
Saat memasuki kelas, Olivia bisa sedikit bernafas lega karena tidak ada Dilon. Hanya beberapa orang saja yang masuk sekolah hari ini, lagi pula tidak diwajibkan dan sudah bebas. Mungkin yang datang hanya anak rajin saja.
"Syifa sama Tasya sekolah gak?" tanya Olivia pada seorang murid laki-laki, ketua kelasnya yang selalu datang lebih awal.
Murid lelaki tadi yang sedang mencatat menghentikan kegiatannya sejenak, "Gak tahu, mungkin aja belum datang. Lagian kan kelas dua belas bebas mau datang jam berapa aja," katanya.
"Hm ya sudah deh," desah Olivia pasrah saja jikalau hanya Ia sendirian di sekolah.
Olivia membawa beberapa buku pelajaran yang dirasanya nilainya agak kurang, Ia akan minta perbaikan kepada guru masing-masing. Saat berjalan di Koridor sekolah menuju ruang guru, langkahnya memelan tidak sengaja melihat seseorang di kejauhan.
Itu Dilon, berjalan sendirian menuju ruang guru juga. Entah kenapa rasanya sangat gugup akan bertemu lelaki itu, nanti mereka akan bersikap bagaimana ya? Apakah akan seperti orang asing? Olivia mencoba mengatur nafasnya, menenangkan dirinya untuk tidak terlalu gugup.
Kebetulan nya lagi ternyata pria itu sedang menghampiri guru Sosiologi mereka. Saat Ia mendekat ke sana, perhatian mereka pun langsung tertuju kepadanya. Tetapi Dilon tidak lama, hanya melirik nya sekilas dengan ekspresi wajah datar.
"Olivia apa kamu juga mau perbaikan nilai?" tanya Pak Mamat, guru sosiologi mereka.
"Iya Pak saya mau perbaikan," jawabnya.
Pak Mamat lalu menyimpan buku LKS di meja, menunjukkan salah satu bagian halaman, "Nih kalian kerjain bareng aja yang ini ya, bukunya cuman satu jadi bareng-bareng aja ngerjainnya," katanya.
Olivia dan Dilon mengangguk bersamaan, ternyata Pak guru hanya menyuruh mengerjakan soal harian yang berjumlah tiga puluh itu. Saat keluar dari ruang guru itu, entah kenapa suasana terasa semakin gugup.
Tetapi Olivia memutuskan yang bertanya lebih dahulu, "Ekhem Dilon ini kita mau ngerjain bareng-bareng gitu?" tanyanya.
__ADS_1
"Gak usah, sendiri-sendiri aja. Gue pinjem dulu bukunya, mau di foto aja soal nya," jawabnya dengan suara dingin.
Saat pria itu merebut buku LKS di tangannya, ada perasaan sedih yang Olivia rasakan. Panggilan Dilon kembali seperti dulu, bukan lagi aku kamu. Tentu saja karena sekarang mereka kan bukan siapa-siapa, kenapa juga Olivia harus bersedih?
Setelah Dilon memotret soal-soalnya, pria itu pun memberikan bukunya lagi pada Olivia. Sempat mereka bertatapan beberapa saat, tapi Dilon kembali memutus kontak dan berjalan pergi dari sana. Olivia pun dari tadi hanya memperhatikannya dalam diam.
"Wah-wah kayanya ada yang lagi habis berduaan nih," Celetuk seseorang yang muncul dari balik punggungnya.
Olivia menolehkan kepala dan terkejut karena itu adalah Septian, sejak kapan di sini? "Septian, kamu ngapain di sini?"
"Aku cuman merhatiin pacar aku aja, takut dia masih cari kesempatan sama mantannya. Tadi aja hampir, untungnya si Dilon nolak ajakan kamu, mungkin dia lagi belajar move on dari kamu," Katanya menohok.
"Bukan gitu, tapi kan buku yang dipinjem Pak Mamat juga cuman satu, makanya--"
"Ya untungnya si Dilon pinter, dia milih di foto aja dari pada berduaan sama kamu." Septian lalu mencolek dagu Olivia, "Kamu jangan nakal ya, aku selalu merhatiin loh."
Saat berbelok Olivia malah tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang, ternyata itu Refan, "Aduh maaf aku gak sengaja!" ucapnya tidak enak.
"Hm." Reaksi Refan saat tahu itu adalah Olivia menjadi dingin, tatapannya pun terlihat tidak mengenakkan.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Refan pun melanjutkan langkahnya pergi dari sana. Tetapi Olivia malah memanggil namanya pelan, Ia ingin menanyakan sesuatu kepada pria itu tentang kejadian kemarin. Memang tidak mau membahas, hanya ingin memastikan sesuatu.
"Refan tunggu!" panggil Olivia.
__ADS_1
Refan hanya menolehkan kepala dan menghentikan langkah, menatap bertanya pada Olivia. Ada apalagi?
"Em Refan soal kejadian kemarin, bisa gak kamu jangan kasih tahu Dilon?" pinta Olivia menurunkan gengsinya. Ia pikir masalah ini tidak usah diperpanjang, dan Refan yang orang lain tidak usah ikut campur.
"Kenapa memangnya, takut ya?" tanya Refan sambil tersenyum sinis.
"Bukan gitu, tapi--"
Refan lalu mengibaskan tangannya di udara, "Ngapain juga aku bilang ke Dilon? Lagian dia bukan siapa-siapa kamu lagi kan? Bukan urusan Dilon juga kamu mau jalan sama siapa," selanya menohok.
Olivia yang mendapat ledekan seperti itu menundukan kepala merasa malu sendiri. Ya baguslah kalau Refan itu tidak memberitahu Dilon, tapi perkataannya tadi cukup membuatnya sakit hati walau memang benar kenyataannya.
"Tapi Olivia, aku benar-benar gak nyangka ternyata kamu semudah itu melupakan Dilon. Aku kira kamu perempuan yang baik-baik, maksudnya setia dan gak akan secepat itu juga ada yang menggantikan," lanjut Refan, kini nada suaranya sudah lebih santai.
Ingin sekali Olivia membantah tuduhan pria itu, jika dirinya sebenarnya pun belum bisa melupakan Dilon. Tetapi bibirnya terasa kelu, berpikir juga jika sekarang hubungannya dengan Dilon memang sudah berakhir dan untuk apalagi di perpanjang?
Ternyata semua menganggap Ia cepat move on, kemarin Mamanya dan sekarang teman Dilon. Mungkin kalau orang lain tahu juga akan menganggapnya begitu. Olivia tidak bisa membela diri, toh dirinya memang agak kurang ajar karena sudah jalan lagi dengan lelaki lain. Ya walau memang bukan keinginannya juga.
"Hah ya sudahlah, perasaan itu kan punya kamu, aku juga gak bisa ikut campur. Tapi sebagai temen dekat Dilon, aku cuman ngerasa kasihan aja sama dia. Dilon kelihatan tulus banget sama kamu, dia juga belum pernah kaya gitu ke cewek lain." Setelah mengatakan itu, Refan pun pergi dari sana.
Olivia menghirup nafasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dadanya terasa sesak setelah di kata-katai Refan begitu, Ia merasa tersindir menandakan jika dirinya memang seperti itu. Percuma saja membela diri, apa juga yang bisa Ia jelaskan.
Tidak sengaja Olivia melirik Septian di kejauhan, pria itu pun sempat berpapasan dengan Refan. Untungnya mereka hanya melirik sinis satu sama lain, lalu melenggang pergi dan tidak sampai terjadi keributan. Ternyata benar, Septian itu selalu memperhatikannya dari jauh.
__ADS_1
"Huft sepertinya aku tidak akan bisa hidup tenang lagi setelah ini," gumam Olivia seorang diri.
Perempuan itu memutuskan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas, berusaha tidak menghiraukan keberadaan Septian yang selalu muncul tiba-tiba begitu.