
"Ada apa ini?" tanya Olivia yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Dilon lalu mendekati pacarnya itu, "Tadi gue ke rumah lo, kenapa berangkat duluan?"
"Aku.. Aku masih kesel sama kamu," jawab Olivia sambil melepaskan tangannya yang dipegang pria itu.
"Kita bicarain lagi nanti, lo sama dia mending ke kelas aja." Dilon sebenarnya ingin menyelesaikan masalahnya dengan Olivia, tapi yang satu ini juga harus di urus dulu.
Tetapi Olivia menggeleng, "Enggak, aku mau tanya, sebenarnya ada apa ini?"
Sayangnya Dilon tidak bisa menjelaskan dengan detail, karena masalahnya ini terbilang cukup rumit juga. Ia lalu melirik Syifa, mengkode pada perempuan itu untuk membawa Olivia pergi.
Awalnya Olivia kekeuh ingin tetap di sana, tapi karena Syifa terus menarik tangannya akhirnya mau juga pergi. Olivia sempat menoleh lagi ke belakang menatap Dilon, tapi kekasihnya itu hanya diam dengan pandangan lurus.
"Hei kenapa kalian juga masih di sini? Sudah bel, pergi sana ke kelas!" usir Ian berteriak mengusir yang lain.
Murid di sana pun memilih pergi karena tidak mau mengganggu, yang ada nanti malah ikut terkena masalah. Kini di area dekat parkiran itu sepi, dan mereka bisa bicara lebih serius tanpa ada yang mengganggu.
Dilon berbalik lalu mendekati Septian dengan langkah tegasnya, setelah di depannya keduanya saling menatap tajam satu sama lain. Kini Septian benar-benar terlihat berbeda, tidak ada takutnya sama sekali.
"Dari mana lo dapet motor gue?" tanya Dilon tanpa basa-basi.
"Motor lo?" Septian lalu tertawa kecil, "Itu sekarang motor gue Dilon, bukan motor lo!" katanya.
Melihat sikap sok Septian itu, tentu saja membuat teman-teman Dilon mulai terpancing emosi. Bisa-bisanya si culun yang mereka dulu kerjai sekarang sudah berani begitu, ingin sekali menghajarnya sekarang.
"Jawab aja sialan, dari mana lo dapet motor itu?!" desis Dilon sambil mencengkram kerah seragam Septian.
Motor miliknya itu adalah motor kesayangannya yang Ia jadikan tebusan pada saat balapan malam itu. Dilon terpaksa karena ada yang menantangnya balapan adalah anggota dari geng musuhnya.
__ADS_1
"Gue bisa dapet motor itu ya karena gue yang jadi lawan lo pas balapan kemarin malam," jawab Septian sambil menarik sebelah sudut bibirnya, terlihat songong sekali.
"Apa?" Dilon terlihat tidak percaya mendengar itu.
Dengan lumayan kasar Septian pun melepaskan cengkraman Dilon di lehernya, Ia lalu mundur beberapa langkah menjaga jarak. Septian bukan takut, tapi merasa tidak nyaman jika posisinya di pojokkan begitu.
"Dilon-Dilon, malam itu lo sombong banget sampai terlalu percaya diri bisa menang. Inget ini, gak selamanya orang itu ada di atas. Lihat malam kemarin, lo dengan mudah gue kalahin," kata Septian sombong.
Refal yang sudah tidak bisa menahan kesalnya lalu membuka suara, "Heh Septian, lo jangan sok ya. Mau kita hajar hah?!"
"Wah kalian mau mainnya keroyokan ya? Ckck dasar pengecut banget, masa gue sendirian!" ledek Septian.
Saat Refal akan berhambur memukul Septian, Dilon langsung menahan dan mendorongnya mundur. Ia lalu meminta pada teman-teman nya untuk pergi meninggalkannya sendirian. Mereka sempat tidak mau, tapi terus Dilon paksa.
Selepas kepergian teman-teman nya, Dilon kembali menghampiri Septian. Melihat ekspresi santai pria itu tanpa merasa sedikit takut, membuat Dilon sedikit bingung. Padahal selama ini Septian selalu takut padanya.
"Lo pasti bukan si Septian kan? Siapa lo? Kembaran dia?" tanya Dilon agak konyol.
"Cih berani? Lo cuman kelihatan pura-pura berani, gue yakin lo masih ada perasaan takut kan sama gue?" Dilon terlihat puas sekali saat mengatakan itu.
Septian menggeram pelan dengan kedua tangan terkepal nya, tapi Ia kembali menormalkan ekspresi wajahnya dan pura-pura tidak terpancing emosi. Ternyata Dilon pintar juga, bisa membaca raut wajahnya.
"Kalau misal malam itu lo yang jadi lawan gue, berarti lo anggota geng Elang Barat?" tanya Dilon.
"Hm, gue emang udah lama sih gabung, cuman lo baru tahu," jawab Septian tanpa ragu jujur.
Rasanya Dilon ingin tertawa keras sekarang, tawa yang mengandung arti banyak hal. Bisa-bisanya saja Ia dibodohin selama ini oleh si culun ini. Jika seperti itu, berarti Septian cukup banyak tahu tentang dirinya dan teman-temannya.
Dengan gerakan cepat Dilon mendorong Septian ke dinding, kerah seragamnya kembali Ia cengkram erat dengan kedua tangannya. Dilon tidak bisa lagi bersikap biasa setelah mengetahui ini, Ia benar-benar kesal.
__ADS_1
"Apa lo mata-mata mereka? Lo pasti selama ini merhatiin gue sama temen-temen gue kan? Terus lo laporin ke mereka?" tanya Dilon berdesis menahan marah.
Septian berusaha mengatur nafasnya, jujur saja lehernya tercekik dan Ia agak kesulitan mencari udara, "Lo terlalu kepedean Dilon, emangnya lo se penting itu hah?" tanyanya.
"Sialan lo, sekarang sudah berani sama gue hah? Lo pikir gue gak takut sama lo? Gue buat lo masuk rumah sakit juga gue gak takut kalau geng bau kencur lo itu balas dendam!" maki Dilon yang semakin terpancing emosi.
Keduanya terlihat berusaha mempertahankan diri masing-masing. Dilon tetap menekan Septian dan tidak membiarkannya lepas, tapi ternyata kekuatan pria itu tidak bisa diragukan walau Dilon masih lebih kuat.
Di saat Septian merasa nafasnya semakin berat, teriakan seseorang yang suaranya sangat Ia kenali membuat Septian merasa dirinya mendapat pertolongan di waktu yang tepat. Lewat ekor matanya, bisa melihat Olivia berlari menghampiri.
"Dilon apa-apaan ini? Lepasin Septian!" perintah Olivia keras.
Tetapi Dilon terlihat enggan, membuat Olivia pun berusaha menarik tangan Dilon yang mencekik Septian. Ternyata sangat sulit, sudah Ia pukul-pukul juga Dilon tetap tidak melepaskan.
"Dilon kalau kamu gak lepasin dia, dia bisa mati kehabisan nafas!" jerit Olivia kesal.
"Haha biarin aja dia mati, orang sok kaya dia emang lebih baik mati dari pada jadi pengecut terus." Dilon tidak merasa bersalah berkata kasar seperti itu.
Kedua mata Olivia terbelak mendengar itu, "Kamu gila ya Dilon? Kamu mau jadi pembunuh. Aku bilang lepasin Septian, kalau kamu gak mau lepasin dia, kita.. Kita putus!"
Dan berhasil, dalam hitungan detik Dilon langsung menarik tangannya membuat Septian pun langsung terbatuk-batuk dan berusaha menghirup udara dengan rakus.
Olivia langsung merasakan gugup ditatap tajam oleh Dilon, perhatian pria itu kini sepenuhnya tertuju kepadanya. Dilon lalu menarik tangannya membuat Olivia terpekik karena kepalanya membentur dada bidang pria itu.
"Lo ngomong apa tadi? Berani-beraninya lo ngomong begitu cuman mau nyelamatin dia!" tanya Dilon tajam.
"Dilon maaf aku.. Aku gak bermaksud," ucap Olivia takut.
"Lo benar-benar harus di kasih hukuman Olivia," desis Dilon menahan marah.
__ADS_1
***
Wah kira-kira Olivia mau di apain nih sama babang Dilon? :'