Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Masalah Lain Datang


__ADS_3

"Aku.. " Suara Olivia tertahan karena Septian kembali menyela dengan suara ketusnya itu,


["Sudahlah tidak usah mengelak, aku sudah tahu kalau kamu di sana memang diam-diam masih berhubungan dengan Dilon. Kamu memang tidak jera, kayanya aku sekarang gak akan segan lagi."] setelah mengatakan itu, Septian pun mematikan panggilan.


Perasaan Olivia perlahan di landa rasa panik dan gelisah, bibir bawahnya sampai Ia gigit mengekspresikan perasaannya. Jangan salah paham, Ia bukan panik karna sudah berhianat dari Septian.


Tetapi bagaimana kalau pria itu melakukan hal aneh-aneh? Masih ingat di pikirannya bagaimana ancaman pria itu. Jangan sampai Septian melakukan hal gila.


Tok tok!


Tubuh Olivia tersentak mendengar suara pintu diketuk beberapa kali, Ia pun beranjak untuk membukakan pintu. Ternyata itu Mamanya, Keisha pun melenggang masuk dengan langkah gontai. Membuat Olivia bingung.


"Mah kenapa, kok wajahnya cemberut begitu?" tanya Olivia menghampiri lalu duduk di sebelah Keisha.


"Katanya Papa malam ini gak akan pulang, masalah di kantor belum selesai. Malahan Papa bilang masalahnya semakin bercabang sekarang, perasaan Mama bener-bener gak enak," jawab Keisha.


Mendengar itu membuat Olivia jadi ikut kepikiran, tapi Ia harus tabah dan sekarang menenangkan Mama nya dulu, "Sabar ya Mah, kita harus do'ain Papa juga semoga masalahnya cepat selesai. Terlebih, kita juga harus selalu support dia," ujarnya.


Keisha hanya mengangguk pelan dengan ekspresi wajah yang lesu. Olivia lalu teringat sesuatu, Ia sedikit memundurkan tubuhnya agar bisa menggapai boneka yang tadi di beli di Mall, alias pemberian Dilon.


"Lihat Mah, lucu gak boneka nya?" tanya Olivia menunjukkan.


Keisha terlihat tersenyum tipis lalu mengambil alih boneka itu, "Bagus kok lucu, dimana kamu beli?"


"Em di kasih orang," jawabnya singkat tanpa berniat menjelaskan.


Tetapi sepertinya Mamanya cepat menanggapi, senyuman menggoda pun terukir di bibirnya, "Ini dari Dilon kan?"

__ADS_1


Olivia hanya berdehem pelan ambigu, tidak mau jujur karena nanti Mamanya malah mengomeli lagi. Bukannya tidak mau di nasehati sebuah kebenaran, tapi Olivia juga selalu ingat status itu kok. Hanya saja, Ia kan memang sebenarnya tidak mau berada di posisi ini.


"Hah Mama tidak paham bagaimana hubungan kamu dengan Dilon sekarang. Kamu juga selalu bilang kalau kalian sekarang cuman berteman, terserah deh mau gimana," desah Keisha dengan helaan nafas berat.


Kepala Olivia menunduk, merasa tidak tega sendiri karena sudah membuat Mamanya jadi ikut kepikiran karena masalah percintaannya yang rumit ini. Mau bagaimana lagi, Olivia juga tidak tahu harus mengakhiri seperti apa.


Lewat ekor matanya, Ia memperhatikan Mamanya beranjak dan menyimpan boneka itu di ranjang. Mamanya sempat bilang pada dirinya untuk turun makan malam, dan Olivia lagi-lagi hanya berdehem pelan.


***


Olivia tiba-tiba terbangun dari tidurnya, langsung mengerang pelan mengingat mimpinya yang cukup seram. Ia lalu menyalakan lampu utama yang saklar nya ada di dekatnya juga. Membuat kamar nya yang tadi gelap pun menjadi terang.


"Huft setiap mimpi Kuntilanak selalu aja kaget sendiri, nyebelin banget," gumam Olivia menggerutu.


Merasakan haus di tenggorokan nya, membuat Olivia terpaksa harus beranjak dari berbaring nya. Sayangnya stok air di botol minumnya juga sudah habis, jadi Ia harus turun ke bawah untuk minum.


Saat keluar dari kamar, tubuhnya sedikit merinding merasakan hembusan angin malam yang dingin. Sebenarnya Ia agak takut turun ke lantai bawah, rumahnya sangat besar dan malam ini lumayan seram karena hanya lampu kecil di dinding yang dinyalakan.


Olivia pun turun ke lantai bawah dengan langkah ringan, Ia bersenandung pelan untuk menghilangkan kegugupan. Saat masuk ke dapur, alangkah terkejutnya perempuan itu melihat bayangan seseorang duduk di meja makan.


"Arrrggghhh!"


"Olivia, ada apa?"


Mendengar suara familiar itu, membuat Olivia pun berhenti berteriak dan langsung mengatupkan bibirnya. Matanya memicing mencoba melihat jelas, dengan pelan kakinya melangkah untuk mendekat ke meja makan.


Helaan nafas penuh kelegaan langsung terdengar darinya karena ternyata itu adalah Papanya. Olivia pun mengerucutkan bibir karena sudah menduga tadi hantu, itulah kenapa Ia berteriak ketakutan.

__ADS_1


"Ish Papa, Papa ngapain sih malam-malam sendirian di sini?!" tanya Olivia agak kesal.


"Papa lagi minum air hangat, baru pulang kerja," jawab Kevin.


Ekspresi wajah Olivia yang tadinya kesal pun langsung melunak. Ia lalu melirik jam dinding di sana, ternyata sudah pukul satu malam dan Papanya baru pulang kerja.


Olivia pun kembali menarik tangan Papanya untuk duduk, sedang Ia menyalakan lampu utama dapur agar terang. Sebelum duduk bergabung, Olivia juga sempat membawa air mineral dan meminumnya.


"Kenapa Papa baru pulang jam segini? Malam banget," tanya Olivia kasihan.


Kevin terlihat menghela nafas berat, "Ada masalah di kantor, kayanya kali ini cukup berat. Papa bahkan belum sempat makan malam, sanking terlalu sibuk."


"Ish jangan gitu dong, kalau gak makan gimana kalau sakit? Sebentar ya aku siapin makanannya, aku angetin lagi juga lauk nya biar enak. Pokoknya Papa harus makan!" tegas Olivia tanpa menerima penolakan.


Olivia pun beranjak lagi dan menuju lemari makanan, melihat masih ada beberapa lauk yang utuh. Ia hanya membawa ayam dan kangkung, tidak lupa menghangatkan nya lagi sebelum menghidangkan pada Papanya.


"Huft Papa sudah gak terlalu nafsu makan kalau jam segini," kata Kevin dengan raut tidak nyamannya.


"Gak boleh, pokoknya Papa harus makan sekarang. Gimana kalau Papa sakit hah?!" omelnya.


Kevin malah tersenyum tipis, merasa terharu dengan perhatian dari putrinya itu. Karena merasa tidak tega juga melihat Olivia tadi yang sudah menyiapkan semua, akhirnya Kevin pun mau makan walau tidak terlalu nafsu.


Melihat Papanya mau makan juga, membuat Olivia tidak bisa menahan senyuman. Ia lalu duduk lagi di hadapan nya, memperhatikan Kevin yang sedang makan. Bukankah setiap anak harus perhatian seperti ini pada orang tuanya?


"Terus gimana sekarang, apa kebocoran datanya itu sudah bisa dihentikan? Sampai sejauh mana juga?" tanya Olivia kembali membuka obrolan.


Terlebih dahulu Kevin menelan makannya, lalu berucap, "Kalau kebocoran data sudah, kami juga sudah menghubungi beberapa pihak dan minta maaf. Tapi ada juga yang tidak bisa mentolerir, bahkan mereka sampai cabut kerja sama nya."

__ADS_1


Kasihan sekali pikir Olivia jika sampai rumit begitu, tapi Ia pun mengerti kenapa para pemegang saham sangat kecewa bahkan menarik kerja sama. Papanya sekarang pasti sedang pusing bagaimana menyelesaikan semua ini.


"Kayanya kita juga akan gadaikan dulu mobil Mama, sebagai tebusan Papa di kantor untuk menutupi sedikit kerugian sebelum semakin besar," lanjut Kevin dengan berat hati. Padahal mobil itu hadiah darinya, tapi sepertinya Keisha pun bisa mengerti.


__ADS_2