
Sesampainya di kelas, Olivia langsung duduk dengan kasar di kursinya. Tasya dan Syifa yang sedang mengobrol pun langsung memfokuskan pandangan pada temannya itu, mereka saling bertatapan sebentar lalu beranjak mendekati.
"Ada apa nih? Dateng-dateng muka ditekuk kaya sedotan aja," tanya Tasya sedikit menggoda.
Olivia menghembuskan nafasnya kasar lalu menjawab, "Kalian kalau punya pacar, tapi pacarnya punya sahabat cewek gimana nih tanggapannya?"
Tasya dan Syifa pun langsung paham mendengar itu, sudah pasti yang akan mereka bicarakan adalah Dilon dan Vanessa. Semua orang juga tahu jika si murid baru itu adalah sahabat Dilon dari kecil, ya mereka tahu karena Vanessa mengenalkan sendiri.
"Kalau aku sih gak mau, mau minta dia putusin aku atau putus hubungan sama sahabat cewek nya," jawab Tasya tanpa ragu.
Syifa mengangguk setuju, "Dulu aku juga pernah punya pacar, tapi dia punya sahabat cewek. Setiap hari harus nahan cemburu dan berusaha gak curiga, tapi tetep aja gak bisa. Akhirnya kita pacaran cuman bisa sampai dua bulan," ceritanya.
"Apa si Vanessa itu buat masalah lagi sama kamu? Kita pasti bantuin kok," tanya Tasya yang selalu berdiri paling depan membela.
Tetapi Olivia malah diam memikirkan banyak hal. Sebenarnya hubungannya dengan Dilon selalu baik-baik saja, terkadang mereka ada masalah tapi langsung bisa menyelesaikan.
Hanya saja jika masalah itu menyangkut Vanessa, Dilon juga pasti selalu bingung harus bagaimana. Olivia hanya tidak mau, posisinya tergantikan, merasa dirinya lebih pantas menjadi nomor satu di hati pria itu.
"Aku tuh suka cemburu kalau lihat Dilon sama si Vanessa berduaan. Emang sih Dilon juga gak suka terlalu nanggapin, tapi tetep aja gak suka," jawab Olivia.
"Emang sih si Vanessa itu centil banget. Sudah tahu Dilon punya pacar, masih nempel-nempel gitu," dengus Syifa dan diangguki keduanya.
"Tapi kok kamu bisa tahan gitu ya sama Dilon? Maksudnya biasanya cewek lain selalu gak tahan kalau pacarnya punya teman cewek," tanya Syifa.
"Gak tahu ah, aku juga pusing mikirin nya," desah Olivia lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Tasya dan Syifa melihatnya jadi tidak tega, mereka ingin bantu tapi dengan cara apa? Selain itu juga tidak mau terlalu ikut campur, takutnya malah membuat hubungan Olivia dengan Dilon jadi kenapa-napa.
Perhatian mereka lalu teralih pada Dilon yang baru masuk ke kelas, pria itu yang melihat kekasihnya di bangkunya pun segera mendekat. Tasya dan Syifa memilih beranjak, sempat menatap sinis pria itu, tapi Dilon abaikan.
"Nih gue beliin coklat, mau gak?" tanya Dilon sambil menyimpan dua bungkus coklat di sisi kepala Olivia.
__ADS_1
Perlahan Olivia pun mengangkat kepalanya untuk melihat, "Apa nih maksudnya?" tanya nya.
"Lo suka coklat kan? Buat lo," ucap Dilon sambil tersenyum kikuk. Hanya bingung harus merayu bagaimana, pacarnya ini kan sedang marah.
"Jadi maksudnya lagi ngebujuk gitu?"
Dilon yang melihat pacarnya masih sinis menarik salah satu kursi lalu duduk di dekatnya. Dilon lalu membuka bungkus salah satu coklat, memotongnya menjadi kecil lalu menyodorkan ke bibir Olivia.
"Nih cobain, pasti enak," kata Dilon.
"Aku tahu, lagian aku juga sering beli coklat yang ini," jawab Olivia menohok, tidak romantis sekali pikirnya membelikan coklat biasa seperti ini.
"Ya sudah nanti gue beliin coklat mahal deh, sepulang dari sekolah ya? Tapi jangan ngambek lagi dong," bujuknya.
Olivia hanya mendengus pelan lalu menggigit potongan coklat di tangan Dilon, membuat pria itu akhirnya tersenyum lebar karena merasa sudah berhasil meluluhkan, ya walau Olivia masih cemberut.
Dilon pun kembali memotong coklat itu, Ia akan menyuapi Olivia. Melihat gigi perempuan itu jadi kotor, membuat Dilon berusaha menahan tawa, tidak mau menyinggung.
"Itu gigi kamu, banyak coklat," jawab Dilon.
"Ck namanya juga lagi makan coklat, gak ada tuh yang makan coklat tapi giginya gak kotor!" sahut Olivia ketus membuat Dilon pun bungkam.
Melihat ekspresi murung Dilon sehahis dimarahinya, membuat Olivia menghembuskan nafas berat. Ia sebenarnya sudah tidak terlalu ngambek, tapi nada suaranya ini bisa membuat salah paham.
Maklum saja Olivia sedang datang bulan, apalagi ini hari pertamanya, jadi moodnya naik turun terus. Tetapi melihat Dilon yang dengan sabar meluluhkan nya, membuat Olivia cukup bersyukur.
"Dilon, kayanya beliin coklatnya nanti aja. Sepulang sekolah aku ada urusan," ucap Olivia kembali memulai obrolan.
"Hm mau kemana?"
"Ke rumah temen, pinjem buku," jawab Olivia jujur. Sungguh Olivia terus memikirkan ini, sangat penasaran dengan buku season dua yang sedang dibacanya ini dan terus memikirkan dari tadi.
__ADS_1
"Rumah siapa?"
Sayangnya kalau menyebutkan nama Olivia tidak bisa jujur. Sebenarnya Ia juga tidak mau berbohong seperti ini, tapi ini untuk kebaikan juga. Berharap semoga saja Dilon itu tidak curiga.
"Kamu juga gak akan kenal, dulu dia temen aku di Surabaya," jawab Olivia sambil tersenyum kikuk.
"Oh ya sudah gue anter ya?" tawar Dilon.
"Eh gak usah, katanya dia bakal jemput soalnya aku juga gak tahu rumahnya dimana. Kamu mending main aja sama temen-temen kamu, mumpung aku izinin," ucap Olivia.
"Tumben, ya sudah," angguk Dilon tidak masalah.
Mendapatkan izin dari Dilon membuat Olivia bisa sedikit bernafas lega, tapi beda lagi ceritanya jika pria itu tahu kalau temannya adalah Septian. Sudah pasti Olivia tidak akan diizinkan, Dilon pun akan mulai curiga lagi.
Obrolan mereka harus terhenti karena ada guru yang masuk, pelajaran pun kembali dimulai. Tinggal jam terakhir, setelah ini mereka bisa pulang ke rumah. Tetapi di jam seperti ini memang bawaannya malas sekali.
"Nah Ibu sudah bagikan kelompoknya untuk mengerjakan tugas Prakarya yang akan di kumpulkan minggu depan. Jangan lupa siapkan dulu bahan-bahannya, terus kalian kerjakan bersama ya," kata si guru itu.
"Baik Bu," jawab semua murid serentak.
Olivia sebenarnya senang-senang saja bisa satu kelompok dengan Dilon, sepertinya semua guru sudah tahu apa yang diinginkan Dilon setiap di bagikan kelompok, yaitu ingin dengan Olivia. Sayangnya kali ini di kelompoknya ada Vanessa, pasti perempuan itu akan mengganggu.
Setelah bel pulang berbunyi, semua murid pun langsung beranjak untuk pulang. Salah satu murid perempuan bernama Raisa lalu mendekatinya, kebetulan memang satu lagi anggotanya adalah Raisa.
"Olivia, jadi kapan kita mau kerjain tugasnya? " tanya Raisa.
"Kayanya gak bisa sekarang, soalnya aku juga ada urusan. Nanti besok kita bicarain lagi ya," jawab Olivia yang sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
"Oh iya gak papa kapan aja." Raisa pun pamit pulang lebih dahulu.
Olivia dan Vanessa sempat bertatapan, sepertinya Vanessa menguping karena penasaran, perempuan itu juga kan satu kelompok dengannya. Tetapi Olivia berusaha abaikan dan memalingkan wajah tidak peduli.
__ADS_1