Berandalan Sekolah Jatuh Cinta

Berandalan Sekolah Jatuh Cinta
Sesuai Perjanjian


__ADS_3

"Gak bisa secepat itu Septian, kalau Dilon curiga gimana? Aku gak mau kalian ada perang dingin lagi. Kalau sampai dia tahu bebas karena alasan ini, aku pikir kalian malah makin musuhan," ucap Olivia dengan serius.


Septian memiringkan kepalanya sedikit, memikirkan perkataan Olivia. Kalau dipikir ada benarnya juga, tapi itulah sebenarnya yang Septian inginkan. Melihat Dilon hancur itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri baginya, apalagi pacarnya yang Ia rebut ini.


"Terus maunya gimana?" tanya Septian akan mendengarkan. Ia sebenarnya tidak takut jika Dilon marah padanya tahu alasan bebas, tapi Septian merasa Ia ingin menjalani hubungannya dengan Olivia serius kali ini.


Olivia terlihat menghela nafas, "Kasih aku waktu setidaknya sampai kita lulus sekolah."


"Hahaha kamu bercanda? Enggak, itu terlalu lama!" tolak Septian mentah-mentah.


"Tapi--"


"Sampai ujian selesai, setelah itu kita resmikan hubungan. Dan setelah itu aku pengen kamu sama Dilon gak ada hubungan apapun lagi!" tegas Septian.


Lagi-lagi Olivia menghela nafas berat, merasa terbebani dengan persyaratan yang diberikan Septian. Bisakah Ia mengakhiri hubungan dengan Dilon secepat itu? Walaupun memang mereka sekarang sedang diberikan ujian, tapi tidak mau kalau sampai putus.


Sayangnya Olivia harus melakukan itu, karena Ia sudah menerima syarat Septian dan kekasihnya pun akan segera di bebaskan. Olivia harus memikirkan alasan putus dari sekarang, Kira-kira alasan apa yang tepat yang membuat Dilon bisa percaya?


Merasakan tangannya digenggam lagi, membuat Olivia mengangkat kepala, "Septian, aku mau pulang sekarang," pamitnya.


"Mau kemana? Kenapa buru-buru banget?" tanya Septian protes. Padahal Ia senang sekali berduaan dengan Olivia, apalagi sekarang bisa lebih bebas mengekspresikan perasaannya karena hubungan mereka.


"Aku.. Aku mau ke kantor polisi, ketemu Dilon. Aku cuman mau mastiin sesuatu aja," jawab Olivia jujur. Pria itu tidak akan menentangnya kan?

__ADS_1


Septian terlihat mendengus kasar, merasa tidak terima, "Kamu gak percaya kalau aku sudah cabut gugatan ke dia?"


"Percaya kok, makanya sekarang aku mau mastiin dan tanyain langsung ke dia." Olivia berusaha meyakinkan Septian agar mengizinkannya pergi.


Akhirnya setelah dibujuk beberapa kali, Septian pun mengangguk membiarkan membuat Olivia dapat bernafas lega sejenak. Saat ini Ia memang ingin bertemu Dilon, mungkin juga untuk yang terakhir kali karena sebentar lagi hubungan mereka akan berakhir.


Olivia pulang di antar Septian sampai ke depan, sempat pria itu akan mengantarnya ke kantor polisi, tapi Olivia tolak cepat karena membawa mobil sendiri. Mereka pun berpisah juga, membuat Olivia tidak lagi merasa tertekan di sisi Septian.


Sepanjang perjalanan Olivia hanya diam fokus pada jalanan, perasaannya sekarang campur aduk sekali. Tidak tahu harus bersikap bagaimana nanti saat bertemu Dilon, tapi biarkanlah Ia hari ini menghabiskan waktu bersenang-senang dengan kekasihnya itu.


Saat Dilon bertemu dengannya, senyuman di bibir pria itu terlihat lebar. Dengan langkah lebarnya mendekat lalu memeluk Olivia erat, "Olivia, aku bebas. Akhirnya aku bisa keluar dari sini!" katanya dengan suara keras penuh kesenangan.


"Serius? Ya ampun selamat ya, aku juga ikut senang." Olivia bereaksi seperti baru tahu, jangan sampai Dilon membaca ekspresi wajahnya ini.


Pria itu lalu meregangkan pelukannya, mengecup kening kekasihnya itu beberapa kali mengekspresikan perasaan senang di hatinya. Setelah ini Dilon tidak akan dihinggapi perasaan rindu lagi, karena Ia sudah bebas dan bisa bersama Olivia terus.


Di sana Dilon tidak sendiri, ada pengacara dan seorang asisten suruhan Papanya. Keluarganya pun sudah diberitahu jika Dilon bebas hari ini, sidang keputusan pun tidak akan dilanjutkan. Semua orang di sana terlihat bahagia, tidak terkecuali Olivia.


"Em kalau boleh tahu, kenapa bisa kamu bebas?" tanya Olivia pura-pura tidak tahu.


Dilon mengedikkan bahunya, "Pak Hendra bilang si pengecut itu cabut laporannya, gak tahu kenapa dia tiba-tiba begitu. Padahal kami belum sempat ketemu, aku juga gak mau sih minta maaf sama dia," jawabnya.


"Tapi kayanya kamu harus bilang makasih deh setidaknya sama Septian, mau gimana pun dia sudah bebasin kamu." Olivia lalu membawa kedua tangan Dilon ke genggamannya, "Aku juga pengen kamu sama dia gak ada masalah lagi."

__ADS_1


Sayangnya Olivia tidak bisa memastikan sendiri, karena Ia malah akan berhubungan dengan Septian nanti. Tetapi tidak salahkan berharap kalau dua lelaki itu bisa akur? Selalu saja ribut, dan inti masalahnya itu ya dirinya.


Olivia setia menemani Dilon di sana, pria itu baru diperbolehkan pulang satu jam kemudian setelah diberikan beberapa kata-kata oleh polisi. Tetapi Dilon akan pulang dengan Olivia, sepertinya mereka pun akan menikmati waktu bersama dulu. Hari pun masih siang.


"Ahh rasanya udara di luar seger banget," desah Dilon sambil menghirup rakus udara di perjalanan. Ia bahkan membuka kaca mobil dan melengokan kepalanya sedikit keluar.


Olivia yang sedang menyetir menoleh sekilas melihat aksi kekasihnya itu, dibuat terhibur sendiri tapi juga mengerti, "Memangnya gimana rasanya udara di dalam sel?" tanyanya penasaran.


"Hm rasanya sumpek, bosen gak bisa ngapa-ngapain. Seneng banget akhirnya bisa keluar lagi lihat pemandangan kota Jakarta," kata Dilon yang terkesan lebay, padahal di penjara pun baru beberapa hari. Maklum ini kan pertama kali.


"Makanya lain kali jangan nakal lagi ya, kamu juga harus jaga sikap dan emosi kamu itu. Jangan sampai terulang kedua kali, karena kamu juga yang nanggung sendiri kesalahan kamu," ucap Olivia menasehati.


Memang sih Olivia sadar Dilon di hukum pun karena dirinya, tapi Ia dan Septian pun tidak melakukan hal aneh-aneh. Dilon memang harus belajar untuk bisa mengontrol emosi nya itu, tidak bisa seperti ini terus karena Olivia akan dibuat khawatir sendiri.


Cukup lama mereka berputar-putar, Olivia sengaja mengajak Dilon sedikit jalan-jalan karena pasti butuh hiburan setelah beberapa hari di dalam sel. Perjalanan mereka berakhir di sebuah tempat wisata yang pemandangan alamnya masih khas dan alami. Cukup besar, tidak banyak juga yang datang ke sana.


"Dilon, kamu mau teriak?" tawar Olivia sambil menggoyangkan tautan tangan mereka. Kebetulan mereka berdiri di tebing, di bawah banyak pepohonan.


Dilon menoleh pada kekasihnya itu, "Hahaha enggak ah malu, lagian aku gak papa kok. Bisa sama kamu terus aja buat aku seneng," jawabnya sambil tertawa kecil.


Olivia merasa terharu mendengar itu, Ia pun menyenderkan kepalanya di bahu pria itu sejenak. Selamanya ya? Entahlah, karena Ia merasa kebersamaan mereka tidak akan lama lagi. Berat sekali harus berpisah, tapi Ia harus menepati janji.


***

__ADS_1



__ADS_2