Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Gadis Nakal ku 46


__ADS_3

Hari yang paling ditunggu pun datang juga, yaitu hari keberangkatan Daniella ke Singapura. Cukup banyak keluarganya yang mengantar ke bandara, Filio dan Fiona bahkan sampai menangis karena sedih akan berjauhan dengannya.


"Sudah dong Fiona jangan nangis terus, nanti Kakak kan jadi kepikiran di sana," bujuk Daniella mengusapi kepala anak perempuan itu.


"Hiks kenapa harus sekolah jauh-jauh sih Kak? Kenapa gak di sini aja," tanya Fiona di sela tangis nya.


Daniella menghembuskan nafasnya berat merasa sulit untuk meyakinkan keponakannya ini. "Maaf ya, tapi Kakak ingin cari pengalaman di tempat lain. Lagian Kakak gak pindah kok, kan di sana cuman belajar. Nanti kalau liburan juga pasti pulang ke Indonesia."


Fiona lalu memeluk pinggangnya erat, membuat Daniella pun tersenyum dan mengalihkan pandangan pada kembaran Fiona. Ia mengulurkan tangan, Filio yang melihat itu pun mendekat dan memeluk nya juga.


Ia tidak menangis karena sudah puas semalam menangis, matanya sekarang saja bengkak tapi Ia tutupi dengan kaca mata hitam. Setelah merasa cukup puas berpamitan dengan dua keponakannya, Daniella pun menghampiri kedua Kakak nya.


Dilon mengusap puncak kepala adiknya itu sebentar. "Yang betah di sana ya Ella, jaga diri kamu baik-baik. Tenang saja, nanti ada Celine di sana. Kalau butuh apapun, kabari saja dia," ucap nya.


"Iya Kak, do'ain semoga aku selalu baik-baik aja ya di sana, dijauhkan dari mara bahaya."


Dilon dan Olivia langsung mengaminkan, tentu semua keluarga akan mendoakan yang terbaik untuk Daniella. Sebagai Kakak tentu mereka sangat peduli, tapi merasa kagum juga dengan keberanian Daniella yang sampai kuliah di luar negeri.


Perhatian mereka teralih saat mendengar pengumuman yang memberitahukan pesawat menuju Singapura akan segera berangkat dan seluruh penumpang di perintahkan segera check-in.


Bahu Daniella melemas merasa sedih seketika. Jujur saja selain sedih karena akan berpisah dengan keluarganya, juga sedih karena orang yang ditunggu nya tidak datang juga. Siapa orang itu? Tentu saja Kai, Ia ingin melihatnya terakhir kali.


"Daniella, ayo!" ajak Papa nya menegur, khawatir tertinggal pesawat.


Daniella pun mengangguk dan sekali lagi memeluk semua anggota keluarganya bergantian. Si kembar memang sudah tidak menangis, tapi mereka menjadi manja kepada kedua orang tuanya, menutupi rasa sedih.

__ADS_1


Baru saja beberapa langkah pergi, Daniella terhenti saat telinganya mendengar namanya dipanggil dengan keras. Tanpa bisa ditahan bibirnya melengkungkan senyuman, perlahan Ia berbalik dan bisa melihat Kai dari kejauhan berlari kecil ke arah nya.


Setelah pria itu berdiri di depannya, Daniella malah terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tiba. Sempat Ia melirik malu ke arah keluarganya, tapi mereka hanya tersenyum mentolerir.


"Huft untung aja kamu belum pergi, maaf tadi di jalan benar-benar macet," ucap Kai dengan nafas memburu nya. Ia berlari dari depan sampai ke sini hanya mencari Daniella.


Daniella lalu menepuk pelan punggung lelaki itu. "Kalau aku benar-benar sudah pergi, aku yakin Om bakal menyesal," sahut nya.


"Pasti, tapi gak papa, mungkin Om bisa susul kamu nanti ke Singapura," kata Kai sambil meregangkan pelukannya.


Keduanya saling membalas senyuman, tidak ada raut sedih sedikit pun yang ditunjukan karena tidak mau menjadi pikiran satu sama lain. Sepertinya keduanya benar-benar ingin melakukan perpisahan dengan baik-baik.


Daniella lalu tidak sengaja melihat seseorang yang berdiri tidak jauh di belakang Kai, Ia baru sadar ternyata ada Ayana juga. Kai yang menyadari itu lalu menoleh dan meminta calon istrinya itu mendekat lewat tatapan.


"Hm untuk itu aku minta maaf ya, tapi jangan sampai karena aku tidak hadir, acara jadi berbeda. Kalian harus tetap menikmati semuanya," ucap Daniella sambil berusaha tersenyum. Ia lalu mengulurkan tangannya. "Selamat menjadi suami istri, semoga jadi pasangan yang harmonis."


Dengan sedikit ragu Ayana pun menerima jabatan tangan itu. "Terima kasih Daniella atas do'anya."


Kai yang memperhatikan hanya bisa menghela nafas, sungguh perasaannya saat ini campur aduk sekali. Tetapi Ia tahu, pasti berat sekali Daniella untuk pura-pura kuat begini, Ia bisa melihat nya hanya lewat sorot mata.


Daniella terluka, tapi berusaha baik-baik saja.


"Ekhem sepertinya Daniella harus pergi sekarang, sebelum pintu pesawat di tutup," dehem Aiden menghentikan obrolan mereka.


Ketiganya tersenyum kikuk, terlalu nyaman mengobrol sampai lupa waktu. Daniella lalu melambaikan tangan pada semua anggota keluarganya, dan yang paling Ia tatap lama adalah Kai. Langkah kaki nya semakin jauh, bayangan mereka pun semakin kecil.

__ADS_1


Karena Daniella memesan tiket khusus, jadi tempat duduknya ada di bagian paling depan. Kursinya nyaman ditempati sendiri, perjalanan yang memakan waktu lama pun pasti tidak akan membuat badannya pegal-pegal.


"Lucu sekali," gumam Daniella setelah duduk di kursi nya.


Entah kenapa Ia merasa bangga dengan dirinya sendiri karena bisa terlihat baik-baik saja di depan Kai dan Ayana, terlihat seperti sudah move on. Ia menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan, berusaha mengurangi rasa sesak di dada.


"Permisi, apa anda butuh sesuatu?" tanya seorang pramugari menghampiri nya.


"Saya mau latte, bisa?" pinta Daniella.


"Baik akan saya buatkan, mohon menunggu sebentar." Pramugari itu pun pamit memberikannya waktu lagi.


Daniella tidak mau terlalu memikirkan lagi masalah hatinya karena pasti akan sedih, lalu ujung-ujungnya menangis. Ia lalu sedikit memundurkan sandaran kursinya, mencari posisi duduk yang nyaman.


Untung saja Papanya yang pengertian itu memesankan tiket mahal, jadi Ia tidak akan terganggu selama perjalanan yang panjang. Tidak lama pramugari tadi pun kembali dan memberikan pesanannya, Daniella pun menerima nya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


Ia lalu membawa ponselnya, ingin melihat pesan yang belum sempat Ia baca. Itu dari Kai, sepertinya dikirim saat di jalan dan khawatir Ia sudah berangkat. Tanpa sadar bibirnya melengkungkan senyuman membaca pesan itu.


[Daniella tunggu jangan dulu pergi, Om sedang di jalan terjebak macet. Tunggu Om sebentar saja, nanti kalau tertinggal pesawat pun bisa Om pesan kan lagi yang lebih mahal. Pokoknya kamu jangan dulu pergi!]


"Ck dia itu benar-benar seperti takut kehilangan aku saja, dasar membingungkan," dengus Daniella menggerutu. Memang sikap Kai itu membuat hatinya bimbang.


Tetapi Ia kan sudah memutuskan akan move on, toh Kai saja sebentar lagi akan menikah dengan Ayana. Untungnya Ia sudah berangkat, jadi tidak akan menonton keromantisan mereka nanti saat acara.


Ya alasannya berangkat lebih cepat ya karena itu, Daniella kan sudah bilang tidak mau cari penyakit.

__ADS_1


__ADS_2