Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Pengungkapan Rahasia


__ADS_3

Jam pelajaran hari ini sudah selesai, tapi sepertinya Olivia tidak akan langsung pulang karena ingin mengerjakan tugas dahulu. Dengan perasaan malas, Ia pun menghampiri meja Dilon.


"Heh Dilon, ayo ngerjain tugas sekarang," ajak Olivia ogah-ogahan, Ia masih kesal dengan tingkah pecicilan pria itu tadi pagi.


Dilon yang sedang merapihkan buku-buku di meja mengangkat kepala, "Nanti aja lah, dikumpulin nya juga kan masih ada waktu. Kenapa buru-buru? Pengen berduaan ya sama gue?"


Olivia yang mendengar itu mendengus kasar, "Huh apaan sih? Lebih baik cepet lah, kan tugas yang lain bukan cuman itu, biar beres!" ketusnya.


"Ck tadinya gue pengen main billiard di rumah si Ian, tapi bisa nanti aja deh. Oke kita ngerjain, tapi di rumah gue."


"Oke," angguk Olivia setuju.


Kenapa Olivia langsung setuju saat Dilon mengajak mengerjakan tugas di rumah pria itu? Tentu saja baginya ini adalah sebuah kesempatan emas, karena Ia akan bertemu Tante Erika bahkan Om Aiden. Ya semoga saja bisa.


Karena Olivia memang tidak suka bawa kendaraan lagi sendiri semenjak kecelakaan itu, jadinya Ia nebeng Dilon. Di perjalanan pulang rasanya tidak sabar sekali sampai di rumah, kangen juga dengan suasananya.


Baru saja masuk ke rumah itu, Olivia langsung memperhatikan sekitar, "Dimana Tante Erika?" tanyanya langsung.


"Biasanya jam segini lagi tidur siang, kenapa emangnya?" Dilon memicingkan mata bisa menduga sesuatu, "Jangan centil ya!"


"Ish apaan sih? Siapa juga yang centil?!" Olivia merasa kesal dibilang akan mencari muka di depan kedua orang tua Dilon, padahalkan hanya kangen.


Dilon lalu mengajak perempuan itu naik ke lantai atas, akan mengerjakan di kamarnya saja. Sebelumnya sempat menyuruh pelayan membawakan minuman dan cemilan ke kamarnya juga, Dilon masih baik tidak membiarkan tamunya ini kelaparan.


Saat memasuki kamar itu, senyuman Olivia semakin lebar. Kedua matanya sempat terpejam mencium wangi familiar, ternyata masih sama seperti dulu. Tanpa meminta izin, Ia melenggang masuk begitu saja. Dilon yang melihatnya hanya memutar bola mata malas.


"Hehehe." Olivia tertawa sendiri seperti orang gila.

__ADS_1


"Dasar aneh!" dengus Dilon tidak menyangka sendiri dengan tingkah perempuan itu.


Merasa perutnya tidak nyaman minta di keluarkan, Dilon lalu pamit pada Olivia untuk ke kamar mandi yang masih menyatu di kamarnya. Ditinggalkan sendirian di kamar itu, tentu saja membuat Olivia semakin merasa bebas.


Olivia beranjak dari duduknya untuk memperhatikan lagi kamar yang dulu sering Ia datangi ini. Tidak banyak yang berubah, tentu saja karena Ia pun dengan Dilon baru berpisah beberapa bulan. Pandangan Olivia tertuju pada nakas di dekat televisi.


Dengan perasaan berdebar Olivia membawa sebuah foto di galeri. Bibirnya memang melengkungkan senyuman haru, tapi hatinya merasa sedih tapi juga senang di waktu bersamaan melihat foto dirinya dan Dilon di sana.


Ceklek!


"Aduh kenapa sakit perut ya? Apa gara-gara tadi makan brownies?" tanya Dilon bergurau saat keluar dari toilet.


Awalnya pria itu merasa bingung tidak menemukan Olivia di tempatnya, tapi ternyata berdiri di dekat televisi. Dilon sempat memanggil nama Olivia, tapi tidak ada sahutan. Akhirnya Ia pun menghampiri untuk melihat apa yang sedang perempuan itu lakukan.


"Oliv lo--" Perkataan Dilon terhenti melihat ternyata perempuan itu sedang memegang pigura dengan foto mereka waktu dulu.


"Hahaha apaan sih? Enggak lah!" bantah Dilon sambil tertawa canggung. Ia lalu berusaha merebut pigura itu, tapi Olivia malah sembunyikan di balik tubuhnya.


"Kalau aku bilang setiap hari aku selalu kangen sama kamu yang dulu, gimana?" tanya Olivia tiba-tiba, pandangannya terlihat dalam seperti dari dalam hati.


"Hah?!"


Dilon sampai tidak bisa berkata-kata saat mendengar itu, tidak bisa bohong detak jantungnya pun menjadi cepat begitu saja. Senyuman di bibirnya menghilang terganti dengan ekspresi serius.


Suasana kamar pun menjadi hening karena keduanya malah asik saling menatap satu sama lain. Percayalah tatapan itu terlihat penuh arti, dan langsung terasa di dalam hati.


"Maafin aku Dilon yang malah pergi ninggalin kamu di saat kamu sedang butuh seorang berarti di sisi kamu waktu itu," ujar Olivia melanjutkan.

__ADS_1


Melihat setetes air mata jatuh di pipi gadis itu, membuat Dilon pun mengusapnya cepat dengan tangannya, "Gue ngerti kok kenapa lo ninggalin gue, kayanya emang kita gak jodoh aja," sahutnya.


"Kalau misal alasan aku mutusin kamu bukan karena orang tua aku, tapi karena perintah seseorang gimana?"


Kernyitan terlihat di keming Dilon, "Maksudnya?"


Olivia terlihat menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Rasanya berat sekali untuk menceritakan ini, tapi Ia rasa sudah waktunya. Memendam rahasia besar dari dulu itu sungguh membuatnya tertekan.


Olivia memilih menyimpan pigura itu kembali di meja, Ia akan menceritakan tapi tidak mau menatap Dilon karena malu sendiri. Tidak mau juga melihat perubahan ekspresinya itu yang akan membuatnya kepikiran.


"Aku terpaksa putusin kamu Dilon, aku gak tega lihat kamu dipenjara," ungkap Olivia pelan.


"Tunggu-tunggu, bisa gak langsung ke inti aja? Gue bingung," kata Dilon menuntut sambil meremas rambutnya. Sungguh Ia tidak suka basa-basi, apalagi menyangkut hubungan mereka dulu yang rumit.


Olivia pun kembali menghadapkan tubuhnya pada Dilon, "Septian, dia ngasih aku penawaran. Dia bilang akan cabut tuntutan itu asalkan aku mau jadi pacar dia."


Betapa syoknya Dilon mengetahui ini, kedua matanya terbelak dan berkedip dengan pelan. Melihat ekspresi wajah Olivia yang datar tidak ada emosi, membuatnya yakin jika perempuan itu tidak bohong.


Dilon merasa dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang keras menghantam di sana. Ia lalu tertawa miris, merasa lucu dan kesal di waktu bersamaan. Tetapi yang membuat Dilon lebih kesal itu ya Olivia, kenapa baru cerita sekarang?


Dilon membawa sebelah tangan perempuan itu, "Kenapa lo bodoh banget hah? Lo nerima tawaran konyol dia itu cuman supaya gue bebas. Lo tolol tahu gak?!" desisnya menahan marah.


Olivia tentu saja tidak terima dibilang begitu, "Kamu pikir aku langsung nerima tawaran Septian? Setiap hari bahkan setiap waktu aku selalu memikirkannya dengan baik karena gak mau salah langkah!"


"Tapi setiap melihat kamu di sel, hati aku sakit Dilon. Aku sempat yakin kamu akan bebas, tapi sampai hari pengadilan pun enggak, saat itu aku putus asa dan memilih menerima itu!" Nafas Olivia sampai naik turun setelah mengungkapkannya.


Dilon memejamkan matanya sejenak, tidak bisa bereaksi mendengar itu. Percayalah Ia inginnya sekarang mengamuk bahkan kalau bisa menghancurkan semua barang di kamarnya, tapi sekarang Ia bukan Dilon yang dulu.

__ADS_1


"Maafin aku Dilon, cuman itu satu-satunya cara supaya kamu bisa bebas," ucap Olivia lirih.


__ADS_2