
Selesai pertandingan bola voli, Olivia meminta izin sebentar pada gurunya dengan alasan akan ke toilet, padahal nyatanya mau mencari Dilon. Suasana sekolah terasa sepi, itu karena kelas lain pun sedang melaksanakan jam pelajaran.
Awalnya Olivia mengecek ke kelas, tapi ternyata kosong tidak ada siapapun. Ia lalu mencoba menghubungi Dilon, sayangnya ponselnya tidak aktif. Tidak sengaja di Koridor, Ia berpapasan dengan Vanessa yang sedang membawa segelas air.
"Mau kemana kamu Vanessa?" tanya Olivia menghampiri lebih dulu.
"Mau ke UKS, gak tahu ya Dilon lagi istirahat di sana? " Vanessa memutuskan memberitahu, walau pikiran licik untuk menyembunyikan sempat terlintas.
Kedua mata Olivia terbelak terkejut mendengar itu. "Kenapa Dilon di UKS? Dia gak papa kan?"
"Kayanya badannya kurang fit, apalagi sudah panas-panasan," jawab Vanessa. Ia lalu mengajak perempuan itu ke UKS bersama, ternyata ada satu guru piket yang berjaga.
Melihat kekasihnya itu tiduran di ranjang sambil memejamkan mata, membuat Olivia pun segera mendekat dan duduk di sisi ranjang. Terlihat buliran keringat di kening dan leher pria itu, membuat Olivia semakin khawatir tapi juga bingung apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu kayanya Olivia mau temenin Dilon di sini, jadi saya mau balik ke lapangan aja," pamit Vanessa setelah menyimpan segelas air tadi di meja sisi.
Olivia sempat melirik Vanessa, merasa ada yang aneh dengan sikap perempuan itu. Sepertinya Vanessa benar serius mau berubah, karena kini tidak suka centil dan mencari perhatian Dilon lagi, bahkan dengan senang hati memberikan tugas ini pada orang yang lebih berhak, yaitu pacarnya Dilon.
Vanessa pun membalas tatapan Olivia, tapi tidak lama karena Ia segera keluar. Olivia menggigit bibir bawahnya, merasa tidak enak karena belum sempat berterima kasih. Terbukti jika Ia masih gengsi, tapi pasti nanti Olivia harus berterima kasih.
"Dilon, kamu kenapa?" tanya Olivia sambil memegang tangan pria itu yang terasa hangat.
__ADS_1
Perlahan mata yang tadinya tertutup itu pun terbuka, bibirnya yang pucat terlihat tersenyum tipis. "Hei kamu kesini? Aku kira tadi Vanessa," katanya.
"Dia sudah balik lagi ke lapang, dia malah yang ngasih tahu aku kamu di sini. Kamu kenapa? Tadi aku sempet lihat kamu pergi dari lapang. Kenapa wajah kamu juga pucat?" Banyak sekali pertanyaan yang Olivia lontarkan, merasa penasaran.
Sebelum menjawab, Dilon sempat melirik penjaga UKS, untungnya gurunya yang masih muda itu peka lalu memilih beranjak memberikan waktu. Kini hanya mereka berdua di sana, membuat Dilon pun tidak malu lagi bermanja pada kekasihnya ini.
Dilon membawa tangan Olivia lalu mengecupnya sekilas. "Gue nekad, padahal gue gak bisa kena panas. Kepala gue selalu pusing, dokter bahkan udah bilang. Gue kira udah sembuh, ternyata masih sama aja," ucapnya memutuskan memberitahu.
"Emangnya kamu vampir ya gak bisa kena sinar matahari?" tanya Olivia bergurau, dan ternyata berhasil juga membuat Dilon tertawa.
"Kayanya gitu, makanya gue ganteng banget, soalnya kan gue vampir. Dan vampir ini haus banget, pengen minum darah sucinya," celetuk Dilon ikut bergurau. Pria itu sempat menjilat bawah bibirnya sambil menatap dalam Olivia.
Olivia dibuat bergidik mendengar itu, walau Ia tahu Dilon hanya bercanda. Ia lalu membawa segelas air putih yang tadi dibawa Vanessa, ternyata masih hangat. Saat Olivia tanyakan apa Dilon itu sudah makan atau belum, katanya sudah tadi pagi.
Setelah mendapatkan bubur itu, Olivia pun segera kembali ke UKS lagi. Tetapi di sebuah koridor, Ia malah tidak sengaja berpapasan dengan Septian. Perasaan gugup pun perlahan hinggap, Olivia hahya merasa bingung harus bagaimana. Keduanya berjalan berlawanan arah, tapi saat berpapasan malah terdiam dengan kepala sama-sama menunduk.
"Ekhem Olivia!" panggil Septian tiba-tiba, membuat langkah Olivia terhenti. Ia pikir pria itu tidak akan menyapanya.
Olivia membalikan badan dan menatap bertanya pria itu. "Ada apa?"
Septian terlihat membungkukan badannya, lalu membawa sesuatu dari lantai. Saat Olivia melihat nya, terkejut karena itu adalah uang lembarannya. Bukan mengaku-ngaku, tapi Ia masih ingat kembalian dari membeli bubur ada uang lembaran seperti itu.
__ADS_1
"Uang kamu jatuh, nanti kalau hilang jajannya jadi berkurang lagi," kata Septian dengan senyuman manis seperti biasanya.
Olivia pun menerimanya. "Makasih ya, untung aja kamu lihat," ucapnya.
"Hm sama-sama, tapi lain kali hati-hati." Septian lalu tidak sengaja melihat semangkuk bubur di tangan Olivia. "Siang-siang gini makan bubur, kamu belum makan ya?"
"Hah? Bukan, ini untuk Dilon. Dia lagi sakit di UKS, belum makan siang juga. Bu guru bilang sebelum minum obat harus ada makanan yang masuk dulu walaupun sedikit," jawab Olivia menjelaskan.
Perempuan itu lalu bisa melihat ekspresi wajah Septian berubah dalam sekejap saat Ia menyebutkan nama Dilon. Ia tahu hubungan dua lelaki itu memang tidak akrab, dan Olivia tidak mau semakin memperkeruh nya.
Olivia lalu izin pergi lebih dahulu, beralasan khawatir Dilon menunggunya lama. Septian hanya mengangguk, dengan senyuman penuh artinya. Selama berjalan pergi dari sana, entah kenapa Olivia merasa Septian di belakangnya terus memperhatikannya.
"Dilon ayo bangun, makan dulu. Setelah makan lanjut minum obat, terus baru bisa tidur!" teriak Olivia memasuki UKS, membuat Dilon yang sempat memejamkan mata pun terpaksa terbuka lagi.
Dengan perhatiannya Olivia yang akan menyuapi pria itu, sedikit demi sedikit yang penting pasti. Jadi ingat saat dirinya pun sakit, Dilon yang menemani dan merawatnya. Sekarang mereka gantian. Walaupun Dilon sedang tidak enak badan, tapi ternyata nafsu makannya tetap banyak.
Semangkuk bubur pun habis juga, membuat Olivia senang sendiri karena Dilon tidak terlalu manja. Ia juga membantu menyiapkan obat, selesai Dilon meminum obatnya kembali membaringkan tubuhnya. Kini wajah Dilon pun jika di perhatikan lagi sudah tidak terlalu pucat.
"Dilon aku masih belum terlalu ngerti, jadi maksudnya kamu emang gak bisa panas-panasan gitu ya?" tanya Olivia memastikan, takut salah paham.
Dilon mengangguk pelan. "Hm, dari kecil sih sebenarnya ada kelainan kaya gini. Tapi tenang aja, aku gak papa kok. Kalau pusing gini, istirahat sebentar terus minum obat juga langsung sembuh lagi," jawabnya.
__ADS_1
Olivia mengangguk sambil menghela nafas lega, padahal Ia sempat khawatir Dilon ini terkena penyakit parah. Melihat pacarnya itu yang mulai memejamkan mata, membuat Olivia memilih beranjak keluar karena tidak mau ganggu. Ia juga harus kembali lagi ke lapang, takut dimarahi guru.