
Daniella sudah mandi dan sekarang tinggal bersantai, masih pukul sembilan dan belum terlalu malam. Baru saja membuka ponsel nya, kedua matanya terbelak melihat ada sebuah pesan dari Kai.
Dengan perasaan berdebar, Ia pun membuka nya. [Daniella, tumben hari ini kamu gak ke kantor Om.]
Ya begitulah isi pesan nya, membuat Daniella jadi tersenyum-senyum sendiri. Jangan bilang Kai tadi menunggunya? Tetapi untuk apa, biasanya Ia ke sana juga kan hanya mengganggu pekerjaan. Dugaannya selama ini ya begitu.
Dengan menurunkan gengsi nya, Daniella pun menghubungi Kai, Ia bahkan langsung video call karena kangen melihat wajahnya hari ini belum bertemu. Tidak lama, diangkat dan wajah tampan itu langsung terpampang di layar.
["Hai Daniella, akhirnya kamu telepon Om juga."]
"Hm memangnya kenapa? Coba jelasin apa maksud Om ngirim pesan begitu," tantang nya sambil berusaha menahan senyum, berusaha menahan rasa gengsi nya.
["Ya gak papa sih, cuman gak biasa saja, kamu kan hampir setiap hari selalu ke kantor Om. Jangan salah paham, Om cuman khawatir kamu kenapa-napa."]
Benarkah?
Daniella hanya berdecih pelan sambil meledek Kai di dalam hati kalau pria itu lah yang kini gengsian tidak mau jujur dengan hatinya. Bilang saja memang merindukan nya, sok-sok an menggunakan kata lain.
Memangnya Daniella bodoh apa?
"Aku gak ke kantor Om soalnya lagi belajar."
["Oh kamu ada les tambahan ya?"]
"Ck bukan belajar itu, tapi belajar buat move on dari Om. Kayanya mulai hari ini aku juga gak akan terlalu sering gangguin Om Kai lagi, jadi Om bisa nikmatin waktu tanpa aku."
Daniella bisa melihat perubahan ekspresi Kai dalam beberapa detik, tapi dengan cepat pria itu menormalkan lagi ekspresi wajahnya. Kai lalu tertawa kecil, sepertinya tidak percaya dengan perkataannya.
["Haha kamu ini bicara apa sih Daniella? Bisa saja."]
"Tapi Om, gimana kalau aku serius mau move on dari Om? Om juga pasti senang gak aku ganggu terus, bisa serius juga sama Ayana," ucap Daniella dengan ekspresi seriusnya berusaha terlihat meyakinkan.
__ADS_1
Tawa Kai pun langsung berhenti. ["Ya gak tahu, perasaan itu kan milik kamu. Kamu juga yang sudah memutuskan, hidup kamu ada di tangan kamu."]
Jujur saja Daniella agak kecewa dengan jawaban Kai, inginnya pria itu blak-blakkan memintanya untuk tidak berhenti mencintai nya. Entahlah apa perasaan Kai yang sebenar nya, tapi jika ikhlas begitu berarti Kai memang tidak ada perasaan apapun padanya.
["Apa mungkin kamu sudah punya pacar ya?"] tanya Kai malah membahas itu.
"Aku punya pacar? Enggak, belum kayanya. Nanti deh kalau hati aku sudah benar-benar ikhlas, pasti mudah buka hati untuk orang lain. Iyakan Om?"
["Hm."]
Setelah itu keduanya saling terdiam menatap wajah satu sama lain dengan tatapan yang sulit di artikan. Daniella selalu betah sendiri walau hanya video call, tapi rasa rindu nya sedikit terobati.
Ia lalu menguap lebar tiba-tiba merasa ngantuk, menyamakan posisi berbaring nya dan perlahan kedua matanya pun terpejam. Nanti Kai pun pasti akan mematikan panggilan mereka.
["Selamat malam Daniella, mimpi yang indah."] Itulah hal terakhir yang Daniella dengar sebelum jatuh ke alam mimpi.
Besok pagi nya Daniella merasa hari ini lebih ceria dari pada kemarin, tidak lagi murung dan merasa lega begitu saja. Apa mungkin karena semalam sudah berterus terang kepada Kai?
"Selamat pagi Mah Pah!" ucapnya riang saat memasuki ruang makan, tidak lupa Ia juga mengecupi pipi kedua orang tuanya bergantian.
"Selamat pagi juga Daniella," balas mereka. Melihat putrinya itu yang terlihat ceria, jadi menaikan mood mereka.
Menu sarapan kali ini adalah pancakes saus maple, salah satu kesukaan Daniella dan sudah pasti akan Ia habiskan tumpukan tiga pancakes dengan tingkat kematangan sempurnanya.
Daniella mendengarkan obrolan orang tuanya, katanya mereka di undang ke acara ulang tahun perusahaan yang dipimpin Kai. Ia pun baru ingat hal itu, pasti sekarang sedang sibuk-sibuk nya.
"Emangnya kapan acara ulang tahun nya Pah?" tanya Daniella baru membuka suara.
"Minggu depan, tapi Kai sudah bahas ini dengan keluarga karena katanya acaranya akan lebih spesial. Sudah pasti akan banyak tamu klien yang hadir, jadi para keluarga juga ikut mempersiapkan," jawab Aiden. Pria paruh baya itu terlihat bersemangat.
Daniella mengangguk-anggukan kepalanya. Biasanya jika ada acara ulang tahun perusahaan keluarga, memang selalu dilakukan secara meriah. Hampir setiap tahun juga.
__ADS_1
Sepiring pancakes pun Daniella habiskan, tidak lupa juga meminum habis susu nya. Setelah itu Ia berpamitan pada kedua orang tuanya, Daniella akan berangkat ke sekolah dengan Mia.
Saat keluar dari gerbang rumahnya, Daniella langsung tersenyum lebar pada Mia yang sudah datang. "Cie-cie motor baru nih ye," goda nya.
"Hehehe jadi malu nih," kata Mia sambil cengengesan.
Katanya motor itu hadiah ulang tahun dari kedua orang tuanya, ya walau agak telat sebulan karena tabungannya belum cukup. Mia tentu harus berbagi kebahagiaan ini dengan sahabat nya.
Daniella terlebih dahulu memakai helm nya, lalu naik dan duduk di jok belakang. "Pelan-pelan ya, Hati-hati pokoknya, awas saja kalau sampai jatuh!" nasihat nya.
"Iya-iya tenang aja, percaya sama aku," sahut Mia yang mulai menjalankan motor nya.
Berbeda dengan Mia yang bisa mengendarai motor, Daniella malah tidak bisa dan bisa nya naik mobil. Mereka pasti akan saling membantu, karena itulah yang namanya sahabat.
Saat lampu lalu lintas berwarna merah, motor pun berhenti. Daniella dan Mia tertawa-tawa karena sepanjang perjalanan mereka berbagi cerita hal lucu, punya selera humor yang sama dengan sahabat juga membuat hubungan awet.
Tin!
"Astaga!" pekik Daniella dan Mia terkejut mendengar klakson dari mobil tepat di sebelah mereka.
Saat keduanya menoleh, langsung terdiam melihat si pengendara ternyata adalah Kai. Pria itu tidak sendirian, di sebelahnya ada Ayana. Kenapa mereka harus bertemu di saat kondisi seperti ini sih?
"Selamat pagi Daniella, kamu mau berangkat sekolah ya?" sapa Ayana terlebih dahulu, duduk paling dekat dari posisi motor nya.
"Iya," hanya itu saja jawaban yang Daniella berikan.
Sempat Daniella melirik lebih dalam, pada Kai yang juga sedang menatap nya dalam. Pria itu tidak mengatakan apapun, tapi ekspresi wajahnya terlihat tidak nyaman. Apa mungkin kikuk karena ketahuan basah sedang berduaan dengan Ayana?
"Hati-hati ya naik motor nya, jangan ngebut-ngebut bahaya," Nasihat Ayana sok perhatian, tapi sialnya memang perempuan itu terlihat tulus sekali orang nya.
Mia dan Daniella hanya mengangguk. Melihat lampu sudah hijau, Daniella menepuk bahu sahabat nya dan minta untuk segera pergi. Padahal tadi mereka sedang asik-asik nya tertawa, tiba-tiba jadi tidak mood karena malah bertemu pasangan kekasih itu.
__ADS_1
Mia juga jadi seolah bisa merasakan perasaan Daniella tadi, tidak bertanya apapun.