Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Ada Dalam Pantauan


__ADS_3

Di sesi istirahat sebelum ujian jam ke dua dimulai, Olivia pamit untuk ke toilet membuang hajatnya. Suasana di sekolah benar-benar sepi, apalagi toilet yang Ia datangi lumayan jauh dari kelas dua belas, bahkan hanya Ia seorang saja di dalam.


Setelah selesai mengeluarkan hajatnya, Olivia pun pergi untuk kembali ke kelasnya. Tetapi saat berbelok Ia malah terkejut karena bertabrakan dengan seseorang, keningnya sampai sakit karena menabrak sesuatu yang keras. Saat Olivia mengangkat kepala, langsung terdiam melihat orang itu.


Septian terlihat tersenyum menyeringai ke arah nya, "Hai sayang," sapanya.


"Septian, ngapain kamu di sini?" Jangan bilang pria itu diam-diam mengikuti nya? Apalagi di sana hanya mereka berdua.


"Aku kangen sama kamu, dari pagi kita kaya orang asing." Septian lalu mengusap puncak kepala Olivia, "Kamu juga dingin banget, gak nyapa aku sama sekali."


Olivia lalu menepis pelan tangan Septian, "Septian jaga sikap kamu, ini di sekolah dan aku gak mau ada yang lihat, apalagi Dilon!" protesnya.


"Kamu ini berlebihan banget, santai aja dong. Lagian kan kita sekarang emang udah jadian, bebas dong mau ngapain aja," kata Septian dengan santainya.


Baru saja akan membuka suara untuk protes, Septian malah bergerak mendekat lalu mendorong Olivia ke dinding. Pria itu berada di depannya dengan posisi dominan, mengurungnya seperti mangsa. Kedua tangan Septian bahkan terulur di samping kepalanya.


Olivia bisa merasakan jantungnya berdebar semakin cepat. Tidak jangan salah paham, Ia bukan sedang salah tingkah atau baper, tapi merasa takut jika ada yang melihat dan memergoki. Memang sih di sana tidak ada orang, tapi kan tidak ada yang tahu namanya kebetulan.


"Aku lihat kamu sama Dilon masih mesra ya, kalau kamu bersikap manis terus begitu gimana mau lepas dari dia? Kamu sendiri yang sudah janji untuk jaga jarak mulai dari sekarang," ucap Septian dengan tatapan dalam menusuknya.


Olivia menelan ludahnya susah payah, "Aku butuh waktu, gak mudah rasanya untuk bersikap dingin begitu sama dia," jawabnya membela diri.


"Makanya kamu harus biasain diri dari sekarang. Pokoknya aku gak mau tahu, aku sudah kasih kamu batas waktu sampai ujian berakhir. Pegang janji kamu Olivia!" desis Septian.

__ADS_1


Biasanya Septian selalu bersikap santai dan agak jahil, tapi kali ini Olivia bisa merasakan sendiri jika pria itu sedikit dominan dan agak menyeramkan jika sedang serius begitu. Olivia yang biasanya berani pun jadi ciut, apalagi tubuhnya tidak terlalu tinggi sedang Septian sangat tinggi.


Kedua mata Olivia terbelak melihat wajah pria itu perlahan mendekat, apa yang akan Septian lakukan? Untungnya Ia langsung memalingkan wajah ke samping, membuat Septian hanya bisa mengecup pipinya. Olivia pun langsung mendorong dada Septian menjauh.


"Kamu apa-apaan sih Septian, gimana kalau ada yang lihat! Jaga batasan kamu, kita belum sedekat itu!" kesal Olivia dengan suara agak kerasnya, menandakan jika dirinya sedang marah.


Septian belum menjauhkan wajahnya, "Jadi kalau misal kita lagi berdua gak papa gitu?"


"Ck bukan gitu, sudah ah lepasin, aku mau balik ke kelas!" Setelah mengatakan itu, Olivia pun berjalan cepat pergi dari sana.


Sempat menoleh ke belakang, untungnya Septian itu tidak mengikutinya. Tetapi melihat seringai di bibir pria itu, membuatnya kesal karena merasa sikap Septian memang cukup berani kepadanya. Ia juga kan terpaksa jadi pacarnya karena persyaratan itu, tidak dengan sesuka hati.


Olivia hampir menangis tadi, karena merasa tidak berdaya dan takut. Di tempat umum seperti ini saja berani, bagaimana kalau mereka sudah resmi bersama? Jangan sampai pria itu mempermainkan nya, Ia harus kuat dan jangan terlihat lemah.


"Aku dari toilet lantai bawah, perut aku sakit jadi agak lama di sana," jawab Olivia setengah berbohong. Tidak akan berterus terang jika Ia sempat ditahan Septian.


"Emangnya habis makan apa sih kok sakit perut begitu? Lain kali jangan makan-makanan pedes terlalu banyak," tegur Dilon sambil mengusap kepala Olivia sayang.


Olivia hanya mengangguk pelan dan keduanya pun masuk kembali ke dalam kelas untuk mengikuti ujian pelajaran terakhir untuk hari ini. Nanti pasti akan pulang lebih cepat dari biasanya, menjadi kesenangan sendiri bagi semuanya bisa pulang lebih awal.


Waktu berjalan cukup cepat, ujian terakhir pun selesai juga. Setelah mengumpulkan lembar jawaban, mereka memutuskan langsung pulang dan mempersiapkan lagi ujian di hari esok. Ini baru hari pertama, masih ada waktu tiga hari lagi.


Di ambang pintu, Dilon langsung mencegat kekasihnya itu, "Jalan dulu yuk, kemana gitu, nongkrong di Kafe juga boleh," ajaknya bersemangat sendiri.

__ADS_1


"Em kayanya gak bisa deh Dilon, aku sudah janji sama Mama mau langsung pulang," tolak nya tidak enak. Ia bohong, Mamanya tidak menyuruh begitu. Tetapi Olivia kembali ingat perkataan Septian tadi di bawah.


Senyuman di bibir Dilon pun langsung menghilang, "Yah kok gitu, ini kan masih siang sayang, gak papa mungkin sebentar aja. Aku masih kangen sama kamu."


Melihat wajah murung Dilon membuat Olivia tidak tega, Ia pun mengusap pipinya berusaha menenangkan. Tetapi matanya malah tidak sengaja melihat Septian yang berdiri di kejauhan tepat di hadapannya. Pria itu melipat kedua tangan di dada, dengan tatapannya yang tajam. Olivia pun kembali menarik tangannya.


"Ekhem maaf banget Dilon, lain kali lagi aja ya. Lagian sekarang kita itu jangan kebanyakan main, harus fokus belajar untuk ujian," ucap Olivia berusaha meyakinkan.


Dilon menghembuskan nafasnya kasar, merasa sedikit keberatan mendengar itu. Padahal mungkin hanya dua jam juga tidak akan mengganggu, waktu belajar juga masih banyak. Tetapi Dilon tahu, kekasihnya ini orang yang rajin dan pelajaran adalah nomor satu.


"Ya sudah kalau gitu, aku hargain. Tapi nanti kalau aku pengen telepon kamu diangkat ya?" pinta Dilon.


Olivia mengangguk pelan, "Iya."


Saat Dilon menggenggam tangannya lalu menarik pergi dari sana, Olivia sempat melirik ke arah Septian lagi. Ternyata pria itu masih di sana, perhatiannya pun tidak lepas sedikit pun darinya membuat Olivia jadi kikuk sendiri. Ia seperti sedang terciduk, padahal Dilon juga masih pacarnya.


Keadaan ini membuat Olivia canggung sendiri, tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia juga merasa tidak enak pada Dilon karena merasa seperti sudah berkhianat, walau tujuannya bukan begitu juga. Ya semoga saja Dilon itu tidak tahu.


"Kamu mau langsung pulang ke rumah nanti? Atau mau nongkrong dulu mungkin sebentar sama temen?" tanya Olivia saat Dilon sedang memakaikan helm untuknya.


"Kayanya mau ke basecamp dulu sebentar, nanti agak sorean pulang," Jawab Dilon tanpa menatap, tapi bukan berarti sedang marah.


"Yang penting kamu harus belajar ya, jangan terlalu banyak main," nasihat Olivia dan langsung diangguki Dilon.

__ADS_1


__ADS_2