak mau kamu terlalu kecewa dengan semua ini, dengan semua takdir yang tidak sesuai keinginan kamu," kata Kai penuh arti.


Tanpa bisa ditahan kedua mata Daniella pun kembali berkaca-kaca, hatinya merasa tersentuh mendengar itu. Ya inilah namanya hidup, tidak akan selalu sesuai seperti harapan. Daniella merasa tertohok.


Kai lalu mengangkat kepalanya membalas tatapannya. "Kamu gadis yang berani dan hebat, Om akui itu. Terima kasih sudah pernah menyukai Om, tapi Om minta maaf karena tidak pernah bisa membalas itu."


"Apa aku boleh tanya sesuatu untuk terakhir kali? Untuk memperjelas saja," tanya Daniella dengan suara serak nya. Tenggorokannya sampai tercekat karena menahan tangis.


"Hm tanyakan saja."


"Apa.. Gak ada sedikit pun ruang perasaan khusus di hati Om untuk aku? Apa selama ini Om hanya menganggap aku sebagai keluarga saja?"

__ADS_1


Kai tidak langsung menjawab, Ia malah asik menyelami mata kecoklatan itu. Genggaman tangan mereka pun tanpa sadar mengerat, perasaannya saat ini campur aduk sekali.


Tetapi sepertinya Kai harus memperjelas semuanya, lagi pula setelah ini Ia juga yakin mereka tidak akan seperti ini lagi. Semua akan berubah. Mungkin mereka pun akan menjadi asing.


"Jujur saja ada, bukan hanya sekedar keponakan saja. Om mungkin terlihat menganggap kamu hanya sebatas keluarga, tapi semakin lama Om pun sadar perasaan itu bukan hanya itu saja," jawab Kai dari dalam hati.


Bola mata Daniella terlihat berbinar, senyuman di bibirnya pun tidak bisa ditahan terukir juga. Ia tidak mau menganggap saat ini Kai sedang berusaha menghibur nya, semoga saja jawabannya itu benar.


"Tapi.. Kita memang tidak bisa bersama Daniella, ada banyak alasan kenapa kita hanya bisa seperti ini. Om yang salah di sini, perasaan kamu itu tidak salah," lanjut Kai membuat Daniella kembali murung.


Daniella lalu menarik tangannya dan menundukan kepala. "Gak papa Om, Om juga gak salah," sahut nya pelan.


Ya tidak ada yang salah di sini, hanya mereka tidak bisa egois karena akan banyak mengorbankan banyak orang. Hubungan di antara mereka memang rumit. Selain keluarga, ya karena jarak umur yang jauh.


Tidak mau terlalu larut dalam suasana sedih ini, Kai lalu mengajaknya pergi. Entah kemana lagi lelaki itu akan membawa Daniella, Ia hanya ikut saja. Karena merasa setelah ini mereka tidak bisa berdua begini, ternyata Daniella pun bisa merasakannya.


Tetapi sepertinya Daniella sudah lelah dan tidak mau bersamanya lagi. "Aku mau pulang saja Om," jawab Daniella pelan tanpa menatap, lebih asik melihat keluar kaca mobil.


"Ya sudah kalau begitu, kita langsung pulang ya." Kai terlihat agak kecewa, padahal Ia masih ingin menghabiskan waktu dengan gadis itu.


Sepanjang perjalanan pun benar-benar tidak ada obrolan lagi, suasana terasa berubah dan sangat canggung. Tidak terasa mobil pun sampai juga di depan gerbang rumah Daniella, sebelum turun Ia tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Daniella, jangan terlalu memikirkan ini. Om jadi ikut kepikiran, ini akan membebani Om," ucap Kai sebelum gadis itu benar-benar turun dari mobil nya.


Daniella terlihat menggigit bibir bawahnya lalu menjawab. "Om tidak usah memikirkan aku juga, perasaan aku milik aku, biar aku yang menanggung semuanya. Sampai jumpa."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Ia benar-benar turun dan berjalan dengan langkah gontai memasuki gerbang rumah nya. Daniella bahkan tidak menoleh sedikit pun, tidak mau lelaki itu melihat wajah sembab nya.


Saat membuka pintu rumah, Daniella malah berpapasan dengan Erika. Sebelum Mama nya itu bertanya, Ia malah mendekat dan memeluk nya. Menyadarkan kepalanya di bahu, berusaha menenangkan hatinya.


"Ella, kamu kenapa? Kok pulang-pulang lesu begitu?" tanya Erika bingung sambil mengusapi punggung nya. Biasanya orang kalau sudah jalan-jalan keluar pasti akan bahagia.


"Gak papa Mah, Tiba-tiba aku lagi pengen dipeluk aja," jawab Daniella pelan.


"Kamu ini ada-ada saja, tapi yakin ya gak ada apa-apa? Jangan coba sembunyiin apapun dari Mama, kalau ada masalah juga harus cerita, jangan dipendam sendiri. "


Mendengar itu, Daniella pun meregangkan pelukan dan menatap Mamanya itu dengan perasaan campur aduk. Jika Mamanya meminta begitu, haruskah Ia ungkapkan semuanya agar hatinya pun lega?


Daniella memikirkannya agak lama, merasa ragu tapi juga ingin karena mendapat dorongan dari hatinya. Setelah bergelut dengan pikiran dan hatinya, akhirnya Ia pun memutuskan akan mengungkapkan semuanya pada Mama nya saja.


Entah bagaimana tanggapannya, itu nanti.


"Ada apa Ella, kamu kelihatan cemas gitu. Jangan buat Mama bingung dong," tanya Erika menegur nya yang dari tadi hanya diam.


"Mah, aku mau jujur saja sama Mama. Sebenarnya.. Sebenarnya aku--"


Daniella menghembuskan nafasnya kasar merasa berat untuk mengatakan ini, bibirnya pun terasa kelu. Tetapi bukankah Mamanya sendiri yang meminta Ia untuk jujur dan tidak menyembunyikan apapun?


"Ada apasih Ella, ayo bilang aja, gak papa," desak Erika sambil memegang tangannya, sepertinya ada hal berat yang mengganggu pikiran putrinya itu.


Daniella memilih memejamkan matanya lalu mengatakan dengan cepat. "Mah, sebenarnya aku suka sama Om Kai. Perasaan ini sudah dari lama aku rasakan. Ini bukan suka sekedar kagum biasa, tapi aku cinta sama dia.

__ADS_1


Tapi gak papa, aku akan mundur karena dia sebengar lagi juga akan menikah. Haha aku.. Aku baik-baik aja kok, sudah tahu juga akhirnya akan begini."


__ADS_2