
Dilon yang mendengar itu merasa tersinggung, "Hei emangnya gue miskin apa cuman punya motor? Gue juga masih punya mobil kok," belanya sensi.
"Gak usah, lagian aku bawa mobil sendiri!" tolak Olivia kekeuh.
Perempuan itu pun sengaja menabrak bahu Dilon dan melenggang pergi dari sana. Di luar berpapasan dengan Vanessa, mereka sempat bertatapan sinis satu sama lain, tapi Olivia yang malas ribut lagi pun melanjutkan langkah.
"Dilon kamu mau kemana? Kamu kan katanya mau anterin aku pulang, yuk!" ajak Vanessa sambil menahan tangan pria itu yang akan melewatinya.
"Em tapi--"
"Ish sudah ayo!"
Olivia berusaha tidak terlalu peduli walau sempat melihat kedua orang itu di tengah tangga. Ia tetap keluar rumah lalu menuju mobilnya yang terparkir. Rasanya hari ini kesal sekali, siapa lagi kalau bukan ulahnya Dilon.
Sepanjang perjalanan Olivia fokus menyetir dengan wajah tertekuk nya. Sesekali Ia melirik ponselnya, berharap Dilon meneleponnya. Tetapi sayangnya tidak ada, pria itu cuek sekali. Padahal Olivia sedang butuh diyakinkan.
"Loh sayang kok sudah pulang lagi?" tanya Keisha yang kebetulan sedang di halaman depan melihat tanaman bunganya.
"Iya cuman sebentar di sana," jawab Olivia tanpa minat.
Melihat ekspresi wajah putrinya itu, membuat Keisha yakin ada sesuatu yang terjadi. Ia pun memutuskan menyimpan gunting rumputnya dahulu, lalu mendekati Olivia.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kamu sama Dilon gak berantem kan?" tanyanya.
Olivia menatap Mamanya itu sedikit terkejut, kenapa Mamanya bisa tahu? "Gak ada apa-apa kok," jawabnya berbohong.
"Beneran? Terus kenapa pulang cepet?"
"Dilon katanya ada urusan keluarga sama Papanya, jadi aku gak mau ganggu dan milih pulang aja." Olivia tidak enak harus berbohong begini, tapi mau bagaimana lagi.
"Ya sudah kalau gitu, kamu diam saja di rumah nyantai, mumpung hari minggu," kata Keisha.
Olivia mengangguk lalu masuk ke rumahnya dengan langkah lesu. Dulu Ia selalu senang kalau bersantai di rumah, tapi semenjak pacaran dengan Dilon kan jadi suka ada kegiatan di luar, sekarang jadi bosan.
Entahlah bagaimana besok bertemu lagi, apakah suasananya akan canggung atau tidak. Olivia akan melihat dulu bagaimana perjuangan Dilon meluluhkan nya, juga menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
***
Pagi ini Olivia berangkat sekolah lebih awal, Ia sengaja tidak memberitahu Dilon karena masih kesal. Entahlah apa pria itu menjemputnya seperti biasa atau tidak, tapi sepertinya nanti Olivia akan ditanyai.
"Masih pagi kok sudah lesu gitu, gak sarapan ya?" tanya Syifa yang baru datang ke kelas.
Olivia berusaha tersenyum, "Sudah kok, cuman lagi bad mood aja," jawabnya.
"Bad mood kenapa? Tumben, biasanya juga selalu ceria." Syifa lalu menarik salah satu kursi untuk bergabung di mejanya, "Apa ada masalah?"
Melihat Olivia yang tambah murung, membuat Syifa jadi tidak tega. Sayang sekali hari ini Tasya tidak sekolah karena sedang ada urusan di luar kota, jadi dirinya yang bertugas sendirian menghibur Olivia.
"Ke kantin yuk," ajak Syifa sambil berdiri dari duduknya.
"Mau apa? Masih pagi," tanya Olivia.
"Beli permen, nanti aku kasih deh."
Walaupun hanya tawaran kecil, tapi itu saja sudah membuat Olivia merasa sedikit senang. Ia pun mengangguk lalu keduanya keluar kelas sambil bergenggaman tangan. Suasana sekolah pun mulai ramai.
"Loh Dilon baru datang? Aku kira kamu tadi berangkat bareng Dilon," kata Syifa bingung.
"Enggak, aku berangkat duluan," jawab Olivia pelan.
Mereka terdiam di sana memperhatikan pria itu yang sedang memarkirkan motornya tidak jauh dari sana. Saat si pengendara membuka helmnya, keduanya malah terkejut karena itu bukanlah wajah Dilon.
"Loh siapa itu? Itu bukan Dilon?" tanya Syifa memekik pelan.
Sepertinya bukan hanya keduanya yang bingung, tapi juga beberapa murid lain yang kebetulan melihat dan ada di sana. Murid yang wajahnya agak asing itu lalu turun dari motornya sambil merapihkan rambut, dan tanpa diduga malah menghampiri Olivia.
"Hai Olivia," sapa lelaki itu sambil melambaikan tangan.
"I-iya, kok tahu nama aku?" tanya Olivia bingung sambil tersenyum kikuk walau berusaha tetap ramah.
Lelaki itu terlihat tertawa kecil, "Masa aku gak kenal sama kamu. Sekarang aku tanya, apa kamu kenal aku?"
__ADS_1
Olivia dan Syifa pun menggeleng bersamaan, membuat lelaki itu semakin melebarkan senyumannya karena ternyata perubahannya bisa dibilang cukup berhasil. Sekarang di sana ramai sekali dan semua orang memperhatikannya.
"Aku ini Septian, masa gak kenal?" katanya mengungkapkan diri.
"Hah Septian? Yang culun itu?!" tanya Syifa dengan suara kerasnya, tapi langsung menutup bibirnya mendapatkan senggolan dari Olivia.
"Iya Septian, kelas dua belas B," angguk pria itu.
Di sana pun mulai terdengar bisik-bisik, merasa terkejut karena ternyata lelaki tampan itu adalah Septian, si murid yang selama ini dipanggil culun. Tetapi pertanyaannya, bagaimana bisa berubah jadi keren begini?
"Apa kamu juga yang waktu itu di Kafe?" Tanpa diduga, itulah hal pertama yang Olivia tanyakan.
Dengan pelan Septian pun mengangguk jujur, "Maaf waktu itu aku sempat bohong sama kamu, aku cuman malu aja kamu lihat penampilan aku begitu," jawabnya.
"Kenapa malu? Kamu ganteng kok, malahan aku sampai gak kenal kalau itu kamu. Jadi ini penampilan kamu yang sebenarnya ya?" tanya Olivia sambil memuji.
Mendengar pujian seperti itu dari orang yang disukainya, membuat Septian sangat senang sampai detak jantungnya menjadi cepat. Ia tidak peduli dengan tatapan kagum orang lain, tapi baginya yang paling penting adalah tanggapan dari Olivia.
"Wah-wah Septian, jadi selama ini kamu gak culun ya? Ternyata aslinya ganteng," celetuk Syifa sedikit menggoda.
"Hehe iya aku sengaja dandan culun gitu sebenarnya," kata Septian sambil mengusap tengkuknya tanpa malu.
"Kenapa?" Kini giliran Olivia yang bertanya. Pasti ada alasan yang membuat pria itu berpenampilan begitu, dan Ia merasa penasaran.
Septian tidak langsung menjawab, malah menatap Olivia di depannya dengan tatapan dalam. Ia memang sengaja berpenampilan culun begitu agar orang tidak tertarik kepadanya, ingin melihat juga ketulusan mereka.
Tetapi Septian merasa kalah saat bertemu Olivia, Ia jatuh cinta pada perempuan itu dan ingin Olivia juga merasakan hal yang sama sepertinya. Tetapi jika dirinya culun, sepertinya tidak akan menarik. Itulah kenapa sekarang Septian mengubah penampilannya.
"Itu karena--"
"Bos lihat tuh si pengecut di sana!"
Teriakan keras itu membuat perhatian semua orang teralih, termasuk Septian yang tidak jadi menjelaskan. Terlihat di kejauhan beberapa murid lelaki berlari menghampiri, dan salah satunya ada Dilon.
Setelah dekat mereka berdiri di dekat Septian dengan tatapan tajamnya, seperti menahan marah. Aura permusuhan ini tentu bisa dirasakan semua orang. Olivia merasa bingung, sebenarnya apa yang terjadi?
__ADS_1