
Sebenarnya Dilon malas harus ikut, tapi karena Olivia terus memaksa membuatnya pun terpaksa ikut ke dapur untuk ikut mencicipi mangga yang di petiknya tadi. Yang membuat sambal rujaknya adalah Erika, sedang Ia dan Olivia hanya diam memperhatikan.
"Tante biasanya suka ngidam apalagi?" tanya Olivia penasaran.
"Jarang sih kalau barang gitu, Tante lebih sering pengen makanan. Kayanya nanti berat badan Tante bakalan nambah," jawab Erika bercerita.
"Hihi gak papa, yang penting keinginan adek bayinya terpenuhi," sahut Olivia.
Membuat sambal rujak ternyata tidak sulit dan sebentar, mereka pun langsung berkumpul duduk di kursi makan. Mangga pun sudah di potong-potong oleh pelayan, jadi sekarang waktunya menikmati.
"Nih makan, Diam-diam mulu dari tadi," kata Olivia menggoda kekasihnya.
"Gak mau ah, asem," tolak Dilon sambil menggelengkan kepala.
"Ck kata siapa? Makanya cobain dulu!" desak Olivia belum menyerah. Ia dan Tante Erika sempat bertatapan sambil tersenyum penuh arti, seperti mengkode satu sama lain.
Dilon pun membawa potongan mangga itu, tidak lupa mencelupkannya sedikit ke sambal rujak, lalu memakannya langsung. Sebelah matanya langsung mengernyit merasakan asam yang sangat di lidahnya.
"Huwek asem banget!" ucap Dilon sampai memejamkan mata.
Melihat kedua perempuan itu malah menertawakannya membuat Dilon tanpa sadar mengerucutkan bibir karena seperti sedang diledek. Ia juga bodoh sekali, sudah tahu rasanya asam tapi masih penasaran.
"Jangan lebay deh, kaya gak pernah makan yang asem aja," kata Olivia kembali meledekinya.
"Tapi mangga muda begini di rujak enak loh menurut Mama. Sekarang ngidam Mama sudah terpenuhi karena kamu, makasih ya Dilon," ucap Erika mengulang lagi.
"Hm sama-sama," gumam Dilon pelan.
Erika lalu bilang jika dirinya ingin melihat Dilon memakan lagi mangga itu. Dilon sempat menolak, tapi melihat tatapan tajam Olivia membuatnya ciut dan akhirnya menurut juga. Ekspresi wajahnya yang ke asaman itu ternyata membuat mereka terhibur.
__ADS_1
"Wah ada apa nih ramai banget di sini." Aiden terlihat memasuki dapur, pria itu sepertinya baru pulang dari kantor.
"Mas sudah pulang?" Erika pun langsung berdiri dan menyalami tangan suaminya itu.
Aiden seperti biasa selalu mengecup kening Erika, "Gimana kamu di rumah? Apa sekarang masih gak enak badan?"
"Sudah enggak kok, malahan aku seneng banget dari tadi ditemenin Olivia sama Dilon. Mas tahu gak? Aku kan lagi pengen mangga muda, Dilon baik banget sampai mau manjat pohonnya di belakang." Erika terlihat semangat sekali saat menceritakan itu.
"Benarkah?" tanya Aiden terpana sendiri mendengarnya.
Melihat semua orang kini menatapnya, membuat Dilon semakin gugup. Ia berdehem pelan lalu memilih pura-pura sibuk dengan kembali memakan mangga muda itu, ya walau harus menahan rasa asam.
Sebenarnya Dilon bukan bermaksud mengabulkan keinginan Erika, awalnya Ia hanya tidak mau Olivia yang ceroboh itu naik ke atas pohon. Jadinya Ia lah yang menggantikan, karena kalau Olivia yang melakukan, sungguh tidak punya hati sekali dirinya.
Jadi intinya, Dilon melakukan tadi hanya karena Olivia.
"Mas mau coba juga?" tawar Erika sambil menarik tangan suaminya untuk duduk di kursi makan.
"Pokoknya Mas harus cobain, setidaknya satu. Lihat Dilon saja ketagihan, pasti enak," celetuk Erika.
Repleks Dilon yang di panggil begitu langsung menyimpan lagi potongan mangga di piring. Kenapa dari tadi mereka salah paham terus sih? Ia bukan sedang menikmati makanan, tapi hanya tidak mau diajak mengobrol saja.
Akhirnya Aiden pun mengiyakan keinginan istrinya itu. Saat merasakan asam, wajahnya langsung mengernyit lucu membuat Erika dan Olivia pun tertawa. Tetapi tanpa mereka sadari, Dilon juga ikut terhibur, hanya saja berusaha menahan tawanya.
"Anak Papa ini memang ada-ada saja ngidam nya, memangnya kamu gak ke aseman makan ini?" tanya Aiden pada sang istri.
"Asem sih, tapi enak menurut aku," jawab Erika.
Mungkin ini pertama kalinya mereka berkumpul dalam suasana yang nyaman dan tidak tegang seperti biasanya. Erika yang selalu tertekan pun kini terlihat rileks dan banyak bicara. Tentu semua ini terjadi karena kehadiran Olivia juga.
__ADS_1
Tanpa perempuan itu, mungkin mereka tidak akan bisa merasakan seperti ini. Olivia dari tadi memperhatikan satu persatu orang di sana, merasa ikut senang melihat mereka bisa mengobrol dengan santai.
"Olivia jangan dulu pulang ya, makan malam dulu di sini. Sebentar lagi makanannya juga siap kok," ajak Erika.
Lamunan Olivia pun terhenti mendengar itu, repleks Ia melirik jam tangannya. Meringis pelan karena ternyata sudah pukul enam sore, tidak terasa juga Ia sudah dua jam di rumah ini. Sanking terlalu asik dan betah.
"Lain kali saja ya Tante Om, kayanya aku harus pulang sekarang, Mama pasti khawatir banget," tolak Olivia baik-baik.
"Gak papa, bilang aja kamu makan di rumah kami, pasti Mama kamu juga mengerti," kata Aiden ikut membujuk.
Tetapi Olivia tetap menggeleng, beralasan jika dirinya selalu janji pada kedua orang tuanya untuk pulang tepat waktu. Akhirnya Aiden dan Erika pun tidak memaksa lagi, tahu jika Olivia hanya tidak mau orang tuanya khawatir.
"Kalau gitu aku anterin dulu Olivia pulang," ucap Dilon sambil beranjak dari duduknya.
"Iya hati-hati, nanti langsung pulang lagi, kita makan malam bareng," ajak Aiden tanpa gengsi. Rasanya bisa berkumpul seperti ini membuat hatinya damai.
Dilon hanya berdehem ambigu dan tidak yakin, lalu menarik tangan Olivia untuk pulang. Sepanjang langkah menuju keluar rumah, Dilon terlihat diam tidak mengatakan apapun. Apakah pria itu masih gugup?
"Nanti selesai anterin aku pulang, kamu harus langsung pulang, jangan ada acara main dulu ke rumah temen kamu," kata Olivia yang selesai memakai seatbelt nya.
"Kenapa?"
"Papa kamu tadi kan bilang kalian mau makan malam bareng, mereka pasti bakalan nungguin kamu supaya bisa makan malam bareng. Aku sengaja nolak karena pengen kalian ada waktu bersama begitu," jelas Olivia jujur.
Dilon yang sedang menyetir menoleh dan menatap kekasihnya itu beberapa saat. Sepertinya Olivia benar-benar serius ingin membuat hubungannya dengan kedua orang tuanya membaik, perempuan itu sangat mendukungnya.
"Gimana kalau gue makan di rumah lo?" tanya Dilon meminta izin.
"Enggak, lain kali aja. Kamu pokoknya harus makan di rumah malam ini. Bicara baik-baik sama Papa dan Mama tiri kamu itu," jawab Olivia kekeuh.
__ADS_1
Dilon berdecak pelan, bukan berarti kesal kepada Olivia. Ia hanya merasa ragu saja untuk melakukan itu, apalagi tanpa Olivia nanti. Kira-kira saat Ia kembali dan berkumpul dengan mereka, topik apa yang akan dibahas?