
"Sudah kamu menginap saja malam ini di sini," ucap Kai yang baru datang dan berdiri di sebelah nya. Keduanya diam memperhatikan air hujan yang turun di luar.
Daniella menghembuskan nafasnya berat dan kepalanya pun mengangguk mengiyakan. Tidak apalah mungkin hanya satu malam menginap di rumah Om nya ini. Sudah terlalu malam juga, selain itu di luar hujan turun dengan deras. Kasihan kalau Kai mengantar nya pulang, jauh juga.
"Sebentar ya Om pinjamkam kamu baju tidur milik Ayana, pasti gak nyaman kalau pakai baju itu," kata Kai lalu meninggalkan nya menuju kamar.
Entah kenapa, Daniella merasa gugup karena akan bermalam di rumah ini. Masalahnya hanya ada Ia dan Kai saja orang dewasa nya, ya walau ada pembantu dan babysitter juga sih, tapi kan mereka di halaman belakang.
Lamunannya terhenti melihat lelaki itu sudah kembali lalu memberikan sepasang piyama padanya, Ia pun menerima dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Kai lalu mengajaknya ke kamar tamu yang tidak terlalu jauh dari kamar nya juga.
"Kamu tidur di sini ya, berani gak?" tanya Kai sambil menarik sebelah sudut bibir nya.
Daniella yang paham sedang diledek pun mendengus kasar. "Berani lah, memangnya aku anak kecil apa?!" sewot nya dan langsung diketawain Kai.
Ia pun masuk ke kamar mandi yang masih menyatu di kamar itu untuk mengganti baju nya. Piyama panjang berwarna maroon ini terlihat sangat cantik, ya seperti selera fashion Ayana saja. Bahkan masih wangi, jadi mengingatkannya lagi pada almarhum.
Setelah mengganti bajunya, Daniella pun keluar dari kamar mandi itu. Ternyata Kai belum pergi, malah duduk di ujung ranjang sambil melihat sebuah buku. Ia yang penasaran pun mendekat dan duduk begitu saja di sebelah nya.
"Itu apa Om?" tanyanya sambil mencondongkan tubuh berusaha mengintip.
Kai pun menunjukan buku catatan itu. "Saat hamil Ayana menulis banyak bagaimana cara parenting, sekarang Om lagi pelajari karena banyak yang belum tahu. Om kan sekarang jadi Papa sekaligus Mama untuk Kenzo," jawab nya.
Tatapan Daniella pun menjadi sendu, ada rasa kasihan dan terharu mendengar itu. "Sabar ya Om, aku yakin Om pasti bisa rawat Kenzo. Tenang saja, masih banyak keluarga yang akan membantu," ucap nya berusaha menghibur.
"Iya Daniella, Om akan berusaha melakukan yang terbaik, semua untuk Kenzo," kata Kai berusaha tersenyum, walau hatinya masih agak sesak.
__ADS_1
Daniella lalu meminta ingin melihat buku catatan yang dihias banyak stiker lucu itu dan membacanya dengan baik. Tanpa gadis itu sadari, dirinya pun dari tadi di perhatikan Kai. Daniella yang menyadari pun mengangkat kepala dan menatap nya bingung.
"Kamu cocok pakai baju itu, sebenarnya piyama itu hadiah dari Om untuk Ayana waktu itu," kata Kai memuji nya, membuatnya dejavu dan mengingat almarhum istrinya itu lagi. Tetapi tidak bohong, dipakai Daniella juga cantik.
"Oh ya? Aku pikir Ayana yang beli, ternyata hadiah dari Om ya. Memang bagus sih piyama nya, nyaman juga," sahut Daniella sambil mengusap kain sutra itu.
"Kalau kamu suka ambil aja, gak papa."
Tetapi Daniella hanya tersenyum malu-malu mendengar itu. Ia sih sebenarnya mau-mau saja, tapi rasanya jadi tidak enak pada Ayana, ya walau wanita itu pun pasti tidak akan masalah memberikan kepadanya.
Tetapi kan ini hadiah dari Kai untuk Ayana, masa sekarang diberikan kepadanya.
"Ekhem kamu gak mau cerita gitu tentang pacar kamu itu? Om juga pengen lihat dong wajah nya, seberapa ganteng dia," dehem Kai mengalihkan obrolan. Saat membahas ini, ekspresi wajahnya terlihat jadi serius dan agak sinis.
"Masa? Jangan bohong ah, mana mungkin kamu gak punya pacar," tanya Kai menyelidiki.
"Beneran, aku belum pernah punya pacar selama kuliah. Yah banyak sih yang deketin, tapi.. Aku nyaman sendiri dan milih fokus belajar aja. Buktinya nilai-nilai mata pelajaran kuliah aku stabil semua, jadi ada untung nya juga."
Mendengar pengakuan itu membuat Kai tidak bisa menahan senyumannya. Sepertinya Daniella pun tidak bohong jika tidak punya pacar, apalagi ditambah dengan penjelasannya juga. Ternyata Ia sudah salah paham.
Kenapa Kai tiba-tiba merasa lega ya?
"Kenapa kamu milih gak punya pacar, apa belum move on dari Om?" celetuk Kai setengah bergurau, walau Ia agak berdebar menunggu tanggapan dari gadis itu.
Daniella pun menatap nya dalam beberapa saat. "Mungkin?"
__ADS_1
Ya lagi-lagi hanya tanggapan membingungkan itu, membuat Kai hanya menghela nafas berat. Ia tidak mau percaya diri menganggap Daniella itu masih ada perasaan kepadanya, tapi bolehkah Ia berharap kalau dirinya memang masih ada di hati gadis itu?
Kembali keduanya bertatapan, membuat suasana di sana pun perlahan berubah. Entah siapa yang memulai mendekatkan wajah, tapi untung nya sebelum berciuman, Daniella dengan cepat berpikir jernih lagi dan memalingkan wajah, membuat bibir Kai pun hanya mengenai pipi nya.
"Daniella, Om.. Om minta maaf, Om gak bermaksud bersikap berani begini," ucap Kai yang kesadarannya pun sudah kembali. Ia mengusap wajahnya kasar sambil menggerutu di dalam hati, mengumpati diri sendiri yang bertindak gegabah.
Tadi keduanya terbawa suasana saja, tapi setelah sadar malah sama-sama malu.
"Om jangan begini," lirih Daniella dengan kepala menunduk.
"Hah?" Kai pun kembali menatap gadis itu, meminta penjelasan maksud perkataannya tadi.
"Jangan secepat ini, kasihan Ayana. Aku juga akan merasa bersalah dan menjadi perempuan tidak tahu diri karena sudah sedekat ini dengan Om. Om tadi cium aku itu bukan apa-apa kan? Gak ada perasaan lebih kan?"
Kai langsung tertohok mendengar itu, membuatnya pun jadi malu sendiri. Benar, kejam sekali dirinya bisa secepat itu move on dari almarhum Istrinya yang bahkan belum sebulan ini meninggalkannya.
Tidak ini bukan salah Daniella, Kai yang salah karena terbawa suasana.
"Sudah malam Om, aku ngantuk mau tidur," gumam Daniella agak memohon dan minta ditinggalkan sendirian, Ia dari tadi tidak berani menatap lelaki itu, merasa malu.
Kai pun mengangguk mengerti lalu berdiri dari duduk nya, pandangannya dari tadi tidak lepas sedikit pun dari gadis itu. Bukan hanya Daniella yang sekarang merasa campur aduk perasaannya, tapi Kai juga.
"Sekali lagi Om minta maaf, tadi Om hanya terbawa suasana. Maaf kalau Om juga bersikap lancang, tapi.. Sepertinya dugaan kamu kalau Om tadi mencium kamu tidak ada perasaan apapun itu salah," ujar Kai penuh makna, setelah mengatakan itu Kai pun berbalik untuk keluar dari kamar itu.
Ia bisa merasakan detak jantung nya menjadi cepat setelah mengungkapkan itu. Apakah Daniella akan mengerti dengan maksud perkataannya tadi?
__ADS_1