
Malam minggu ini Olivia sepertinya akan menghabiskan waktu dengan Dilon. Sebenarnya masih agak bingung mencari tempat untuk nge date, tapi dijalanin saja dulu.
"Kakak mau kemana malam-malam gini? Kok sudah dandan sih?" tanya Kai yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamarnya.
"Mau malam mingguan dong, Kakak kan punya pacar," jawab Olivia sombong.
"Emangnya Mama sama Papa bolehin?"
"Ya pasti nge bolehin lah, lagian mereka juga sudah kenal sama Dilon. Kenapa memangnya? Kamu iri ya? Makanya punya pacar. Eh tapi jangan deh, kan masih kecil," kata Olivia setengah meledek.
Kai hanya mengerucutkan bibirnya mendapat ledekan seperti itu dari Kakak perempuannya. Ia sebenarnya tidak suka dikatai anak kecil, tapi selama berpacaran pun tidak pernah berjalan baik.
"Aku boleh ikut gak?" tanya Kai penuh harap.
"Enggak lah, kalau kamu ikut yang ada ganggu tahu!" tolak Olivia mentah-mentah.
"Dasar pelit, ya sudah nanti pulangnya beliin aku makanan ya."
Dari pada Kai ikut, sepertinya lebih baik Olivia belikan makanan saja nanti, dan Ia pun mengangguk pasrah membuat Kai bersorak senang. Olivia pun melanjutkan langkahnya turun dari lantai dua.
"Ekhem mau kemana kamu Olivia?" tanya Kevin yang tidak sengaja melihat putrinya itu turun dari tangga.
Perlahan kepala Olivia menoleh ke belakang, langsung tersenyum kikuk pada Papanya, "Aku izin mau main ya Pah, gak papa kan?"
Melihat penampilan putrinya yang sudah cantik begitu, membuat Kevin yakin jika sepertinya Olivia akan kencan dengan pacarnya. Sebenarnya Kevin agak khawatir, tapi kalau tidak dituruti takut ngambek.
"Sama Dilon, kan? Apa ada yang lain lagi?" tanya Kevin.
"Enggak kok, cuman sama Dilon aja," jawab Olivia.
"Terus kalian mau kemana? Pokoknya jangan ke kelab malam ya, bahaya. Terus jangan ke tempat sepi juga, jangan sampai pacar kamu itu cari kesempatan!" tegas Kevin.
"Iya Papa tenang aja, palingan cuman nongkrong di Kafe atau gak ke Mall."
__ADS_1
Olivia tahu Papanya itu sangat menyayanginya dan khawatir Ia di apa-apakan oleh Dilon. Memang sih kadang pacarnya itu suka cari kesempatan, tapi Dilon pun kan akan menjaga batasan.
"Mama kamu sudah tahu, kan?" tanya Kevin.
"Sudah kok, tadi aku bilangnya dari pas pulang sekolah."
Kalau Keisha sih sudah pasti akan mengizinkan Olivia nge date dengan Dilon, wanita itu kan sangat mendukung hubungan dua remaja itu. Tetapi sepertinya nanti Kevin harus bicara lagi dengan sang istri.
"Pah aku berangkat sekarang ya, kasihan Dilon nungguin dari tadi di depan," pamit Olivia setelah melihat jam tangannya.
"Iya, hati-hati. Jangan pulang lewat tengah malam, kalau ada apa-apa telepon Papa. Mengerti?"
"Iya Papa, aku pergi dulu, dadah!" Olivia melambaikan tangan sambil berjalan mundur keluar dari rumahnya.
Olivia tidak perlu pusing mempersiapkan pakaian jika akan jalan dengan Dilon, karena pria itu kan suka membawa motor, jadi Ia pun memakai celana jeans. Setelah dekat, perempuan itu langsung tersenyum lebar pada kekasihnya.
"Jadi kita mau kemana?" tanya Dilon.
"Hehe sebenarnya aku masih bingung kita mau kemana, kita jalan-jalan aja sambil cari tempat bagus ya?"
Sebelum naik tidak lupa Dilon memakaikan Olivia helm agar aman. Setelahnya perempuan itu pun naik ke kursi bagian belakang, dan tanpa diminta langsung memeluk pinggangnya.
Di malam minggu ini suasananya adem sekali, tidak hujan juga seperti biasanya. Dilon sengaja mengendarai motornya tidak terlalu cepat, ingin menikmati suasana dengan kekasihnya. Ternyata jalan-jalan begini cukup menyenangkan juga.
"Lo pernah ke kelab malam gak?" tanya Dilon tiba-tiba. Sekarang motor sedang berhenti karena lampu merah.
Olivia menegakan duduknya lalu memukul pelan punggung Dilon, "Aku gak mau kesana, Papa juga tadi larang aku," tolak nya langsung.
"Hei siapa juga yang mau ngajak lo ke sana? Gue kan cuman nanya aja," bela Dilon sambil memutar kepalanya agar bisa menatapnya.
"Oh gitu ya, belum sih. Lagian kayanya aku gak cocok di sana, tempatnya berisik terus mata pasti sakit lihat lampu kerlap-kerlip," jawab Olivia dramatis.
Dilon malah tertawa kecil, ternyata pacarnya ini memang polos sekali. Kelab malam memang identik nya begitu, tapi kan sekarang zaman semakin berkembang dan tempat hiburan seperti itu semakin beragam saja.
__ADS_1
Tetapi Dilon juga tidak mau sih mengajak Olivia ke tempat seperti itu, cukup bahaya juga. Ia bukan lelaki kurang ajar yang ingin memanfaatkan keadaan. Dirinya memang bukan orang baik, tapi pacarnya ini jangan sampai terbawa keburukannya.
"Kamu pasti sering ya Dilon?" Kini giliran Olivia yang bertanya, motor pun sudah berjalan lagi.
"Enggak sering juga, dulu sih biasanya setiap malam minggu gini suka pergi bareng temen-temen. Tapi sekarang sudah jarang, kan ada kamu," jawab Dilon.
"Bagus deh, mending jangan pergi ke sana juga. Di sana juga pasti mabuk-mabukan, terus dugem. Ish gak patut di contoh!" celetuk Olivia membuat Dilon berusaha menahan tawanya.
Cukup lama mereka berkeliling sembari mencari tempat untuk bersantai, akhirnya tujuan akhir mereka berhenti di sebuah Kafe ternama. Baru dibuka, tapi sudah ramai dan kebanyakan para anak muda yang nongkrong.
"Tempatnya enak juga buat nongkrong, pantesan baru buka langsung ramai ya," ucap Olivia saat mereka memasuki Kafe itu.
"Iya, lo tahu dari siapa tempat ini? " tanya Dilon menyahut.
"Dari Tasya, dia kesini bareng temen ekskul nya katanya."
Karena di sana tempatnya cukup luas, bisa di dalam, luar atau lantai dua. Jadi masih ada juga tempat duduk yang kosong. Dilon dan Olivia pun memutuskan duduk di bagian outdoor dekat dengan pohon yang dihiasi banyak lampu, terlihat cantik sekali.
"Tadi udah makan belum di rumah?" tanya Dilon mengalihkan dari buku menu.
"Sudah sih, tapi lihat menu-menu di sini kelihatan enak dan jadi laper lagi hehe," jawab Olivia.
"Ya sudah pesen aja, banyak juga gak papa," kata Dilon. Ia sendiri belum sempat makan, jadi sepertinya akan pesan makanan berat sekalian.
Pelayan yang dari tadi menunggu dibuat tersenyum melihat pasangan kekasih itu, terlihat serasi dan romantis sekali. Si laki-laki sepertinya agak tsundere, sedang perempuannya ceria. Sungguh sangat cocok.
"Mbak sudah di catat belum pesanan saya?" tanya Olivia.
"Hah? Maaf Kak saya belum catat, apa bisa di sebutkan lagi?" Pelayan perempuan itu meringis pelan, sanking terlalu mengagumi sampai tidak fokus.
"Oh iya gak papa, saya sebutkan lagi ya." Untungnya Olivia pun bukan orang yang sensi, jadi tidak masalah menyebut pesanannya dan Dilon lagi.
Selesai mencatat, pelayan itu pun pergi dan meminta keduanya menunggu sampai tiga puluh menit. Agak lama, tapi pesanan mereka pun lumayan banyak. Di sini juga ramai sekali pelanggan.
__ADS_1
***
Hari ini update 3 bab langsung, jangan lupa like dan komennya biar aku makin semangat nulisnya😄