Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Hubungan Yang Tidak Pasti


__ADS_3

Mendengar ketukan pintu kamarnya, membuat lamunan Olivia terhenti. Dengan malas Ia pun beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu, hanya membuka celah sedikit tanpa menunjukan wajah sepenuhnya karena malu pasti sangat berantakan.


Keisha terlihat menghela nafasnya berat melihat keadaan putrinya itu, "Kenapa gak turun untuk makan malam? Ayo buka pintunya, Mama bawain makan untuk kamu," ucapnya.


"Aku gak laper," gumam Olivia pelan.


"Jangan begitu dong, kamu harus makan nanti sakit. Ayo dong jangan murung terus sendiri, biar Mama denger juga cerita kamu ya?" bujuknya.


Setelah dibujuk terus menerus, akhirnya Olivia pun luluh dan mau membuka pintu lalu mempersilahkan Mamanya masuk. Olivia mengikuti saja di belakang, lalu duduk dengan sedikit kasar di ujung ranjang.


Keisha yang melihat putrinya tidak ada semangat apapun, membuatnya jadi kepikiran sendiri. Padahal Olivia selalu ceria setiap hari, tapi kali ini terlihat berbeda sekali. Keisha lalu duduk di sebelah nya, menyimpan nampan berisi makanan itu di atas pangkuannya.


"Gak papa kalau kamu belum siap cerita sekarang, Mama mengerti mungkin kamu butuh waktu untuk menenangkan diri dahulu. Tapi kamu jangan murung begini terus dong, kan Mama sama Papa jadi ikut kepikiran," ucap Keisha menasehati.


Olivia baru memberanikan diri menatap Mamanya itu. "Mah, aku capek hadapin Dilon. Aku pikir perbedaan sifat kami sangat berkebalikan," ungkapnya.


Keisha mengangguk pelan bisa mengerti. "Ya sifat seseorang memang tidak sama, itulah kenapa kita penting melihat dahulu dari awal apakah akan nyambung atau tidak," katanya.


Olivia lalu menyenderkan kepalanya di bahu Keisha, mencoba mencari ketenangan agar hatinya bisa lebih lega. Rasanya sulit, karena kepalanya ini terus memikirkan satu orang, siapa lagi kalau bukan Dilon.


Mengingat saat mereka beradu argumen tadi sore, membuat kedua matanya berkaca-kaca. Ya Olivia juga menyadari jika dirinya salah karena berbohong pada Dilon, tapi kan alasannya tidak jujur karena tidak mau dua lelaki itu kembali ribut. Lagi pula Ia dan Septian juga tidak melakukan apapun.

__ADS_1


Olivia benarkan?


"Papa tadi cerita kalau dia sudah nganterin laki-laki yang dipukul Dilon ke rumah sakit. Katanya luka di wajahnya lumayan parah sampai harus dirawat. Dia siapa, apa teman kamu?" tanya Keisha membuka obrolan lagi.


Keisha bisa merasakan anggukan pelan di bahunya. "Iya dia teman sekolah aku, namanya Septian," jawab Olivia pelan.


Kernyitan terlihat di kening Keisha mendengar satu nama yang baginya tidak asing itu, Ia pun mencoba mengingat dengan cerita-cerita Olivia. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Keisha pun ingat.


Keisha mendorong kepala Olivia dengan bahunya agar anaknya itu duduk tegak dan menatapnya. "Tunggu, Septian itu yang dulu pernah kamu ceritain bukan? Yang kamu bilang sempat buat Dilon cemburu karena Septian."


"Em itu--"


Melihat raut keraguan di wajah putrinya, membuat Keisha menghela nafasnya berat. Perlahan Ia pun kembali bisa menyimpulkan lagi inti permasalahan mereka, hatinya tidak bisa berbohong ada rasa kecewa juga.


Kedua mata Olivia terbelak lebar dituduh begitu. "Apa? Enggak kok, aku gak selingkuh!" Bantah nya keras.


"Terus kenapa Dilon bisa sampai se marah itu? Pasti dia tahu sesuatu sampai buat dia emosi dan gak bisa lagi nahan diri," tuntut Keisha ingin mendengar penjelasan lebih.


Olivia tidak langsung menjawab, merasa bingung harus menjelaskan dari mana dan bagaimana karena menurutnya ini juga agak rumit. Tetapi melihat tatapan tajam Mamanya itu yang menunggu penjelasannya, membuat Olivia pun dengan terpaksa harus cerita.


Olivia memilih jujur saja jika tadi pagi Ia sempat nebeng di mobil Septian, beralasan jika waktunya sangat mepet dan khawatir terlambat. Saat itu pun sebenarnya Ia dan Dilon sedang marahan, tapi sorenya mereka sudah baikkan lagi. Sayangnya tidak lama, karena saat mengantarnya pulang Septian malah datang ke rumahnya.

__ADS_1


"Dia datang kesini mau nganterin dompet aku yang ketinggalan di mobilnya, aku juga gak ngerti Mah kenapa dompet itu bisa jatuh," lanjut Olivia. Nafasnya terlihat terengah setelah menceritakan itu.


Lagi-lagi Keisha menghela nafasnya berat. "Memangnya Septian itu beneran suka ya sama kamu? Dari yang Mama bisa simpulin, dia kayanya ngebet banget pengen sama kamu. Padahalkan kamu sudah punya pacar," celetuknya ikut kesal sendiri.


"Aku gak tahu Mah, tapi waktu itu aku sempat nolak dia kok," jawab Olivia acuh tak acuh.


Sekarang hubungannya dengan Dilon benar-benar berantakan, tidak tahu lagi harus bagaimana untuk memperbaikinya. Mereka sama-sama salah, tapi ego terasa sangat tinggi dan merasa lebih benar. Ya itulah namanya anak muda.


Hubungan Olivia dengan Dilon memang selalu banyak problem, entah apapun itu. Tetapi kali ini entah kenapa merasa masalah itu terasa lebih berat dan rumit. Jujur saja Olivia bahkan sempat terpikir sesuatu, yaitu putus. Tetapi Ia juga merasa ragu dan terus memikirkannya.


"Ya sudah lupakan dulu masalah itu, sekarang mending kamu makan dulu nanti sakit lagi. Pasti laper kan?" Bujuk Keisha sambil mengusap punggungnya.


Olivia pun mengangguk pelan, Ia memang lapar tapi tidak terlalu nafsu makan. Akhirnya Keisha pun menyuapi putrinya itu yang sudah tumbuh dewasa, sekarang Olivia sedang manja dan Ia harus pengertian. Yang diutaman itu harus kesehatan dahulu.


Tetapi Olivia hanya makan sedikit, sudah menyerah di suapan ke enam. Keisha yang merasa lelah terus membujuk pun menyerah juga, akhirnya Ia memilih berhenti saja karena tidak tega juga. Keisha pun beranjak dari duduknya.


"Sekarang istirahat, tidur aja dari pada terus mikirin masalah kamu itu. Besok libur ya tanggal merah, jangan tidur terlalu malam ya," kata Keisha sebelum benar-benar keluar dari kamar.


Selepas kepergian Mamanya itu, suasana kamar terasa sunyi lagi membuat Olivia jadi melamun dan memikirkan lagi masalahnya. Ia beranjak dari duduknya saat tidak sengaja ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Foto kenang-kenangan dirinya dengan Dilon, mereka terlihat bahagia di pigura itu.


Telunjuk Olivia mengusap kacanya, "Dilon, sekarang bagaimana? Padahal kita baru aja baikkan, tapi sekarang ada masalah lagi," gumamnya seorang diri.

__ADS_1


Benar kata Mamanya, seharusnya Olivia dari awal melihat se cocok apa karakter mereka karena kalau tidak ya pasti akan banyak masalah seperti ini. Tetapi Olivia juga kan dulu dipaksa, Dilon bahkan langsung mengaku-ngaku jadi pacarnya.


Sayangnya hati seseorang memang tidak ada yang tahu, karena ternyata perlahan Olivia pun mulai jatuh cinta pada pria itu. Mengingat kenangan mereka di awal-awal, membuat Olivia tidak bisa menahan air matanya. Ia rindu pada suasana dulu.


__ADS_2