
Saat kembali ke kelas, Olivia malah menghampiri meja Vanessa. Perempuan itu yang tadinya sedang asik bermain ponsel pun langsung mengalihkan pandangan dan menatapnya bingung.
"Thanks ya." Hanya itu saja yang bisa Olivia katakan, merasa tidak sanggup terlalu panjang karena dirinya kikuk sendiri, ditambah masih gengsi juga.
Vanessa terlihat tersenyum tipis. "Kenapa bilang makasih nih?" tanyanya.
"Ya soal tadi, ngasih tahu Dilon," jawab Olivia. Selain itu masih banyak yang lain lagi, apalagi saat Vanessa memilih keluar dan tidak mengganggu.
"Oh itu ya, santai aja kali, kan kamu sebagai pacarnya emang harus tahu," kata Vanessa sambil menopang dagunya di tangan.
Keduanya lalu saling melempar senyuman, tapi hanya sebentar karena kedatangan guru. Olivia pun segera duduk lagi di bangkunya, sesekali melirik ke arah Vanessa. Di dalam hati menganggap jika sepertinya perempuan itu benar-benar berubah. Perasaan ragu pun menguap di hatinya.
Akhirnya jam pelajaran terakhir pun selesai, semua murid langsung menghela nafas lega dan waktunya istirahat ke rumah. Olivia akan ke UKS dulu, menjemput Dilon. Saat Ia masuk, pria itu ternyata sedang main game. Olivia hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah sembuh nih? Masih pusing gak?" tanya Olivia menghampiri, di pundaknya menggendong tas Dilon juga.
"Hehe sudah gak terlalu, tapi ada sih sedikit. Sudah mau pulang ya? Yuk kita pulang, bosen banget dari tadi di sini," ujar Dilon bersemangat.
Pria itu dengan manjanya ingin merangkul bahunya, beralasan masih pusing. Olivia pun terpaksa harus menahan malu, tidak enak diperhatikan beberapa murid lain, takut dianggap mesra-mesraan. Setibanya di parkiran, Teman-teman Dilon malah menghadang.
"Lon kenapa lo?" tanya Ian paling perhatian.
"Sakit gue, tadi hampir pingsan di lapang," jawab Dilon lebay.
"Wih ternyata dia bisa sakit juga ya," celetuk Refan, membuat yang lain pun tertawa. Tetapi Refan langsung meringis karena kakinya ditendang pelan oleh Dilon.
__ADS_1
"Gue gak akan ikut ke rumah kalian, pengen istirahat gue. Nanti malam kalau sudah agak baikan bisa lah mungkin," kata Dilon.
Teman-teman nya pun mengangguk tidak masalah, walau nanti pasti akan sedikit tidak seru karena tidak bisa menggodai Dilon. Olivia juga tidak lupa pamitan pada yang lain, Ia juga sudah akrab dengan teman-teman nya Dilon. Olivia mendudukan Dilon di kursi penumpang, sedang dirinya yang akan menyetir.
Sepanjang perjalanan Dilon malah bernyanyi di iringi musik yang lumayan keras, Olivia yang melihat itu jadi bingung apakah pacarnya ini sudah sembuh atau belum. Saat mobil berhenti karena lampu merah, Dilon malah menurunkan kaca mobil lalu memanggil seorang anak kecil yang berdagang.
"Iya Kak mau beli apa? Ada banyak makanan nih buat nyemil," kata anak itu tersenyum sumringah karena ada yang membeli dagangannya.
Dilon terlihat melihat-lihat dahulu, lalu membawa dua bungkus kacang goreng. "Hei nama kamu siapa? Berapa tahun?"
"Nama aku Agus, masih dua belas tahun," jawabnya lalu tersenyum lebar.
"Sekolah gak tadi pagi?"
"Sekolah kok, terus pulang sekolah langsung lanjut jualan sampai nanti malam." Anak laki-laki itu menceritakannya dengan riang, tidak terlihat beban sedikit pun di wajahnya.
Anak kecil itu membungkukan badannya sedikit untuk melihat lebih jelas seorang wanita yang bersama lelaki tampan itu. Ia pun mengangguk cepat karena memang sangat cantik, mereka seperti aktris saja.
"Nih buat kamu karena sudah bilang pacar Kakak cantik, semangat ya jualannya." Dilon memberikan selembar uang seratus ribu pada anak itu. Alasannya bukan hanya telah memuji Olivia, tentu merasa kasihan juga.
Saat lampu lalu lintas kembali menyala, Olivia pun kembali menjalankan mobilnya. Ia sesekali melirik Dilon di sebelahnya yang sedang makan jajanan tadi, dengan senyuman tertahan. Merasa senang sendiri karena ternyata pria itu sangat baik pada orang lain.
Sambil menyetir terkadang Olivia disuapin kacang oleh Dilon, pria itu pun terus memujinya beberapa kali jika dirinya sangat cantik. Olivia cukup salah tingkah, tapi dapat menormalkan perasaannya agar tidak terlalu terlihat. Dilon itu kan rajanya gombal.
Sesampainya di rumah Dilon, mereka pun langsung turun. Ternyata Dilon masih mengeluh pusing, jadi Olivia pun kembali merangkulnya. Saat masuk ke rumah, keduanya malah dibuat terkejut karena di ruang utama ada Aiden dan Erika, juga tamu nya.
__ADS_1
Dilon pun langsung melepaskan rangkulannya, jadi malu sendiri jika dirinya ketahuan terlalu bucin. "Ekhem aku pulang Pah," ucapnya lalu tersenyum kikum.
"Oh iya, kalian langsung ke atas saja ya," angguk Aiden.
Dilon lalu mengajak Olivia ke kamarnya. Sempat Ia mendengar tamu Papanya itu menanyakan siapa dirinya, juga memujinya yang katanya tumbuh menjadi remaja tampan dan keren. Dilon tentu saja senang mendapat pujian begitu.
Sesampainya di kamar, Dilon langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang sambil bernafas lega. Sedangkan Olivia menyimpan tas pria itu di gantungan. Sempat memperhatikan pacarnya itu beberapa saat, ingin memastikan keadaannya.
"Dilon aku mau pulang sekarang ya," ucap Olivia sambil mendekat.
Dilon pun langsung menatap protes pacarnya itu, "Kok cepet banget? Baru juga sedetik di sini!" ketusnya. Rasanya masih ingin berlama-lama dengan pacarnya itu.
"Adik aku selalu sendirian di rumah, kasihan dia, suka nungguin aku pulang juga. Lagian kamu juga aku lihat-lihat sudah baikkan, istirahat aja di rumah. Kalau besok belum siap masuk sekolah izin aja, nanti aku izinin," jawab Olivia.
Dilon pun mendudukan tubuhnya, lalu membawa sebelah tangan Olivia ke genggamannya. "Aku anterin pulang ya?"
Tetapi Olivia menolak dan bilang jika dirinya sudah memesan taxi online, Ia hanya tidak mau merepotkan pacarnya ini yang sedang tidak enak badan. Pria itu sempat menahannya karena katanya masih kangen, tapi Olivia berhasil juga melepaskan diri dan segera keluar dari kamar itu.
Saat menuruni tangga, Olivia bisa mendengar canda tawa dari arah ruang tamu. Ia sedikit gugup karena harus pamitan dulu pada orang tua Dilon, kalau melenggang pergi begitu saja takut dianggap tidak sopan. Saat Olivia ke ruang tamu, obrolan mereka pun terhenti.
"Em maaf Om Tante kalau ganggu, saya mau pamit pulang," ucap Olivia sambil tersenyum kikuk, gugup sekali menjadi pusat perhatian.
Aiden mengangguk. "Kok buru-buru banget Olivia? Biasanya juga sampai malam main di sini."
Olivia hanya tersenyum tipis, tidak lupa mengabarkan jika Dilon sedang sakit pada mereka. Setelah menyalami tangan semua orang, Olivia pun berbalik untuk pergi dari sana. Tetapi telinganya tidak sengaja mendengar sesuatu.
__ADS_1
"Sayang banget ya Dilon sudah punya pacar, padahal tadinya pengen banget kenalin dia ke anak perempuan kami, mereka juga seumuran. Mungkin bisa juga di jodohkan hehe," ucap tamu itu.