Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Ingin Berbagi Kebahagiaan


__ADS_3

Sesaat setelah masuk ke dalam kamarnya, Olivia tidak bisa menahan rasa bahagia karena akhirnya kedua orang tuanya bisa mengerti keinginannya juga untuk berpisah dengan Septian.


Tetapi Ia belum bisa tenang sepenuhnya, karena sekarang harus bicara dulu dengan pria itu. Olivia pun duduk dengan agak kasar di atas ranjang, membuka ponselnya untuk menghubungi nomor Septian yang tadi sempat Ia block.


Butuh beberapa waktu sampai akhirnya panggilan pun diangkat, mungkin lama karena di sana waktu sudah sangat malam. Tetapi Olivia tidak mau menunda lagi, Ia dan Septian benar-benar harus menyelesaikan ini.


["Hm Olivia, kamu kenapa baru hubungin aku? Kamu tadi block nomor aku kan?"] tanya Septian dengan suara serak nya, sepertinya benar terbangun dari tidur.


"Langsung saja deh, mulai hari ini kita putus. Tunangan kita juga batal, sekarang kita bukan siapa-siapa lagi!" ucap Olivia tidak mau basa-basi.


["Loh-loh kenapa tiba-tiba begini?"]


Olivia mendengus kasar, sok playing victim sekali pikirnya si Septian itu. Bukannya tadi juga Ia sudah mengetahui fakta jika Kirana adalah sepupunya dan dijadikan mata-mata nya.


Sepertinya Olivia juga harus tanyakan hal yang satu ini juga, "Septian, kamu emang benar-benar gila ya. Jadi kamu yang sudah buat masalah di perusahaan Papa? Gak punya hati ya kamu!"


Hening di sana, tidak terdengar apapun walau panggilan mereka masih terhubung. Mungkin Septian terkejut karena kebusukannya itu mereka ketahui, dan sekarang sepertinya sedang memikirkan alasan apa yang akan dibuat.


"Kenapa diam? Kaget ya aku tahu, oh bukan hanya aku, tapi keluarga aku juga tahu kalau kamu yang sabotase dan sebarin data perusahaan," lanjut Olivia terus memanasi.


["Papa kamu.. Sudah tahu?"] tanya Septian.


"Iyalah tahu, malahan aku tahu dari Papa tadi. Kamu tahu? Mereka juga langsung minta aku putusin kamu, orang tua aku benar-benar kecewa sama kamu Septian. Setelah ini, kamu gak akan bisa manfaatin mereka lagi." Setelah mengatakan itu, Olivia pun segera mematikan panggilannya.


Tidak lupa Ia juga dengan cepat memblokir nomor Septian lagi agar tidak mengganggu. Tidak terbayang seberapa paniknya Septian di sana, ya itu pun jika masih punya hati. Tetapi kalau tidak, ya bersikap acuh.


Kembali senyuman terukir di bibir tipisnya, entah kenapa hatinya merasa lega sekali karena merasa permasalahan rumit hubungannya kini sudah berakhir. Yang terpenting itu adalah restu orang tuanya, akhirnya Tuhan tunjukkan juga jalan yang benar.

__ADS_1


"Dilon harus tahu ini, besok aku akan kabarin dia. Eh tapi besok gak ada kelas, gak papa deh aku bakal ke rumahnya aja main," gumam Olivia tidak sabaran sendiri.


Perempuan itu memilih beranjak untuk membersihkan diri dan turun ke lantai bawah untuk makan. Rasanya tidak sabar hari esok untuk mengabarkan ini pada Dilon. Apakah pria itu akan senang karena orang tuanya sudah tidak merestui nya dengan Septian? Ya semoga saja.


***


Esok paginya Olivia sudah bangun rajin, entah kenapa hari ini merasa senang sendiri mungkin karena tahu kehidupannya setelah ini akan lebih baik. Ternyata berpisah dengan Septian semenyenangkan ini.


Kenapa tidak dari dulu?


Alasannya sangat rumit, apalagi kedua orang tuanya sangat mendukung dirinya dengan Septian. Tetapi akhirnya sifat asli pria itu terbongkar, bahkan menurut Olivia, Septian blunder sampai membuat kedua orang tuanya kecewa.


"Eits tunggu, Kakak sudah rapih wangi begini mau kemana?" tanya Kai yang menghalangi tangga dengan kedua tangan merentangnya.


Olivia menarik sebelah sudut bibirnya lalu menjawab dengan santai, "Ke rumah Dilon dong, mau main ke sana. Kamu diam saja di rumah, gak usah ikut!"


"Sudah ah jangan ganggu, sekarang Kakak butuh waktu berdua bareng Dilon." Olivia pun menggeser tubuh adiknya itu ke samping lalu baru lah Ia bisa lewat dan turun dari tangga.


Olivia sengaja belum mengabari Dilon jika dirinya akan berkunjung, ingin memberikan kejutan saja. Tidak lupa di jalan membeli kue brownies untuk dibawanya ke sana nanti.


Sesampainya di depan gerbang rumah Dilon, Olivia pun turun dan terlebih dahulu meminta izin kepada satpam yang masih mengenalinya. Langkahnya memelan saat sebentar lagi sampai di depan rumahnya, melihat ada beberapa mobil terparkir di sana.


"Apa ada tamu ya? Huft aku jadi gak nyaman kalau banyak orang. Terus sekarang gimana, apa aku telepon Dilon saja ya?" tanyanya seorang diri.


Baru saja akan mengambil ponselnya, suara panggilan seseorang membuat Olivia mengangkat kepala untuk melihat. Bibirnya langsung melengkungkan senyuman lebar melihat ternyata itu adalah Erika.


Kedua perempuan itu pun berpelukan sambil cepaka-cepiki dengan asiknya, "Olivia, Tante sudah duga dikejauhan kalau itu kamu," kata Erika.

__ADS_1


"Hehehe iya Tante, lagi mau main ke sini. Apa Dilon nya ada?" tanya Olivia langsung mengungkapkan. Sebenarnya tanpa bilang pun, pasti Erika akan langsung tahu.


"Ada kok ada, yuk masuk," ajak Erika sambil menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam rumah.


Ternyata benar sedang ada tamu, sepertinya sebuah keluarga. Untungnya Erika tidak mengajaknya ke ruang tamu untuk menyapa mereka, karena Olivia akan sangat malu dan canggung.


Tetapi Erika tidak bisa mengantarnya sampai ke belakang karena dipanggil suaminya. Hanya memberitahu jika Dilon tadi sedang di halaman belakang, Olivia pun mengangguk saja tidak masalah pergi sendirian.


Setelah keluar dari pintu belakang, mata Olivia memperhatikan sekitar dengan jeli mencari satu orang. Tetapi senyuman di bibirnya terlihat luntur mengetahui ternyata Dilon tidak sendirian, melainkan sedang bersama seorang perempuan.


"Ish Dilon jangan injek-injek dong, nanti sendal aku kotor!" kata perempuan itu dengan nada centil nya sambil tertawa yang malah terlihat kesenangan dikerjai.


Bukannya berhenti, Dilon malah kembali mengerjai perempuan di sebelahnya itu, "Salah siapa yang mulai duluan," sahutnya.


Olivia pun berbalik merasa sepertinya Ia salah waktu datang kesini, karena malah menemukan pemandangan yang membuat sesak begitu. Sepertinya nanti saja Ia bicarakan ini dengan Dilon, karena Ia juga tidak mau mengganggu.


Dengan terpaksa Ia pun pergi dari sana dan kembali masuk, saat sebentar lagi mau keluar dari rumah malah tidak sengaja berpapasan dengan Erika lagi. Olivia pun berusaha tersenyum pada wanita itu menyembunyikan perasaan sesaknya.


"Em Tante aku mau pulang saja, kayanya nanti saja deh ketemu Dilon nya," ucap Olivia, Ia lalu memberikan bingkisan kue yang dibelinya tadi, "Ini untuk Tante, dimakan ya nanti, baby nya pasti suka."


"Loh kenapa buru-buru? Kamu kan baru sampai. Memangnya sudah ketemu Dilon nya?" tanya Erika yang terkejut sendiri.


"Nanti saja deh Tante, kayanya dia lagi asik berduaan gak tahu sama siapa. Aku gak mau ganggu," jawab Olivia pahit, Pura-pura kuat.


Setelah menyalami tangan Erika dan mengucap salam, Olivia pun berjalan dengan langkah gontai keluar dari rumah itu. Tidak bohong Ia cemburu melihat Dilon sedekat itu dengan perempuan lain.


Pertanyaan-nya, Kira-kira siapa perempuan tadi?

__ADS_1


__ADS_2