
Olivia dan Dilon sudah meminta ijin akan liburan bersama ke Yogyakarta selama tiga hari. Berbeda dengan Dilon yang langsung diijinkan, Olivia butuh beberapa kali meyakinkan kedua orang tuanya karena Ia adalah anak perempuan.
Tetapi akhirnya Papanya pun mengijinkan, dengan syarat Ia yang harus menjaga batasan dengan Dilon dan jangan sampai ada cerita beberapa minggu ke depan kabar tidak sedap karena hasil liburan itu.
Sore itu Olivia sedang berada di luar, belanja di Mini market beberapa cemilan untuk perjalanan besok ke Yogyakarta. Inginnya semua langsung siap, jadi tidak perlu lagi repot beli ini itu di tengah jalan.
"Kayanya yang dibanyakin beli minuman aja, soalnya di jalan kan jauh," gumam Olivia yang kini sedang melihat isi lemari pendingin.
Dari mulai jus, air mineral sampai kopi Ia beli, Dilon sendiri menyerahkan semua kepada Olivia. Kali ini belanjaan pun yang membayar Olivia, karena bensin dari Dilon. Jadi mereka harus patungan dan adil.
Setelah merasa cukup, Olivia pun membawa keranjang penuh itu ke kasir untuk membayarnya. Totalnya sampai seratus ribu lebih, tidak lupa membayar setelah itu membawa kresek besar itu keluar.
"Aduh aku pulang nunggu jemputan Papa atau naik taxi aja ya? Kasihan Papa kalau kesini, repot," tanyanya seorang diri.
Akhirnya Olivia akan pulang dengan menaiki taxi online saja. Baru juga beberapa menit, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Apa ini taxi yang Ia pesan? Tanpa merasa curiga, Olivia pun masuk begitu saja ke bagian belakang.
"Cepat juga Pak sampai nya, lagi gak jauh dari sini ya?" tanya Olivia setelah duduk dengan nyaman.
Si supir hanya berdehem pelan lalu menjalankan mobilnya pergi dari sana. Olivia mengedikkan bahu berusaha acuh dan memilih melihat lagi isi belanjaannya, rasanya tidak sabar sekali berangkat besok.
Ia dan Dilon sudah membuat jadwal juga akan pergi kemana saja nanti.
Ckitt!
"Aduh!" pekik Olivia terkejut karena mobil berhenti tiba-tiba. Untungnya Ia memakai seatbelt, jadi tidak terjatuh ke depan, "Kenapa Pak?"
__ADS_1
"Ekhem maaf ada kucing lewat," jawab supir itu lalu kembali menjalankan kendaraannya lagi.
Kernyitan terlihat di kening Olivia, merasa ada sesuatu yang mengganjal. Entah kenapa suara si supir terasa tidak asing, hanya memang sedikit tertahan karena tertutupi masker. Penampilan supir itu lumayan tertutup, selain wajahnya tertutup masker juga memakai topi.
"Loh Pak kenapa belok kesini? Jalan ke rumah saya kan lurus," tanya Olivia bingung mulai menyadari.
Tetapi si supir tidak merespon, membuat Olivia perlahan dilanda rasa panik. Ia pun meminta mobil untuk berhenti, tapi lagi-lagi di abaikan dan malah kecepatan mobil semakin tinggi.
Merasa suasana mulai tidak aman, Olivia pun segera membawa ponselnya dan berusaha menghubungi Dilon. Tetapi sayangnya tidak aktif, membuatnya semakin takut. Saat Ia kembali mencoba menelepon lagi, mobil kembali berhenti mendadak membuat ponselnya itu malah terjatuh ke depan.
Sayangnya pergerakan Olivia terbatas karena seatbelt yang dipakai nya, dan ponselnya malah dibawa supir itu. "Hei kembalikan ponsel saya, kamu pasti berniat jahat kan? Lepasin gak, atau saya akan teriak!" ancam nya.
"Tenaglah Olivia, aku hanya ingin bicara dengan kamu tanpa ada yang mengganggu."
Tunggu, bagaimana supir itu bisa tahu namanya? Detak jantung Olivia seperti berhenti beberapa detik saat pria itu satu persatu membuka topi lalu masker nya. Kedua matanya sampai terbelak lebar baru menyadari.
"Iya ini aku," kata Septian dengan nada suara tenang nya, namun terlihat lelah karena tadi Olivia terlalu panik.
Olivia pun bersikut agak menjauh, alarm bahaya langsung terdengar di kepalanya. Baru saja beberapa hari lalu Ia memikirkan pria itu dan merasa khawatir dengan kepulangannya, dan ternyata kejadian juga.
"Septian, apa maksud kamu bawa aku begini? Kamu gak akan lakuin hal aneh-aneh kan?" tuduh Olivia dengan tatapan tajam berusaha tidak terlihat takut.
Septian hanya menarik sebelah sudut bibirnya, bukan terlihat licik tapi merasa lucu dengan pemikiran perempuan itu yang terlalu jauh. Posisinya duduk berputar, agak tidak nyaman tapi kan duduk di depan.
"Gimana kabar kamu? Sudah lama kita gak ketemu." Tidak terduga, itulah hal pertama yang Septian tanyakan, bahkan mengabaikan pertanyaan Olivia tadi.
__ADS_1
"A-aku baik, sekarang bahkan lebih baik," jawab Olivia sambil memalingkan wajah, enggan rasanya menatap Septian.
"Hm aku bisa lihat sendiri sih, kayanya kamu memang lebih bahagia dengan Dilon," kata Septian sambil tersenyum kecut.
Olivia tidak terlalu terkejut karena pria itu mengetahui dirinya balikkan lagi dengan Dilon. Entah dari mana mengetahui ini, tapi bisa saja menduga juga karena hal ini memang terlalu mudah. Toh Ia dan Dilon kan putus juga karena paksaan padahal masih saling mencintai.
"Kenapa kamu di sini? Kapan kamu pulang dari Amerika?" tanya Olivia menurunkan gengsi untuk bertanya balik.
"Aku sampai tadi malam, aku pengen banget ketemu kamu. Sayangnya keadaan sekarang sudah berubah, padahal dulu masih baik-baik aja kan?"
Olivia mendengus kasar, "Baik-baik gimana, itu menurut kamu saja," Ledek nya.
Septian terlihat menghela nafas berat dengan tatapan sendu nya, perubahan ekspresinya itu terus Olivia perhatikan lewat lirikan mata. Sebenarnya apa tujuan pria itu seperti mau menculiknya ini? Kan bisa bicara baik-baik, tidak perlu pakai adegan seperti ini.
"Olivia aku mau minta maaf untuk semua nya, aku sadar banyak salah sama kamu dan juga orang tua kamu. Aku terlalu berlebihan untuk bisa buat kamu mencintai aku juga, sampai aku melakukan hal di luar batas," ujar Septian yang kini sudah bisa berlapang dada menerima semuanya.
Olivia pun dibuat terdiam, merasa tidak menyangka saja akan mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Septian. Jadi pria itu hanya ingin meminta maaf? Ia jadi merasa tidak enak hati karena sempat berprasangka buruk.
Septian terlihat berusaha tersenyum, "Aku sudah menyelesaikan masalah dengan Papa kamu dari dulu, tapi ternyata aku sudah terlanjur buat beliau kecewa sampai tidak diijinkan lagi bertemu kamu. Tidak apa, aku bisa mengerti," lanjutnya.
Keduanya lalu terdiam dengan pikiran masing-masing, sungguh suasana ini sangatlah tidak nyaman. Sebenarnya Septian sesak sekali untuk mengatakan ini, reaksi Olivia pun terlihat biasa saja.
Ternyata berjuang sendirian memang sangat berat, dan Septian sudah memilih akan benar-benar melepaskan perempuan yang dari dulu tidak pernah mencintainya balik itu.
"Aku.. Maafin kamu Septian, aku juga mau minta maaf karena gak bisa buka hati untuk kamu," ucap Olivia pelan namun masih bisa di dengar.
__ADS_1
Kenapa Olivia meminta maaf juga? Karena merasa Ia juga bersalah, padahal selama ini Septian selalu bersikap baik dan memberikan apapun untuk dirinya. Sayangnya itu belum bisa juga meluluhkan hatinya.