Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Bukan Membelanya


__ADS_3

"Kamu makin ngelantur gak jelas aja. Sekarang kasih kuncinya, biar aku aja yang keluarin Septian," kata Olivia.


Dilon lalu dua langkah mendekati pacarnya itu. Tubuhnya yang jangkung membuat Olivia pun harus mengangkat kepala untuk bertatapan dengannya. Ekspresi wajah Dilon kini terlihat serius.


"Lo jadi orang jangan terlalu baik bisa gak? Apalagi sama cowok. Gimana kalau misal cowok itu suka sama lo? Gue yang repot," ucap Dilon sinis.


"Aku bantu orang lain itu gak ada maksud apapun, murni dari hati aku sendiri. Kamu yang aneh, seharusnya senang dong punya pacar baik kaya aku," balas Olivia menohok.


Dilon lalu menghembuskan nafasnya kasar, ingin membalas tapi harus mengatakan apa? Memang sih punya pacar baik itu ada senang dan tidaknya. Tetapi karena Dilon orang yang cemburuan, merasa tidak senang saja.


"Si Septian itu pasti suka sama lo, kalian deket kan sekarang? Apa aja yang udah kalian lakuin?" tanya Dilon.


"Kita cuman temen, kenapa kamu gak percaya sih?!" Lama-lama Olivia jadi kesal sendiri.


"Gue waktu itu baca chat dari dia, katanya dia mau ngasih lo minuman karena tadi siang udah nyelamatin. Maksudnya apaan?"


Dengan malas Olivia pun menjelaskan kejadian itu, dimana dirinya yang sedang bersantai di rooftop malah melihat Septian sedang di bully. Tentu saja Ia tidak bisa diam dan menyelamatkannya.


"Nah lihat gara-gara lo makin menjadi-jadi, si Septian itu kepedean dan lagi usaha rebut lo dari gue," ucap Dilon bersungut-sungut.


Salah satu teman Dilon lalu menyahut, "Tenang aja bos, mana mungkin juga si culun itu menang. Dia gak ada apa-apanya, levelnya kaya upil bos aja." Yang lain pun langsung tertawa.


Memang sih Dilon juga percaya diri dan tidak mungkin bisa dikalahkan si culun Septian. Tetapi tetap saja Ia khawatir dengan kedekatan mereka, bagaimana kalau Olivia malah nyaman dengan Septian?


"Denger tuh kata temen kamu, mereka aja ngedukung. Kamu jangan begini Dilon, ini berlebihan." Nada suara Olivia terlihat melemah, emosinya tidak se tinggi tadi.


"Tapi setelah ini gue gak mau lo deket-deket dia lagi, awas aja," ucap Dilon dengan wajah masamnya.


"Iya-iya, nanti aku bicara sama Septian."


Setelah Dilon memberikan kunci gudang padanya, Olivia pun langsung membuka pintu itu. Ia sempat terbatuk pelan karena debu, tidak lama pandangannya pun jelas lagi dan langsung berhadapan dengan Septian.

__ADS_1


"Olivia, makasih banyak kamu sudah nolongin aku, aku--"


"Sama-sama, kamu tenang ya Septian. Aku minta maaf karena kelakuan Dilon, aku harap kamu bisa maafin dia," sanggah Olivia cepat.


Saat Septian menatap Dilon, Ia langsung menunduk melihat tatapannya yang tajam seperti memendam dendam. Untung saja ada Olivia, jadi Septian bisa selamat. Di kurung sendirian di gudang yang gelap dan kotor itu cukup menyeramkan.


"Kamu gak ada luka kan Septian? Apa Dilon sama temen-temen nya sempat pukul kamu?" tanya Olivia perhatian.


"E-enggak kok, aku gak papa," bantah Septian tidak sepenuhnya benar.


"Ya sudah sekarang mending kamu pulang, sudah sore juga," perintah Olivia.


"Terus kamu gimana?" Septian hanya khawatir meninggalkan Olivia, bagaimana kalau Dilon melakukan hal jahat pada perempuan itu? Sebagai tebusan karena sudah menyelamatkannya.


"Aku juga bakal pulang kok, tapi kamu duluan aja," jawab Olivia sambil tersenyum.


Septian lalu mengangguk pelan, "Sekali lagi makasih Olivia, aku permisi."


"Sebagai hukuman, lo jadi gak boleh jalan sama temen-temen lo!" kata Dilon tegas.


"Loh kok gitu sih? Tadi udah diizinin!" kesal Olivia sambil menghentakkan kakinya ke tanah.


"Lagian ini udah lama, temen-temen lo juga pasti udah pergi. Sekarang kita pulang, gue yang anterin."


Merasakan getaran di ponselnya, membuat Olivia pun segera mengecek. Ada pesan dari dua temannya itu, memberitahu jika mereka lebih dulu pergi ke Mall untuk memesan tiket dan akan menunggunya di sana.


Tetapi sayangnya Olivia terpaksa harus menggagalkan janjinya karena perintah Dilon. Kalau Olivia keras kepala dan menolak, khawatir pria itu marah lagi dan malah melampiaskan kepada Septian. Olivia harus jadi pacar yang penurut.


"Lon nanti mau ke basecamp?" tanya temannya sebelum dua orang itu pergi.


"Lihat nanti aja, kalau lama berarti gak akan," jawab Dilon. Ia sempat melirik Olivia lewat ekor matanya, dan teman-temannya pun langsung konek.

__ADS_1


Dilon lalu menggenggam tangan Olivia dan menariknya pergi dari sana. Kini suasana sekolah sudah tidak terlalu ramai lagi, yang masih di sekolah hanya murid yang sedang mengikuti ekskul.


Ternyata Dilon malah mengajak Olivia ke rumah pria itu, membuat Olivia menghela nafas berat. Ia kira akan langsung di antar pulang. Tidak apalah jika sebentar main di sini.


"Gue sakit perut pengen berak, lo minta ke bibi buatin minuman sama bawa cemilan ke atas ya," perintah Dilon dengan ekspresi lucu menahan mulas.


"Iya-iya sudah sana pergi, nanti keburu keluar lagi ee nya," celetuk Olivia setengah bergurau.


Melihat Dilon yang berlari kecil naik ke tangga, membuat Olivia terkekeh kecil merasa lucu. Ia lalu segera pergi ke dapur, agak susah karena rumah ini sangat besar dan luas. Tetapi akhirnya Olivia temui juga.


Ternyata di dapur sedang ada Om Aiden, Olivia lalu menghampiri untuk salam. Pria itu paruh baya itu pun terlihat senang melihat dirinya di sini. Olivia tidak terlalu gugup, karena mereka sudah akrab.


"Kalian baru pulang sekolah ya?" tanya Aideen.


"Iya Om baru pulang sekolah, Om sudah pulang dari kantor?" tanya Olivia balik.


"Iya sudah, hari ini gak terlalu sibuk jadi bisa pulang lebih awal."


Olivia mengangguk pelan. Untuk membunuh kecanggungan, Olivia pun mulai membawa beberapa cemilan juga minuman yang akan dibawa ke kamar Dilon. Ia tidak meminta pada pembantu, bisa dilakukan sendiri.


"Oh iya Olivia, Om boleh minta sesuatu sama kamu?" tanya Aiden.


"Iya Om apa? "


"Begini, minggu depan kan ulang tahunnya Dilon. Rencananya Om dan Erika ingin sekali bisa makan malam bersama di Kafe bar yang baru dibuka itu. Tapi kalau Om yang minta sepertinya Dilon tidak mau, jadi--"


"Om tenang aja, aku akan berusaha bujuk Dilon. Tapi gak apa-apa kalau misal aku juga ikut?" Karena Olivia merasa langsung terpikirkan sebuah rencana.


"Tentu saja boleh, malahan kamu orang spesialnya Dilon harus hadir di perayaannya. Om serahkan semua ke kamu ya." Aiden terlihat percaya saja pada gadis itu.


"Oke Om, nanti aku bantu siapin juga acaranya ya," sahut Olivia sambil memberikan jempol tangannya.

__ADS_1


__ADS_2