
Dalam hitungan jam Septian dapat dengan mudah menjadi Selebriti di sekolah. Dulu para murid perempuan yang acuh padanya mulai memperhatikan, bahkan sudah ada yang menjadikannya crush lagi. Mereka menganggap, Septian adalah orang yang misterius. Biasanya yang seperti itu sangat digemari para perempuan.
"Wah lihat sekarang si Septian jadi idola di sekolah ini, dia bisa langsung geser posisi Dilon yang dulunya banyak di kagumin," celetuk Syifa melihat beberapa kerumunan dari jauh.
"Iya, padahal dulu Septian selalu sendirian bahkan gak punya temen. Kenapa gak dari dulu aja ya dia berubah gini?" tanya Olivia bingung ikut memperhatikan.
"Hm kalau dari dulu mah bakal saingan terus sama si Dilon. Oh iya tadi pagi sebenarnya mereka ribut kenapa sih?" Syifa pun mencoba memfokuskan pandangannya pada temannya.
Olivia memilih menghentikan makannya, merasa bingung harus menjelaskan bagaimana, toh Dilon saja terlihat tidak mau membahas masalah itu dengannya. Tetapi Olivia pasti nanti akan tanyakan, merasa Ia juga harus tahu.
"Tadi pagi Dilon hampir bunuh Septian," ucap Olivia yang entah apa bahasanya terlalu berlebihan atau tidak.
"Ya ampun, emangnya si Septian di apain Dilon?"
"Pas aku balik lagi, Dilon kaya nyekik Septian sambil mojokkin dia. Aku sudah berusaha pisahin mereka, tapi Dilon itu gak denger. Akhirnya aku pakai cara lain, yaitu dengan ngancam dia putus," cerita Olivia memelan di akhir kata.
Kedua mata Syifa terlihat terbelak, "Terus-terus gimana lagi?" tanyanya penasaran.
"Ya berhasil, Dilon akhirnya lepasin Septian, tapi gantian aku yang diomelin. Dia bilang aku malah lebih belain Septian sampai bilang begitu, tapi aku jawab aja gak serius dan cuman gak mau Dilon kalang kabut terus sakitin Septian," jelas Olivia panjang lebar.
Syifa mengangguk-anggukan kepalanya setelah mendengar cerita itu. sayang sekali saat itu Ia tidak ada di sana menemani Olivia, masalahnya jam pelajaran sudah dimulai dan Olivia malah memilih bolos.
Sepertinya masalah tadi pun cukup rumit, hanya mereka saja yang tahu. Syifa sih berharap Olivia tidak kenapa-napa, Dilon juga tidak mungkin macam-macam pada Olivia, kan pacarnya.
Obrolan mereka lalu terhenti saat melihat kedatangan seseorang, dengan santainya Septian pun duduk di sebelah Olivia. Kedua perempuan itu tentu saja terkejut melihat nya, tapi Septian malah tersenyum polos tidak merasa apapun.
"Hei boleh gabungkan?" tanya Septian baru minta izin, padahal sudah duduk duluan.
"I-iya boleh, duduk dimana aja," jawab Olivia berusaha ramah, tapi kenapa Septian malah duduk di sebelahnya sih? Membuatnya tidak nyaman saja.
__ADS_1
"Wah Septian, kenapa bawa banyak barang nih?" tanya Syifa melirik beberapa barang di atas meja yang dibawa Septian tadi. Ada paperbag, beberapa batang coklat dan lainnya.
"Iya tadi banyak cewek-cewek yang ngasih, tadi juga sempet dicegat jadi baru ke sini," jawab Septian sambil menghela nafas berat, seperti merasa terbebani.
"Hahaha sekarang kayanya kamu jadi idola deh di sekolah, gimana rasanya?" tanya Syifa.
Septian mengedikkan bahunya, "Sama sekali gak menyenangkan, sekarang mereka gangguin aku terus. Ternyata jadi culun gak buruk juga," jawabnya.
Kedua perempuan di sana dibuat terhibur sampai tertawa mendengar jawaban jujur Septian. Membayangkan jadi Septian pasti rasanya campur aduk, dulu kan selalu di acuhkan, lalu tiba-tiba sekarang menjadi pusat perhatian.
"Olivia kamu mau gak? Ini semua buat kamu aja," ucap Septian sambil mendorong beberapa barang itu.
Olivia yang mendengar itu tentu saja terkejut, "Hah? Enggak deh, itu kan punya kamu," tolak nya cepat.
"Iya punya aku, jadi aku sekarang kasih ke kamu. Lagian ini kebanyakan coklat sama makanan, aku gak terlalu suka makanan manis begini. Biasanya cewek kan suka," kata Septian.
Olivia dan Syifa lalu bertatapan, seperti meminta saran satu sama lain. Melihat banyak coklat di meja siapa sih yang tidak tergiur, toh memang benar perempuan sangat suka makanan manis.
"Iya ambil aja. Masa cuman satu? Ayo ambil yang lain lagi," desak Septian.
"Enggak ini aja cukup kok, mungkin Syifa juga mau?" Olivia menawarkan sahabatnya juga, tidak enak jika hanya dirinya seorang yang menerima.
"Oh iya Syifa ayo ambil aja, terserah mau berapa aja," kata Septian berbaik hati.
"Oke makasih ya," ucap Syifa dan mulai memilih.
Septian lalu minta izin untuk memesan makanan lebih dahulu, katanya perutnya lapar belum makan dari pagi. Sedangkan Olivia dan Syifa pun kembali melanjutkan makannya, sambil mengobrol kan tentang perubahan Septian.
Tidak sengaja Syifa melihat kedatangan Dilon dengan teman-temannya memasuki kantin. Syifa pun segera memberitahu Olivia, keduanya menjadi panik bersamaan. Semoga saja Septian itu belum kembali.
__ADS_1
"Ternyata lo di sini, kenapa duluan?" tanya Dilon menghampiri meja kekasihnya.
"Kamu kan dari jam ke tiga menghilang, makanya aku ke kantin duluan. Habis dari mana tadi?" Olivia malah balik bertanya.
"Ada urusan," jawab Dilon singkat tanpa berniat menjelaskan dengan detail.
Tidak sengaja Dilon melihat paperbag di atas meja, Ia pun membawanya lalu melihat isinya. Kebanyakan makanan manis, milik siapa? Perhatian Dilon pun langsung tertuju pada Olivia, seperti meminta penjelasan.
"I-itu punya Syifa, iyakan Syifa?" tanya Olivia pada sahabatnya, langsung memberi kode lewat tatapan mata. Semoga saja peka.
Syifa langsung mengangguk, "Haha iya itu punya aku, kamu mau beli Dilon?" tawarnya.
"Emangnya lo jualan? Tumben, bukannya lo orang kaya ya?" tanya Dilon menyeletuk.
"Ya biarin dong, terserah aku, hitung-hitung nambah uang jajan." Syifa lalu merebut paperbag itu, "Kalau gak mau beli gak usah, gak papa," katanya.
Dilon hanya mengedikkan bahunya, Ia juga memang tidak berniat membeli makanan manis itu. Pria itu dari tadi asik sekali mengusapi kepala Olivia sambil berdiri dan memperhatikan sekitar kantin.
Olivia lalu melirik lagi ke stand makanan dimana tadi Septian sedang antri di sana. Melihat pria itu yang sepertinya sudah selesai memesan dan akan kembali, membuat Olivia beranjak dari duduknya, Ia harus pergi mengajak Dilon juga.
"Dilon kita pergi yuk," ajak Olivia sambil memegang tangannya.
"Kemana? Gue belum makan, mau pesen makan dulu," kata Dilon.
"Nanti aja deh, anterin aku ke suatu tempat dulu, setelah itu balik lagi kesini. Yuk!" ajak Olivia memaksa.
Tanpa menunggu jawaban dari Dilon, Olivia segera menarik tangannya pergi dari sana. Ia sempat mengedipkan sebelah matanya pada Syifa, sahabatnya itu pun mengangguk mengerti. Kali ini Olivia selamat, tapi entahlah bagaimana nanti.
"Lo mau di anter kemana sih? Tumben harus sama gue," tanya Dilon.
__ADS_1
"Ke.. Ke perpustakaan, mau pinjem buku," jawab Olivia asal.