Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Diam-diam Pergi


__ADS_3

Olivia menatap rumah megah di hadapannya dengan tatapan kekaguman. Ia sampai menelan ludahnya kasar melihat bangunan yang lebih cocok dianggap sebagai Mansion itu. Benarkah ini rumah Septian?


Perempuan itu pun kembali melihat alamat yang diberikan guru, Olivia memang diam-diam minta alamat tempat tinggalnya Septian. Awalnya tidak diberikan, tapi Ia beralasan akan mengerjakan tugas.


"Ekhem ada apa ya?" tanya seorang satpam dari balik gerbang, menyadari gadis itu dari tadi berdiri di sana.


"Maaf Pak mau tanya, ini benar rumah Septian bukan? Yang sekolah di Jakarta High School," tanya Olivia sambil memberikan kertas bertuliskan alamat nya.


Satpam itu pun membacanya lagi, "Kalau boleh tahu anda ini siapanya Tuan Septian? Dan ada keperluan apa?"


"Saya teman sekolahnya, ada kepentingan dengan dia," jawab Olivia tanpa ragu.


"Maaf tapi Tuan Muda belum pulang, memangnya anda tidak coba hubungi saja? Saya juga tidak bisa izinkan anda masuk ke sini, kami harus waspada," kata satpam itu.


Olivia pun menjawab jika ponselnya habis batrai, itulah kenapa Ia tidak bisa menghubungi Septian. Sayang sekali, padahal Ia sudah bela-belain berbohong pada Dilon hanya mau pergi ke sini. Apakah Olivia harus pulang tanpa membawa barang yang diinginkannya itu?


Perempuan itu berbalik memperhatikan kawasan perumahan elit di sana, tadi di depan Ia susah sekali masuk bahkan kartu Identitas nya sampai di tahan dulu. Olivia jadi semakin yakin jika Septian itu bukanlah orang biasa. Di tengah lamunannya, perhatiannya lalu teralih melihat sebuah motor mendekat.


"Loh Olivia, kamu di sini? Sejak kapan?" tanya Septian langsung saat menghentikan motornya di sebelah perempuan itu.


"Em sudah dari beberapa menit lalu sih, aku ke sini mau pinjam buku itu hehe," jawab Olivia sambil tersenyum kikuk.


Septian terlihat tersenyum tipis, merasa tidak bisa menahan perasaan senangnya, "Aku kira kamu gak akan jadi hari ini, kalau begini tadi mungkin kita bisa berangkat bareng," katanya.


Tetapi Olivia menggeleng karena merasa itu bukanlah ide yang bagus, sudah pasti Dilon akan mengamuk. Ia saja harus berbohong tadi, berharap semoga tidak ketahuan karena pasti mereka akan ribut.

__ADS_1


Septian lalu mengajaknya masuk, bahkan Olivia diperintah naik motor karena katanya agak jauh untuk sampai ke rumahnya. Saat masuk ke dalam gerbang itu, ternyata benar halamannya sangat luas, sampai rumah butuh beberapa meter.


"Septian, aku tadi sempet gak nyangka ini rumah kamu," ucap Olivia setelah turun dari motor.


"Haha kenapa? Kamu pasti ngira aku orang biasa ya?" Septian sama sekali tidak tersinggung dianggap begitu, lagi pula Ia memang lebih suka dianggap orang biasa.


"Bukan apa-apa, tapi dulu penampilan kamu itu biasa banget. Baru sekarang saja bisa dandan begini. Kayanya bukan aku aja yang kaget, tapi semua murid di sekolah juga," jawab Olivia.


Septian lalu mengajak Olivia untuk masuk ke dalam rumahnya, sempat pria itu hampir menggenggam tangannya, tapi segera Septian sadarkan dirinya untuk jangan gegabah, karena khawatir malah membuat Olivia tidak nyaman.


Melihat perempuan itu yang terlihat terkagum-kagum saat masuk ke rumahnya, membuat Septian ikut senang memperhatikan ekspresinya. Mungkin Olivia adalah perempuan pertama yang Ia ajak ke rumahnya, bukankah perempuan itu sangat spesial?


"Ayo ke kamar aku dulu," ajak Septian sambil naik ke tangga.


Padahal Septian tadinya ingin berlama-lama dengan perempuan itu, tapi sepertinya Olivia belum terlalu nyaman bersamanya. Tidak apalah, sedikit demi sedikit saja. Septian pun mengangguk lalu menunjukan jalan.


Ruangan perpustakaan itu ada di bagian paling belakang, tempatnya pun agak terpencil. Saat Septian membukakan pintu, Olivia dibuat semakin terkagum-kagum melihat ternyata di rumah ini ada perpustakaan yang besar.


"Wah Septian, aku kira cerita kamu bohong, ternyata benar kamu punya perpustakaan. Keren ih, kamu pasti betah banget di rumah," puji Olivia menelusuri tempat itu.


"Iya memang tempat ini tempat kesukaan aku di rumah, malahan lebih dari kamar sendiri. Biasanya aku lebih suka habisin waktu di sini, hobi aku kan baca buku," sahut Septian yang mengikutinya.


"Aku juga kalau punya perpustakaan di rumah kayanya bakalan betah di rumah terus," gumam Olivia.


Septian lalu mengajak perempuan itu ke salah satu rak buku, dimana di sana banyak genre buku yang disukai keduanya. Septian terlihat bangga sekali menunjukan koleksinya itu, kapan lagi kan bertemu seseorang yang memiliki kesukaan yang sama.

__ADS_1


Melihat Olivia yang terlihat bersemangat melihat-lihat buku miliknya, membuat Septian semakin asik memperhatikan. Pria itu lalu membawa ponselnya, dan diam-diam memotret Olivia. Walaupun candid, tapi tetap cantik.


"Kok kamu bisa sih punya koleksi buku yang komplit begini?" tanya Olivia menghadapkan tubuhnya pada Septian.


"Sebenarnya Paman aku yang jaga di British Library di London, jadi dia suka kirim item-item buku dari sana. Apalagi dia tahu aku suka baca, kalau aku minta pasti dikasih," jawab Septian agak kikuk saat menceritakannya. Ia tidak mau pamer, hanya cerita saja.


"Wah keren banget, itu kan perpustakaan terbesar di dunia," pekik Olivia.


"Kamu santai aja Olivia, anggap aja ini perpustakaan milik sendiri. Kamu bebas baca yang mana pun, jangan terlalu buru-buru juga," kata Septian.


Olivia mengangguk pelan lalu kembali melihat-lihat buku-buku di rak. Padahal tadinya Ia hanya ingin pinjam buku season dua itu, tapi saat di sini dirinya jadi kalang kabut dan betah karena melihat banyaknya buku.


Perempuan itu pun sampai pinjam charger pada Septian, untungnya Septian memang baik sampai meminjamkan. Bahkan Septian pun sampai membawa minuman dan banyak cemilan, katanya agar Ia bisa santai saat membaca.


"Oh iya aku hampir lupa, apa pacar kamu itu tahu kamu ke sini?" Sebenarnya Septian tidak usah tanyakan, karena kalau Dilon tahu pasti akan marah pada Olivia.


"Enggak lah, aku terpaksa harus bohong sama dia. Mau gimana lagi, aku beneran penasaran sama season dua buku itu, makanya sampai bela-belain ke sini hehe," jawab Olivia lalu kembali fokus membaca.


"Hm kayanya kalau Dilon sampai tahu, dia pasti bakal marah. Tapi kamu tenang aja, aku akan bantu jelasin nanti." Karena Septian tidak akan membiarkan perempuan itu kenapa-kenapa.


Perpustakaan ini benar-benar nyaman, apalagi duduk di sofa empuk yang dibawahnya ada alas bulu. Dari dinding kaca cahaya matahari pun menyinari dengan indahnya, belum lagi di tambah pemandangan halaman belakang yang di tumbuhi banyak tanaman bunga.


"Septian, kayanya aku harus pulang sekarang. Gak kerasa sudah mau jam enam sore lagi, sanking terlalu asik baca," ucap Olivia melihat jam tangannya.


"Santai aja, jangan buru-buru. Kita makan malam dulu yuk, nanti pasti aku anterin pulang kok," ajaknya membujuk.

__ADS_1


__ADS_2