
Sudah waktunya pulang, para murid yang tidak memiliki kegiatan langsung bergegas pergi ingin beristirahat di rumah. Dilon dan Olivia pun sekarang sedang menuju parkiran untuk pulang bersama.
"Tadi pagi lo berangkat sama siapa?" tanya Dilon memulai obrolan.
"Di anter supir, bareng sama Kai," jawab Olivia.
"Sekarang sudah gak ngambek kan?"
Olivia langsung melirik sinis pacarnya itu, dikiranya mudah sekali untuk meluluhkan nya. Memang sih sikap Olivia sudah biasa pada Dilon, tapi bukan berarti kekesalannya juga hilang.
"Terus kita pulang pakai apa?" tanya Olivia memilih mengalihkan obrolan.
"Pakai mobil lah, gue juga kan masih punya mobil," jawab Dilon cepat.
Merasakan Dilon menghentikan langkah nya, membuat Olivia pun ikut berhenti dan menatap pria itu bertanya-tanya. Melihat Dilon yang menatap lurus ke depan, membuat Olivia pun ikut melihat.
Dari jarak mereka terlihat Septian yang duduk di atas motor milik Dilon dulu, pria itu terlihat santai sekali menatap ke arah mereka sambil memakai helm nya. Apakah sengaja ingin memancing amarah Dilon lagi?
"Eh Dilon, kamu mau kemana? Ayo kita pulang aja, aku gak mau lihat kamu ribut lagi sama Septian!" cegah Olivia cepat menahan tangan pria itu.
"Gue bukan mau ribut, cuman mau bicara sebentar sama dia," kata Dilon dengan ekspresi datarnya.
"Enggak ah, awalnya cuman ngobrol, terus nanti pasti ikut kebawa emosi. Aku beneran capek lihat kamu kalau sudah emosi gitu," bujuk Olivia terus.
Dilon menurunkan tangan Olivia sambil menatapnya dalam, "Cuman sebentar kok, gue janji gak akan ribut," ucapnya berusaha meyakinkan.
Melihat Dilon benar-benar menghampiri Septian, membuat Olivia menghembuskan nafasnya kasar. Memang pria itu keras kepala sekali, Olivia tidak yakin sebentar lagi pasti akan ada keributan.
Sebenarnya Ia ingin pergi saja dari sana, merasa lelah jika Dilon sudah emosional dan harus memisahkan. Tetapi jika Ia pergi, khawatirnya Dilon semakin di luar kendali dan melakukan hal yang merugikan nya sendiri.
__ADS_1
"Lo gak malu pakai motor punya gue?" tanya Dilon saat sudah dekat dengan Septian. Pria itu hampir menjalankan motornya, tapi tidak jadi.
"Kenapa harus malu? Masih bisa dipakai kok," jawab Septian tidak merasa tersinggung.
"Itu kan bekas gue, mungkin orang lain juga tahu itu. Lo jadi kelihatan banget mau saingin gue, lo pasti lagi ngerencanain sesuatu kan? " tanya Dilon penuh curiga.
Septian terlihat tersenyum sinis, hanya saja Dilon tidak akan bisa melihat karena tertutupi helm nya. Sejenak Septian melirik Olivia di kejauhan, terlihat sekali tatapan penuh ke khawatiran nya. Sayangnya bukan untuk dirinya.
"Mungkin? Kita lihat aja nanti," ucap Septian sambil mengedikkan bahunya, "Oh iya Dilon, lo mending ikhlasin aja motor ini. Lo kan orang kaya, bisa beli lagi."
Kedua tangan Dilon terkepal mendengar itu, Ia sama sekali tidak bangga dipuji begitu. Mudah sekali si Septian itu mengatakan nya, tidak tahu saja jika motor itu adalah motor kesayangannya, hadiah dari orang tuanya.
Ingin sekali Dilon menarik Septian sampai jatuh dari motornya, tapi Ia ingat di belakangnya ada Olivia. Dilon juga sudah janji tidak akan ada keributan. Beda lagi misalnya jika tidak ada pacarnya itu, Dilon tidak akan segan.
"Iya bener, gue kan orang kaya, bisa beli itu dengan mudah. Beda lagi sama lo yang miskin, dapetin motor itu harus ngorbanin nyawa dan lagi beruntung aja menang pas balapan," balas Dilon menusuk hati.
Olivia yang melihat salah satu dari mereka pergi lebih dulu dibuat menghela nafas lega, ternyata benar mereka tidak sampai ribut. Tetapi Olivia yakin mereka tadi sempat bicara serius, membuatnya penasaran saja.
"Lihatkan gue udah janji, kita gak ribut," ucap Dilon yang sudah kembali.
"Emangnya kalian tadi ngobrolin apa sih?" tanya Olivia.
"Ada deh, jangan kepo!" kata Dilon sambil mencubit hidung Olivia, membuat pacarnya itu merengek dan langsung menepis tangannya.
Dilon lalu merangkul bahu Olivia mengajaknya ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Mobilnya juga bagus, para lelaki pasti punya selera yang sama sepertinya. Tetapi bagi Dilon, tetap saja motor Ninja merah itu kesayangannya.
Biasanya Dilon yang selalu mengajak Olivia untuk main sebentar di rumahnya, tapi kali ini Olivia tanpa ragu menawarkan diri lebih dahulu. Dilon sih senang-senang saja, lagi pula jika ada Olivia selalu membuatnya jadi tidak kesepian.
Baru saja mereka masuk ke dalam rumah, Erika sudah menyambut dengan senyuman manisnya seperti biasa. Kedua perempuan berbeda usia jauh itu pun saling menyapa dan bercepaka-cepiki khas wanita.
__ADS_1
"Tante Erika, sudah lama ya kita gak ketemu. Terakhir itu kapan ya?" tanya Olivia memulai obrolan.
"Iya sudah lumayan lama, Tante juga lupa lagi kapan kita terakhir ketemu. Tapi kamu makin cantik aja, wajahnya makin berseri-seri ya," puji Erika sambil mengusap rambut panjang gadis remaja itu.
Olivia langsung memegang pipinya yang merah karena salah tingkah, "Ah Tante bisa saja, Tante juga cantik kok."
Dilon yang dari tadi diam memperhatikan seperti tidak dianggap hanya menghela nafas berat. Merasa bingung saja melihat Olivia dan Erika yang sudah bisa se akrab itu, Ia saja dengan orang tua Olivia masih sedikit canggung.
"Aku sering kok main kesini Tante, tapi sayangnya Tante gak suka ada di sini," ucap Olivia memberitahu.
"Jadi kamu sering main kesini ya? Hm sayang banget, Tante kan gak tinggal di sini," kata Erika dengan wajah sedihnya.
"Tante katanya suka tinggal di apartemen ya? Kenapa gak pindah aja kesini? Rumah kan lebih luas di banding apartemen," usul Olivia.
Melihat Erika yang melirik Dilon, membuat Olivia pun langsung paham jika sepertinya wanita itu merasa sungkan untuk tinggal di sini karena Dilon. Sepertinya nanti harus Olivia bicarakan dengan pacarnya itu.
Erika lalu beralasan jika dari apartemennya menuju butik tidak terlalu jauh, berbeda lagi kalau dari rumah ini yang memakan waktu seperempat jam. Alasannya memang masuk akal, tapi Olivia tetap yakin bukan itu saja.
"Olivia ayo!" ajak Dilon yang sudah kebosanan dari tadi di diamkan.
"Hm," angguk Olivia sambil berdehem pelan.
Olivia tidak lupa berpamitan pada Erika, wanita itu hanya mengangguk sambil melambaikan tangan padanya.
Dilon memperhatikan kekasihnya yang berjalan di sebelahnya, ekspresi wajahnya yang tertekuk itu membuatnya bingung. Saat Dilon goyangkan tautan tangan mereka, Olivia baru menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Dilon, nanti aku mau bicara ya sama kamu," kata Olivia pelan.
Bicara apa? Apa tentang Erika?
__ADS_1