Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Sekarang Sudah Akrab


__ADS_3

Saat sedang melamun sendirian menatap kosong pemandangan di depan, lamunannya terhenti mendengar seseorang menghampirinya. Saat menolehkan kepala, langsung melihat senyuman lebar Kirana.


"Aku nyariin kamu dari tadi, ternyata lagi ngadem di sini sendirian," kata Kirana sambil menyenggol pelan bahunya.


Olivia hanya tersenyum tipis, "Iya nih, kalau ngelamun di tempat sepi kaya gini bawaannya enak," sahutnya.


"Enak sih enak, tapi gimana kalau tiba-tiba kemasukan setan? Kan serem," celetuk Kirana yang mengundang tawa Olivia. Memang bisa saja menaikkan mood nya.


Beberapa hari ini Olivia memang terlihat jadi agak pendiam, kenapa? Ia sedang memikirkan masalah yang menimpa pada Papanya di kantor, katanya belum selesai juga padahal sudah berlalu beberapa hari.


Olivia merasa tidak tega saja melihat Papanya yang kepayahan mengurus semua, walau pasti ada banyak yang membantu. Apalah daya dirinya masih kuliah, jadi belum bisa membantu karena tidak mengerti.


"Gimana kalau sore ini ke rumah aku, kita ngerjain tugasnya di rumah aku aja," ajak Kirana.


"Hm boleh sih, berarti ajak yang lain juga ya? Siapa aja sih kelompok kita?"


"Cuman bertiga sama Dian, tapi kan dia lagi sakit jadi gak akan bisa ikut. Gak papa lah, kita kerjain berdua aja."


Melihat waktu terus berjalan, membuat keduanya memutuskan turun karena pelajaran terakhir akan segera dimulai. Biasanya di jam akhir seperti ini selalu tidak sabaran, apalagi kalau waktunya sore hari.


Selama pelajaran pun Olivia kadang fokus kadang tidak, dan ini sudah berlangsung beberapa hari juga. Padahal seharusnya tidak boleh, karena Papanya kalau tahu pasti akan jadi kepikiran juga dan malah semakin memberatkannya.


Setelah pelajaran berakhir dan si dosen keluar, Olivia pun merapihkan semua buku-buku nya. Ia lalu melirik Kirana yang menghampirinya dengan senyuman, sepertinya tidak sabaran sudah ingin mengajaknya ke rumah.


Tetapi perhatian Olivia teralih karena Dilon juga menghampirinya, "Mau kemana nih?" tanya lelaki itu.


"Kita mau ngerjain tugas kelompok, besok kan di kumpulin." Kirana lah yang menjawab lebih cepat.

__ADS_1


"Hah sayang banget ya gak sekelompok sama kamu, jadi gak bisa barengan deh," kata Dilon dengan pandangan yang dalam pada Olivia.


Kirana melirik dua orang itu bergantian dengan senyuman tertahan di bibir. Merasa tidak mau mengganggu dan mungkin saja ada yang ingin dibicarakan, Ia pun memutuskan pamit keluar kelas terlebih dahulu.


"Olivia, kamu kenapa?" tanya Dilon yang kini merasa tidak segan menanyakan itu.


Olivia menatap Dilon sebentar, "Aku gak papa kok, emangnya aku kenapa?" tanyanya balik.


Merasakan bahunya di usap, membuat kepala Olivia kembali terangkat dan menatap Dilon bertanya. Tatapan pria itu yang sendu, entah kenapa membuat dadanya jadi campur aduk, dengan sekuat tenaga Ia menahan diri untuk tidak menangis.


Percayalah sekarang Olivia memang jadi agak cengeng mengingat masalah di keluarganya.


"Aku dengar perusahaan Papa kamu sedang ada masalah ya? Kamu yang sabar, aku harap semua masalahnya cepat selesai," kata Dilon dengan nada suara rendahnya.


Dilon pasti tahu karena Papanya kan klien kerja Papanya juga, mereka cukup dekat dan kenal. Olivia pun mengangguk pelan, tidak mengatakan apapun karena bibirnya terasa kelu. Selain itu, Ia juga takut menangis kalau mengeluarkan suara.


"Kamu jangan sedih dan terlalu mikirin ini, fokus belajar saja. Aku yakin Papa kamu bisa lewatin semua ini, dia kan hebat. Ada masalah di perusahaan itu sudah jadi hal biasa, semua pengusaha juga pasti merasakan itu kok," lanjut Dilon.


"Kamu mau kerja kelompok kan sama Kirana, jadi aku gak akan anter pulang. Nanti kalau sudah selesai langsung pulang ya?" nasihat Dilon yang perhatian.


"Iya, kalau gitu aku pergi dulu."


Olivia melambaikan tangan sebentar pada Dilon, lalu keluar dari kelas dan hampir terpekik karena Kirana mengagetkan nya dari samping. Keduanya pun langsung berangkulan dan pergi dari sana dengan riang.


Wajah muram Olivia dari tadi pagi pun sekarang sudah ceria lagi, ya semua berkat Dilon. Pria itu sangat peka dengan perasaannya, bisa mengerti dan berusaha menghibur nya.


Mereka pergi ke rumah Kirana dengan menaiki mobil perempuan itu, jaraknya lumayan agak jauh dari Kampus, setengah jam lebih itu pun jika tidak macet. Sesampainya di rumah Kirana, langsung turun dari mobil.

__ADS_1


Olivia terlihat memperhatikan bangunan bertingkat dua dan halaman depan di sana yang lumayan luas. Tidak heran sih Kirana memang orang kaya, buktinya ke Kampus saja selalu bawa mobil pribadi.


"Ayo silahkan masuk Nona," ucap Kirana bergurau sambil membukakan pintu rumahnya.


Olivia pun tertawa kecil lalu berakting memperagakan seorang putri yang membungkuk sedikit memberikan penghormatan. Kembali Ia pun memperhatikan sekitar, ya interior dalam nya juga cukup bagus.


"Dimana orang tua kamu? Aku harus salam dulu sama mereka," tanya Olivia.


Kirana mengibaskan tangannya di udara, "Mereka selalu sibuk kerja, jarang pulang," jawabnya.


"Loh terus kamu biasanya kalau gitu sama siapa? Kamu punya saudara gak?"


"Enggak, aku anak tunggal jadi beban aku berat," celetuk Kirana kembali bergurau, memang tidak serius sekali anak itu.


Kirana langsung mengajak Olivia ke kamarnya yang ada di lantai dua. Tadinya menawari naik lift karena mungkin saja Olivia pegal dan malas naik tangga, tapi ternyata perempuan itu tidak selebay itu.


Memasuki kamar Kirana yang bernuansa girly sekali, Olivia dibuat senyum-senyum sendiri. Lucu juga pikirnya, apalagi hampir semua barang dan dinding di sini warna pink. Mungkin warna kesukaan Kirana.


"Bentar ya aku turun ke bawah dulu, mau bawa minuman sama cemilan buat nemenin kita ngerjain tugas." Sebelum Olivia kembali menyela, Ia pun melanjutkan, "Kamu tunggu saja di sini, santai saja, anggap kamar sendiri." Setelah itu Kirana pun keluar dari kamar.


Olivia hanya menggelengkan kepala melihat sikap Kirana yang terlampau baik. Ia beranjak dari duduknya untuk melihat-lihat barang apa saja di kamar itu, merasa tertarik saja.


Tenang saja Olivia tidak akan mencuri, tidak mungkin!


"Hm foto siapa ini, kayanya pas Kirana kecil," gumam Olivia merasa tertarik pada sebuah foto di pigura yang ada di nakas.


Bibirnya terlihat tersenyum tipis melihat foto dua orang anak kecil berbeda jenis kelamin itu. Mungkin usianya di bawah sepuluh tahun, mereka sedang naik kuda bersama. Terlihat lucu sekali.

__ADS_1


Mata Olivia lalu memicing mencoba melihat jelas wajah anak laki-laki di foto itu, setelah di perhatikan lagi wajahnya terlihat tidak asing. Tetapi Olivia juga bingung sendiri siapa orang yang mirip itu.


"Olivia, kamu sedang apa?" tanya Kirana yang sudah kembali, membuat Olivia terkejut sendiri dan hampir menjatuhkan pigura itu.


__ADS_2