
"Engghh!"
Mendengar gumaman pelan itu, membuat Erika langsung memfokuskan pandangan pada Olivia. Senyumannya terlihat mengembang melihat perempuan muda itu akhirnya sadar juga.
"Olivia kamu bisa dengar Tante? Apa yang kamu rasain sekarang?" tanya Erika dengan nada penuh khawatirnya.
"Sedikit pusing, aku mau minum," pinta Olivia dengan suara seraknya.
Erika mengangguk lalu segera membantu gadis muda itu untuk duduk, untung saja ada segelas air yang sudah disiapkan. Setelah selesai meneguk beberapa kali, kembali Olivia di baringkan.
Dengan perhatiannya Erika mengusap wajah Olivia dan merapihkan rambutnya yang berantakan itu. Wajah Olivia terlihat agak pucat, tapi masih cantik walau tatapannya agak kosong. Namanya juga orang sakit.
"Olivia, lo udah sadar?" tanya Dilon terkejut saat masuk ke kamar, segera Ia pun menghampiri kekasihnya itu.
"Iya Olivia baru sadar, kamu sudah telepon Dokter kan?" tanya Erika.
"Sudah kok, katanya lagi di jalan," jawab Dilon, pria itu lalu kembali menatap Olivia, "Gimana keadaan lo? Masih lemes gak?"
"Hm," angguk Olivia.
Erika yang merasa takut mengganggu, lalu meminta izin keluar dan beralaaan akan menunggu dokter. Sekalian juga nanti akan Ia kabari kedua orang tua Olivia, Ia dan Mamanya Olivia kan berteman juga.
Seperginya Erika, Dilon tidak malu lagi mengungkapkan kasih sayangnya. Pria itu ikut naik ke ranjang lalu membawa Olivia ke pelukan nya, mengusapi punggungnya pelan. Dilon bahkan bisa merasakan suhu tubuh pacarnya ini.
"Lain kali jangan begini lagi, lo buat gue ngerasa bersalah aja," ucap Dilon.
"Habisnya kamu susah banget di hubungin, aku ngerasa hampir putus asa. Jadi kalau kamu marah, kamu lebih milih diamin aku ya?" kata Olivia pelan.
"Gue cuman pengen lo sadar dan mikirin kesalahan lo itu, jujur aja gue emang kecewa sama lo," jawab Dilon.
__ADS_1
Olivia lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Dilon, terlihat kedua matanya berkaca-kaca seperti mau menangis. Dilon masih bersikap santai begini, padahal Ia tahu pria itu sedang kecewa.
"Dilon kamu sudah maafin aku belum? Aku sudah sadar sama kesalahan aku, aku janji gak akan kecewain kamu lagi," tanya Olivia memohon.
"Sebenarnya gue masih ngambek dan cemburu, tapi lihat lo sakit begini gue juga gak tega," gumam Dilon.
"Itu berarti kamu sudah maafin aku kan?" Tanpa bisa ditahan, kedua mata Olivia berbinar merasa senang, padahal belum pasti juga.
Bukannya menjawab, Dilon malah mengecup sekilas bibir Olivia lalu tersenyum tipis. Hanya tindakan kecil ini saja sudah bisa dijelaskan jika Dilon memang sudah memaafkan Olivia. Jika belum, berpikir dirinya jahat sekali karena tidak melihat perjuangan kekasihnya ini.
Memang sih Olivia salah karena seperti sudah mempermainkan nya. Selain sudah berani berbohong, terlihat menerima saja kehadiran Septian, padahal ada yang lebih berhak di sampingnya, yaitu pacarnya. Tetapi Dilon tidak mau meninggikan ego, takut mengancam hubungan mereka.
"Tapi lo jangan nakal lagi ya, lo tahu sendiri kalau gue udah marah sama si Septian, sampai kalang kabut kaya tadi," ucap Dilon dengan suara tegasnya.
"Iya gak akan, aku akan berusaha jauhin dia," kata Olivia lalu kembali memeluknya. Rasanya lega sekali karena sekarang mereka sudah baikkan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Erika lalu masuk bersama seorang dokter yang sangat dikenali, dokter itu khusus keluarga mereka. Dilon lalu turun dari ranjang, membiarkan dokter memeriksa Olivia.
"Terima kasih dokter sudah datang ke sini, maaf kalau mengganggu waktu nya," ucap Erika mewakilkan.
"Sama-sama Bu Erika, sudah menjadi tugas saya," kata dokter laki-laki paruh baya itu ramah.
Erika lalu kembali akan mengantar dokter itu ke depan untuk pulang, sedang Dilon tidak pergi dan menemani kekasihnya lagi. Ada sekitar tiga bungkus obat yang diberikan, dan semua harus Olivia habiskan agar cepat sembuh.
"Aku lupa sekarang lagi di rumah kamu, apa Mama aku tahu aku di sini?" tanya Olivia pada Dilon.
"Katanya Erika sudah hubungin Mama kamu, terus aku bilang aja yang bakal anterin kamu pulang. Tapi terserah lo, mau pulang sekarang atau mau nginep di sini juga gak papa," jawab Dilon lalu tersenyum lebar penuh arti.
Olivia menggeleng, "Aku mau pulang aja, gak enak kalau tidur di sini. Ini kan kamar kamu, rumah kamu," tolak nya.
__ADS_1
"Loh santai aja kali, lo bisa pakai kamar gue. Sebenarnya sih sekamar juga gak masalah, tapi lo pasti gak mau, gue bisa tidur di kamar lain," modus Dilon sambil menyeringai.
"Dasar!" dengus Olivia lalu tertawa kecil.
Erika lalu kembali ke kamar sambil membawakan semangkuk bubur yang masih hangat dengan banyak topping menggiurkan. Dilon lalu berinisiatif menyuapi Olivia, sedang Erika membiarkan saja pasangan kekasih itu bermesraan.
Dengan perhatiannya Dilon mulai menyuapi Olivia, kekasihnya itu terlihat tidak nafsu makan tapi terus Ia paksa dengan berbagai macam cara. Di suapan ke lima akhirnya Dilon menyerah, karena Olivia malah hampir muntah.
"Ya sudah ayo minum obat dulu, terus istirahat, " ucap Dilon memerintah.
"Selesai minum obat aku mau pulang aja, anterin aku pulang ya?" pinta Olivia.
"Jadi lo gak bakal nginep? Emangnya kuat kalau pulang?" tanya Dilon merasa kecewa. Padahal kalau Olivia menginap, Ia tidak masalah jika diminta menjaganya semalaman.
"Kuat lah, kan naik mobil. Beda lagi kalau misal jalan kaki, baru gak akan kuat," sahut Olivia masih bisanya bergurau.
Selesai minum obat Dilon lalu membantu Olivia bersiap untuk pulang. Melihat perempuan itu yang terlihat lemas walau hanya berdiri, membuat Dilon pun akhirnya menggendongnya ala bridal. Olivia sempat minta diturunkan, tapi tidak Dilon lakukan.
Mungkin perempuan itu malu Ia gendong seperti ini di rumahnya, takut dilihat orang lain. Tetapi Dilon masih punya hati, mana tega Ia lihat Olivia yang sakit jalan sendirian menuju ke bawah.
"Olivia sudah mau pulang ya? Kamu sudah makan dan minum obatnya kan?" tanya Erika yang tidak sengaja berpapasan di bawah tangga.
"Sudah kok, tapi dia cuman bisa makan buburnya sedikit, malah mau muntah," jawab Dilon.
"Ya sudah gak papa, yang penting ada makanan masuk biar ada tenaga sedikit. Obatnya awas ketinggalan ya," kata Erika.
"Enggak kok Tante, makasih banyak ya untuk semuanya." Olivia merasa terharu karena di sini dirawat dengan baik.
Erika mengangguk pelan dengan senyuman manis seperti biasanya. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Ia katakan pada Dilon, sebuah pesan dari suaminya, tapi merasa tidak enak karena ada Olivia.
__ADS_1
"Em Dilon sepulang mengantar Olivia nanti kesini lagi ya, Papa kamu katanya mau bicara sama kamu di ruang kerjanya," ucap Erika pelan.
"Hm." Dilon hanya berdehem lalu melanjutkan langkah untuk keluar dari rumah.