Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Akhirnya Pergi Juga


__ADS_3

Tidur nyaman Olivia terganggu mendengar jam bekernya berbunyi dengan nyaring di penjuru kamar. Sebelah tangannya lalu terulur untuk mematikan. Tetapi karena terlalu jauh dan tak sampai, terpaksa matanya pun harus terbuka untuk melihat jelas dan akhirnya mati juga alarm nya.


"Hah sudah jam tujuh lagi ya," gumamnya seorang diri sambil menatap langit kamar.


Olivia tidak tahu kenapa Ia malah memasang alarm, apa mungkin sebagai pengingat agar dirinya tidak sampai bangun kesiangan dan ketinggalan seseorang? Perempuan itu mendudukan tubuhnya sambil mengumpulkan nyawa.


Pintu kamarnya diketuk, seseorang lalu masuk dan tidak lain itu adalah Mamanya bersama adik laki-laki nya. Olivia berusaha tersenyum, walau wajahnya pasti sekarang jelek sekali karena baru bangun tidur.


"Kakak ih masa baru bangun? Gak solat ya?" tanya Kai yang sudah sensi duluan.


"Kakak gak solat, lagi kedatangan tamu," jawab Olivia malas.


Kai memiringkan kepalanya sedikit merasa bingung mendengar itu, Ia pun beralih menatap Mamanya meminta penjelasan. Maklum saja anak laki-laki, tidak mengerti dengan hal yang menyangkut perempuan.


"Kakak lagi datang bulan, haid," Jawab Keisha menjelaskan pada putranya yang masih kecil itu. Kai pun menganggukkan kepala baru mengerti.


"Kamu mau ke bandara sekarang kan? Ayo siap-siap, takut pesawat Septian keburu berangkat," perintah Mamanya yang ternyata ikut tahu.


Olivia menghembuskan nafasnya berat, bahunya terlihat lesu, "Memangnya aku harus pergi ya? Malas," sahutnya.


Keisha terlihat menggelengkan kepala melihat tingkah putri sulungnya itu. Ia lalu menyuruh Kai untuk keluar kamar dan bermain, untungnya Kai mengerti dan langsung pergi. Ada hal yang ingin Keisha bicarakan dengan Olivia.


"Olivia, sebenarnya hubungan kamu dengan Septian itu bagaimana? Mama sangat tidak mengerti dengan sikap kamu kepada dia," tanya Keisha menuntut penjelasan.


"Maksud Mama gimana?" Olivia jadi bingung sendiri.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mencintai Septian? Kamu seperti tidak menghargai dia sebagai pasangan kamu, yang Mama lihat begitu. Lalu kalau misal gak cinta, kenapa kamu menerima dia sebagai kekasih kamu?"


Olivia dibuat terdiam mendapat pertanyaan seperti itu, membuat kepalanya pun menunduk dengan jari tangan yang saling bermain. Ternyata Mamanya pun menyadari kejanggalan ini, sepertinya Ia terlalu menunjukkan diri.


Mau bagaimana lagi, Olivia kan memang dari awal tidak ada perasaan apapun pada Septian. Mereka pacaran ya karena perjanjian itu, jaminannya Dilon yang dibebaskan. Haruskah Olivia katakan yang sebenarnya?


Keisha lalu mengusap bahu Olivia, "Mama gak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi Mama harap kamu tidak memaksakan hati kamu dan malah membuat kamu tidak bahagia."


Ya Olivia juga inginnya begitu, karena Ia memang tidak bahagia menjalin hubungan dengan Septian. Jujur saja pria itu memang baik hati dan selalu berusaha membahagiakannya dengan cara apapun. Tetapi perasaan seseorang itu tidak bisa dipaksakan kan?


"Tapi Mama merasa Septian sangat menyayangi kamu, Mama bisa lihat itu," lanjut Keisha.


Olivia pun membalas tatapan Mamanya, "Apa hanya itu saja yang buat Mama sama Papa sampai setuju kita tunangan juga?"


Tetapi anehnya Keisha seperti tidak nyaman ditanyai seperti itu. Mamanya malah mengalihkan obrolan dan menyuruhnya cepat bersiap karena waktu terus berjalan. Jarak dari rumah ke bandara juga hampir setengah jam an, belum lagi kalau macet.


"Kamu pakai mobil Mama saja ya, kuncinya di dalam," kata Keisha melihat putrinya itu menuruni tangga.


Sebelum berangkat Olivia menyalami tangan Mamanya itu dulu, lalu mengucap salam dan pergi dari sana. Selama perjalanan Ia hanya diam dan fokus menyetir, dengan diiringi musik dari penyanyi Sia.


Sesampainya di bandara, Olivia mencari parkir nyaman terlebih dahulu. Ia lalu turun dan segera bergegas ke dalam mencari Septian. Hampir sepuluh menit berputar-putar, akhirnya ketemu juga. Pria itu tidak sendirian, ada asisten pribadi dan Om nya.


"Septian, lihat di sana ada siapa," ucap Om nya sambil menepuk bahu remaja itu.


Saat Septian mengangkat kepala untuk melihat, ekspresi wajahnya yang murung seketika itu juga berubah menjadi ceria. Senyuman di bibirnya mengembang, dengan diiringi detak jantung yang cepat.

__ADS_1


Septian segera berdiri dari duduknya, lalu menghampiri Olivia, "Hai kamu datang juga, aku kira gak akan," ucapnya penuh kelegaan.


Om nya di belakang lalu menyahut, "Ya pasti datang dong, masa tunangan kamu gak nganter sampai ke bandara, kalian kan harus melakukan perpisahan dulu sebelum LDR," godanya.


Olivia berdehem pelan berusaha tidak kelihatan gugup, "Tadi di jalan macet, jadi agak lama. Berapa lama lagi sampai pesawatnya berangkat?"


Tepat saat itu terdengar pengumuman kepada para penumpang pesawat menuju London untuk segera naik. Tatapan Septian pun menjadi sendu karena ternyata melakukan perpisahannya dengan Olivia hanya sebentar.


Sebelah tangan Septian terangkat mengusap puncak kepala perempuan itu yang tertutupi topi, "Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, apa kamu juga akan kangen sama aku?" tanyanya penuh harap.


"Hm." Hanya deheman ambigu saja yang Olivia berikan, kalau tidak bereaksi apapun malu dilihat keluarga.


"Baik-baik ya di sini, aku gak tahu kapan ke Indonesia lagi, tapi kalau ada waktu libur panjang aku pasti akan pulang."


Seharusnya moment ini menjadi moment yang mengharukan karena mereka akan berpisah, sayangnya hanya Septian saja yang merasakan itu, karena Olivia hanya datar-datar saja. Apakah Ia tidak punya hati?


Septian lalu membawa tangan kiri Olivia, mengusap cincin di jari manisnya yang tersemat. Olivia sebenernya tidak nyaman, tapi lagi-lagi malu karena dilihat keluarga Septian dan tidak mau menunjukkan sikap aslinya.


"Setiap kamu kepikiran untuk berkhianat dari aku, kamu harus lihat cincin ini. Jangan pernah kamu lepaskan, karena kamu sama saja tidak menghargai aku sebagai pasangan kamu." Nada suara Septian kembali berat, itu berarti sedang serius.


Olivia lalu menarik tangannya hingga terlepas, tidak menanggapi perkataan Septian tadi, "Sebaiknya kamu pergi sekarang, takut pintu pesawatnya ditutup."


Septian hanya tersenyum tipis tahu jika perempuan itu ingin menghindarinya, tapi tidak apalah, karena pasti Olivia pun tadi sudah mendengar perkataannya. Sebelum benar-benar pergi, Ia sempat memeluk perempuan itu erat beberapa saat.


Septian menghirup rakus wangi tubuh perempuan itu, berusaha mengingat selalu wanginya yang akan Ia rindukan ini. Setelah merasa cukup, Ia pun melepaskannya dan sempat tersenyum lagi pada Olivia lalu berbalik dan benar-benar pergi dari sana.

__ADS_1


"Hati-hati ya Septian, nanti kalau sudah sampai di London jangan lupa kabari kami!" teriak Om Andri keras sambil melambaikan tangan.


__ADS_2