Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Keputusan Sepihak


__ADS_3

Olivia bingung sekali sampai terus memikirkan perkataan Septian yang katanya nanti malam keluarganya akan datang ke rumah dan mereka akan bertunangan. Awalnya Ia pikir pria itu hanya bercanda alias tidak serius, tapi sekitar pukul enam sore nya saat sedang bersantai, Mamanya tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Olivia kenapa kamu belum siap-siap?" tanya Keisha yang terlihat panik sendiri, "Acaranya dimulai jam tujuh loh."


"Hah acara apa? Memangnya kita mau kemana?" tanyanya bingung. Film di layar laptop yang sedang di tonton nya sampai Ia hiraukan.


"Keluarga Septian kan akan datang ke rumah kita, katanya mereka akan membicarakan perihal pertunangan kalian berdua. Masa Septian gak bilang ini sama kamu."


Kedua mata Olivia terbelak mendengar itu, tubuhnya sampai terperanjat sendiri dan turun dari ranjangnya. Jadi perkataan Septian itu serius kalau mereka akan tunangan? Olivia sampai tidak bisa berkata-kata sejenak.


Membayangkan hubungannya dengan Septian yang semakin jauh sampai bertunangan, membuat Olivia tidak bisa membayangkan sendiri. Mereka saja pacaran sangat tidak jelas, kenapa sudah memikirkan sampai bertunangan juga?


"Olivia ayo mandi, nanti ada penata rias bantuan kamu dandan," perintah Keisha menghentikan lamunan putrinya itu.


Olivia lalu mendekati Mamanya dan membawa kedua tangannya, "Mah, Mama sama Papa kok gak kaget? Maksudnya apa mungkin dia sudah bilang ini dari jauh hari?"


"Iya memang sudah dari beberapa hari laluan lah Septian bilang begitu. Awalnya Mama sama Papa kaget juga kenapa dia mau seserius itu, apalagi kalian masih muda. Tapi Septian sangat pandai merangkai kata, sampai buat Papa pun percaya sama dia," jawab Mamanya nyang terlihat setuju-setuju juga.


Olivia menggigit bibir bawahnya merasa cemas, tidak tahu sekarang harus bagaimana. Sungguh Ia tidak mau bertunangan dengan Septian, apalagi awalnya hubungan mereka juga kan karena keterpaksaan dan sebuah perjanjian.


Alasan lain nya tentu saja Olivia tidak mencintai lelaki itu, karena jujur saja di hatinya masih ada Dilon. Oh seandainya saja Septian itu datang lebih dulu, mereka mungkin bisa membicarakan ini dan Olivia akan dengan tegas menolak ide konyol nya ini.

__ADS_1


"Olivia ayo dong kenapa diam saja? Kalau kamu telat dandan nanti tamu-tamu nya keburu datang. Nanti Mama kesini sepuluh menit lagi, mau bantuin mbok dulu di bawah siapin makanan." Setelah mengatakan itu Keisha pun keluar kamar dengan langkah cepat terburu-buru.


Helaan nafas panjang keluar lewat celah bibir Olivia, merasa bingung sekarang harus bagaimana. Ia lalu membawa ponselnya untuk menghubungi Septian, sayangnya tidak diangkat walau sudah tiga kali dicoba. Mau tidak mau, mereka baru akan bertemu nanti.


Dengan terpaksa Olivia pun ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan ber siap-siap dandan, tadi sore memang sudah mandi. Mamanya ternyata sudah menyiapkan dress cantik, seperti kebaya modern. Bukan hanya itu, Mamanya juga menyewa seorang penata rias.


"Make up nya tolong jangan terlalu tebal ya, tipis aja," pinta Olivia pada penata rias di belakangnya.


"Okey siap, mau kaya Korea-Korea gitu?" tantanya.


"Iya deh boleh, asal jangan terlalu tebal," jawab Olivia, make up Korea juga lumayan cocok di wajahnya.


Melihat Mamanya yang sampai se niat ini sampai menyewa penata rias, membuat Olivia semakin yakin jika sebelumnya Septian sudah membicarakan ini dengan kedua orang tuanya. Sial sekali Ia kecolongan, mungkin karena terlalu sering mengurung diri.


"Kakak tumben cantik gini," celetuk Kai yang kali ini tidak gengsi memuji.


"Enak aja, Kakak setiap hari juga cantik keles!" ketus Olivia menyahut.


Keisha mendekati putrinya itu lalu memegang bahunya, "Kamu cantik banget, kebaya yang Mama beli juga cocok di badan kamu. Mama jadi inget pas muda deh," Katanya lalu terkekeh kecil.


Keisha lalu segera mengajak Olivia ke bawah karena katanya keluarga besar Septian sudah berdatangan, Papanya langsung yang menyambut. Setiap langkah menuruni tangga, jantung Olivia entah kenapa berdetak dengan cepat.

__ADS_1


Di lantai bawah tepatnya ruang utama, ternyata sudah di dekorasi menjadi lebih cantik. Terlihat juga sudah ada beberapa keluarga yang hadir, bahkan ada keluarganya juga. Olivia sama sekali tidak tahu ini, mungkin orang tuanya yang merencanakan.


"Nah itu Olivia," kata seseorang, membuat perhatian semua orang pun tertuju kepadanya.


Saat Olivia di duduk kan di kursi yang tepat berhadapan dengan Septian, pandangan mereka pun bertemu. Septian terlihat tersenyum lebar melihat kekasihnya itu malam ini yang terlihat cantik, berbeda dengan Olivia yang ekspresi wajahnya datar.


"Terima kasih sebelumnya kepada keluarga Pak Kevin sudah menerima kedatangan kami. Maksud baik kami datang kesini bukan apa-apa, tapi salah satu anak kami ingin meminang putri anda yang bernama Olivia."


"Mereka sudah menjalin hubungan yang baik dan ingin lebih serius. Tetapi karena masih muda, Septian inginnya mereka bertunangan dahulu agar mengikat hubungan sebelum ke tahap lebih serius lagi yaitu pernikahan," ucap seorang pria paruh baya yang duduk di sebelah Septian, mungkin Om nya?


Kevin mengangguk dengan senyuman tidak luntur dari wajahnya, "Iya saya dan istri menerima Septian karena tahu dia anak yang baik, selain itu dia juga hebat masih muda tapi sudah memiliki bisnis besar dan menjalankannya dengan baik. Tetapi semua tentu ada di tangan Olivia."


Pandangan semua orang pun kembali tertuju pada gadis cantik itu, membuat Olivia menelan ludah kasar merasa gugup karena mereka sedang menunggu jawaban darinya. Ingin sekali Ia tolak, tapi pasti akan mempermalukan keluarganya sendiri.


Tetapi melihat acara berjalan dengan lancar dari awal sampai sekarang. Juga keluarganya yang sudah menyiapkan acara dengan dengan baik, membuat Olivia tahu jika keluarganya pun sudah menerima Septian. Pintar sekali memang pria itu merencanakan semua.


"Saya.. " Perkataan Olivia terhenti saat menatap ke balik mata Septian, tatapan pria itu terlihat dalam dengan penuh arti, "Saya menerima Septian menjadi tunangan saya," jawabnya.


Tepuk tangan meriah dan kelegaan langsung terdengar di ruangan itu setelah Olivia menerimanya. Tetapi lain hal nya dengan yang Olivia rasakan sendiri, kini Ia malah merasa terbebani dan takut menyesal karena sudah menerima ini.


Kedua mata perempuan itu kembali terbuka saat Ia dan Septian diminta menukar cincin pada jari manis masing-masing. Kedua orang itu lalu berdiri di tempat cantik yang sudah disiapkan, para keluarga pun mengelilingi menonton. Fotografer juga sudah bersiap mengambil gambar.

__ADS_1


Saat Septian memakaikan cincin itu di jari Olivia, berkata, "Sekarang kamu milik aku, gak akan aku lepaskan pada siapapun."


__ADS_2