
Merasakan air mata kembali menetes di pipinya, membuat Olivia pun segera menghapus kasar. Bukan perasaan sedih yang sekarang Ia rasakan, tapi rasa muak dengan sikap Septian yang berlebihan itu.
Jadi Kirana terus mendekatinya hingga Ia pun luluh dan mereka menjadi akrab ternyata ada maksud. Pasti disuruh Septian untuk memata-matainya. Bisa jadi juga Ia yang dekat dengan Dilon pun langsung dilaporkan.
"Huh dasar, benar-benar muka dua. Aku kira dia tulus jadi teman aku, ternyata ada maksudnya," dengus Olivia kesal sambil melempar batu kerikil ke danau di depannya.
Sekarang langit sudah gelap, menandakan waktu sudah malam. Di danau sana hanya dirinya seorang saja, walau begitu tidak merasa takut, malahan merasa nyaman karena sedang ingin menyendiri.
Padahal di Kampus teman yang dekat dengannya hanya Kirana, mengingatkannya pada dua temannya dulu saat di SMA. Sayang sekali sekarang berjauhan karena beda-beda kota.
Drrtt!
Lamunan Olivia terhenti merasakan getaran di ponselnya. Sudah pasti itu bukan Septian karena nomornya sudah Ia blokir, pasti pria itu akan terus menghubunginya dan berusaha membuat alasan.
Melihat yang menelepon adalah Papanya, membuat Olivia pun segera mengangkatnya. "Iya Hallo Pah, ada apa?"
["Kamu dimana sekarang Olivia, kenapa belum pulang?"]
"Aku lagi main di danau, sebentar lagi pulang. Memangnya kenapa?"
["Ada yang ingin Papa bicarakan dengan kamu, cepatlah pulang, ini penting!"] setelah mengatakan itu, Kevin pun mematikan panggilan dari sana.
Perasaan Olivia pun kembali dihinggapi perasaan tidak nyaman, Ia malah menduga sikap dingin Papanya karena Septian. Jangan-jangan pria itu bersikap manipulatif lagi dan melaporkan sesuatu tentang nya hingga membuat kedua orang tuanya marah?
Tanpa sadar Olivia mengeratkan telapak tangannya yang memegang ponsel, "Awas saja kamu Septian kalau sampai bicara aneh-aneh sama orang tua aku," desisnya.
__ADS_1
Sebelum beranjak pulang Ia memastikan dahulu tidak ada barang yang tertinggal, setelah dirasa tidak ada langsung berjalan pergi dari danau itu. Di sana tidak gelap karena ada banyak lampu taman, setelah berjalan pun ada beberapa orang juga yang bertemu.
Olivia pulang dengan menaiki taxi online yang di pesannya. Selama perjalanan menuju ke rumahnya entah kenapa Ia merasa gugup, khawatir saja setelah sampai malah dimarahin. Itu berarti benar Septian memang mengatakan sesuatu kepada kedua orang tuanya.
Pertanyaan-nya, bukankah pria itu yang bersikap berlebihan sampai membuatnya kesal. Kenapa malah playing victim?
"Ini Pak ongkosnya, makasih ya," ucap Olivia memberikan uang pada supir taxi ity, setelahnya Ia pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam gerbang rumahnya.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, Ia sempat menenangkan diri dahulu dengan menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan. Merasa sudah lebih tenang, barulah Olivia pun membuka pintu dan masuk.
Tubuhnya terlihat tersentak karena kedua orang tuanya langsung menyambut di ruang utama, mereka duduk bersebelahan di sofa. Lewat lirikan mata, Papanya memintanya duduk di depannya dan Olivia pun menurut saja.
"Ekhem sebenrnya ada apa? Apa ini menyangkut Septian?" tanya Olivia langsung untuk memastikan, "Kalian harus dengar dulu alasan aku, bagaimana aku tidak marah dengan sikap dia yang berlebihan itu."
"Hah?"
Olivia pun langsung mengatupkan bibirnya merasa bukan tentang hal tadi yang akan orang tuanya bicarakan tentang Septian. Ia pun memilih diam dan akan mendengarkan saja, dari pada semakin memperlihatkan aib nya.
"Papa cuman mau minta kamu untuk putus dengan Septian, Papa dan Mama sudah tidak mau lagi kamu berhubungan dengan orang licik seperti dia."
Bagai tersambar petir, betapa terkejutnya Olivia mendengar perkataan mendadak seperti itu dari Papanya. Kedua matanya sampai terbelak lebar, dengan ekspresi terkejut yang menggemaskan. Tetapi segera Ia menormalkan lagi ekspresi wajahnya.
Olivia herdehem pelan lalu bertanya lagi untuk memastikan, "Papa gak bercanda minta aku putus dari dia kan?"
"Kenapa? Bukannya waktu itu kamu bilang terpaksa juga terima dia? Apa sekarang sudah jatuh cinta sama Septian?" Nada suara Kevin terlihat sinis saat bertanya, seperti seseorang yang tidak suka.
__ADS_1
Kepala Olivia pun langsung menggeleng, "Ish enggak, bukan itu. Maksudnya kan Papa sama Mama kekeuh banget dan setuju aku tunangan sama dia, kalian juga dukung banget hubungan kami. Terus kenapa tiba-tiba minta aku putusin dia?"
Orang tuanya tidak langsung menjawab, mereka malah saling bertatapan lalu menghela nafas berat di waktu bersamaan. Olivia yang melihat itu tentu saja semakin yakin ada sesuatu yang terjadi.
Kevin pun mulai membuka suara, alasan kenapa dirinya tidak setuju lagi dengan hubungan putrinya dengan lelaki yang sempat dibanggakan nya itu. Ternyata semua berhubungan dengan masalah di perusahaan nya, setelah diselidiki lagi yang membocorkan data perusahaan ternyata adalah suruhan Septian.
Kedua maya Olivia pun kembali terbelak terkejut mengetahui itu, "Apa jadi dia yang sudah buat masalah di perusahaan Papa?!" pekiknya.
"Iya, cukup susah nemuin hacker itu, tapi semua terhubung pada Septian. Papa memang belum bicara dengan dia, tapi dia pasti sudah tahu kalau perusahaan akhirnya nemuin bukti yang menjurus ke dia lewat suruhannya itu," jawab Papa nya yang terlihat serius.
Sebenarnya Olivia juga sudah sempat menduga ini dari awal, Ia tentu sangat ingat bagaimana ancaman Septian waktu itu yang akan mengganggu keluarnya hanya karena Ia tidak menuruti perintahnya.
Tetapi Olivia tidak menyangka Septian sampai sejauh itu, apalagi sampai membuat kekacauan di perusahaan Papanya yang bisa dibilang masalahnya cukup besar. Tentu saja Ia tidak terima mengetahui ini, menjadi ikut kesal juga.
Keisha yang dari tadi diam pun baru membuka suara, "Terus kenapa tadi kamu kelihatan kesal sama dia? Coba ceritakan sama kami."
"Em itu.. " Olivia bimbang, haruskah Ia ceritakan juga?
Tetapi sepertinya ini waktu yang tepat, karena kedua orang tuanya pun akan semakin tahu bagaimana sifat asli Septian itu. Bukan maksud menjelekkan, tapi anggap saja Olivia ingin semakin meyakinkan mereka untuk tidak percaya lagi pada Septian dan semakin yakin kalau dirinya juga ingin berpisah.
"Kalian harus tahu kalau selama ini Septian juga nyuruh seseorang untuk mantau kegiatan aku terus selama di sini. Tapi yang paling aku gak nyangka, ternyata orang itu adalah temen dekat aku. Dia ternyata sepupu Septian, makanya Septian pun selalu tahu apa saja yang aku lakuin di sini," ucap Olivia mengungkapkan.
Kembali wajah orang tuanya terlihat tertekan, merasa tidak enak hati karena sudah sangat mempercayai Septian sebegitu besarnya waktu itu bahkan sampai langsung menjalin hubungan serius juga.
Kevin pun kembali membuka suara, "Maafkan kami Olivia, seharusnya kami sebagai orang tua bisa menjaga kamu. Sekarang kami tidak akan memaksa kamu lagi, kamu berhak memilih kebahagiaan kamu sendiri."
__ADS_1