
Selesai Dilon berpakaian, keduanya turun ke lantai bawah untuk sarapan. Saat Olivia tanyakan apakah di rumah ada Om Aiden, Dilon hanya menjawab tidak tahu. Benar-benar cuek sekali pada orang tua.
"Buatin aku sarapan dong sayang," pinta Dilon yang baru duduk di kursinya.
"Kamu mau makanan apa? Kalau gampang nanti aku buatin," tanya Olivia tidak keberatan, Ia juga bisa sedikit masak karena sering eksperimen resep viral di sosial media.
"Nasi goreng pakai telur ceplok ya, kayanya enak," jawab Dilon langsung sumringah saat mengatakan itu.
"Oke aku buatin dulu, kamu minum kopi aja dulu biar gak terlalu bosen."
"Oke."
Olivia pun pindah ke pantri untuk mulai memasak. Terlebih dahulu mencari bahan makanan di kulkas, cukup lengkap dan Olivia berencana membuat nasi goreng dengan topping lengkap.
Dilon sendiri memperhatikan pacarnya itu dari meja makan yang kebetulan posisinya berhadapan. Sesekali sambil minum kopi melirik Olivia, merasa senang saja dan membayangkan jika perempuan itu suatu saat nanti menjadi istrinya.
"Haha dasar, gue mikir apa sih?" tanya Dilon konyol sendiri lalu mengusap rambutnya ke belakang.
Mendengar bel rumahnya berbunyi dengan nyaring, membuat Dilon beranjak untuk membukakan. Olivia terlihat masih fokus masak, Dilon tidak lupa bilang pada pacarnya itu untuk membukakan pintu.
Entah kemana pembantunya, tapi tidak apa jika Dilon yang membuka sendiri pintu. Baru saja membuka pintu, Dilon terpekik merasakan pelukan tiba-tiba dari Vanessa. Perempuan itu menyapanya ceria seperti biasa.
"Vanessa, kamu ngapain kesini?" tanya Dilon sambil melepaskan pelukan mereka.
"Ish kok nanyanya gitu sih? Aku kan sering main ke rumah kamu, cuman sekarang sudah besar emang jarang lagi," dengus Vanessa merasa tersinggung.
Dilon pun menjadi canggung sendiri, "Em maksudnya kok gak bilang dulu mau kesini?"
"Ya biarin, aku kan temen kamu. Bebas dong mau kapan aja main kesini," jawab Vanessa acuh.
Hidung perempuan itu lalu mencium masakan yang wangi dan enak, Vanessa pun berjalan begitu saja menuju dapur. Dilon yang melihatnya mulai panik, lalu segera mengikuti nya.
__ADS_1
"Dilon ada siapa? Ada tamu ya?" tanya Olivia tanpa mengalihkan pandangan dari wajannya.
"Loh Olivia, ngapain kamu di sini?"
Mendengar suara familiar itu membuat Olivia langsung menoleh ke ambang pintu. Ia kira tadi yang masuk adalah Dilon, tapi yang mengejutkan ternyata Vanessa. Tidak lama Dilon pun muncul dan langsung tersenyum kikuk padanya.
"Lagi main lah, aku kan pacarnya Dilon," jawab Olivia dengan nada sombongnya.
Vanessa terdengar berdecak pelan, seperti menahan kesal karena ada Olivia di rumah ini. Padahal tadinya Ia ingin menghabiskan waktu dengan Dilon, kenapa si Olivia itu selalu mengganggu saja sih?
"Harusnya aku yang tanya, ngapain kamu kesini?" tanya Olivia balik.
"Aku kan temennya Dilon, dari kecil juga aku suka main kok sama Dilon, jadi gak salah dong!" Vanessa langsung tersenyum sinis setelah mengatakan itu.
Olivia memutar bola matanya malas, aura permusuhan keduanya kembali terasa. Merasa nasi goreng spesialnya sudah matang, Olivia pun mematikan kompor lalu memindahkan nasi gorengnya ke piring. Ada dua piring, sengaja Ia buat lebih.
"Dilon ayo duduk, makan dulu," perintah Olivia sambil membawa dua piring itu ke meja makan.
Dilon mengangguk menurut saja, Ia sempat melirik Vanessa tapi tidak mengatakan apapun dan segera duduk saja di kursi makan. Ternyata Vanessa pun mengikutinya, karena di sebelah Dilon sudah di isi Olivia, terpaksa Ia pun duduk di depan keduanya.
"Kata siapa? Dilon bukan makan siang kok, dia baru sarapan," jawab Olivia tidak kalah sinis.
"Loh Dilon kamu baru sarapan? Jangan bilang baru bangun juga ya?" tanya Vanessa sambil menatap pria itu dalam.
"Iya, tadi malam nginep di rumah temen. Baru pulang pas Olivia nelepon dia di rumah aku, jadinya langsung pulang deh," jawab Dilon di sela kunyahannya.
"Kamu kebiasan deh dari dulu kalau hari minggu suka bangun siang, jadinya lupa sarapan. Jangan di biasain, nanti sakit loh," kata Vanessa dengan nada khawatirnya.
Olivia yang mendengar itu langsung mencebikkan bibirnya, merasa mual sendiri melihat Vanessa yang sok perhatian begitu pada pacarnya. Olivia kan cemburu, Ia pacarnya dan merasa yang lebih berhak.
"Itu satu piring lagi buat siapa? Lo emangnya udah makan? " tanya Dilon menunjuk sepiring nasi goreng lagi.
__ADS_1
"Kalau gak mau buat aku aja deh, tadi pagi aku cuman sarapan sama roti sekarang sudah laper lagi," pinta Vanessa.
Tetapi sayangnya sebelum tangannya menggapai piring itu, langsung di pukul oleh Olivia membuat Vanessa terkejut sendiri dan segera menarik lagi tangannya. Dua perempuan itu pun saling menatap tajam satu sama lain.
"Enak aja, ini buat aku lah. Kalau mau sana aja buat sendiri, susah tahu!" ucap Olivia ketus dan segera mengamankan sepiring nasi gorengnya.
"Ck dasar pelit, kalau gak mau ngasih gak usah pukul juga kali!" kesal Vanessa protes.
"Jangan lebay deh, itu bukan mukul, gak keras juga," balas Olivia tidak mau kalah.
"Gak keras? Ayo siniin tangan kamu, rasain!" tantang Vanessa sambil berdiri menantang. Emosinya mulai terpancing, sampai menunjuk-nunjuk.
Brak!
Kedua perempuan itu terkejut mendengar gebrakan keras di meja makan. Saat melihat si pelaku, langsung menelan ludah kasar melihat ekspresi datar Dilon yang seperti sedang menahan marah.
"Kalian itu kenapa sih? Gak di sekolah, di sini pasti berantem. Perihal nasi goreng aja sampai diributin!" omel Dilon dengan suara masih stabilnya.
"Maaf Dilon kalau ganggu makan kamu, ya sudah ayo lanjut lagi aja sarapannya, gak usah hiraukan dia," kata Olivia berusaha menenangkan kekasihnya.
Vanessa malah kembali kesal dibilang begitu, jadi dirinya tidak akan dianggap di sini? "Dilon kamu harusnya belain aku dong, tadi tangan aku di pukul Olivia," adunya meminta belas kasihan.
"Haduh masih aja dibahas, dasar cengeng!" ledek Olivia.
"Hei siapa yang cengeng?!"
Dilon menghembuskan nafasnya berat melihat dua perempuan itu kembali ribut, membuat kepalanya jadi pening sendiri. Padahal tadi sedang menikmati makanannya, tapi sekarang sudah tidak nafsu lagi.
"Kalau kalian masih mau ribut pulang aja sana!" usir Dilon tanpa perasaan sanking terlalu muak.
"Ih Dilon kok gitu sih? Aku kan baru dateng," rengek Vanessa. Baru kali ini Dilon sedingin itu padanya, semua gara-gara Olivia.
__ADS_1
"Makanya jangan berisik dong, kepala gue pusing nih denger suara cerewet kalian. Jadi gak ada nafsu makan lagi gue!" Dilon pun beranjak dari duduknya lalu pergi dari sana.
Olivia yang melihat pacarnya marah dibuat gugup sampai menggigit bibir bawahnya. Ia lalu menatap Vanessa, kembali mereka saling menatap tajam satu sama lain. Menyalahkan satu sama lain.